Istilah Panca Sora muncul dari ide kreativitas anak, Panca diartikan sebagai Lima klaster hak anak dimana anak-anak menyampaikan isu/permasalahan serta harapan terkait klaster-klaster tersebut, sementara Sora diartikan sebagai suara anak yang disajikan secara kreatif melalui pertunjukan seni budaya. Suara anak dikemas dalam berbagai bentuk karya seni budaya seperti lagu original, festival/helaran, tari tradisional, wayang golek, angklung masal, dan kabaret. Kegiatan ini merupakan kegiatan pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menciptakan pendekatan baru partisipasi anak dalam perencanaan pembangunan yang lebih ramah anak.