Dedikasi Adel untuk Isu Stunting, Jadikan Pengalaman Sebagai Guru Terbaik

Cerita Penggerak

Kita harus berarti untuk diri sendiri sebelum menjadi orang yang berharga bagi orang lain.” – Ralph Waldo Emerson.

Kutipan tersebut tepat disematkan kepada Novamindel Tatuin, Staff Dukungan Teknis Save the Children untuk Program Better Investment for Stunting Allevation (BISA) di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Bergabung dalam program yang berfokus pada kesehatan, Adel – sapaan akrabnya – ternyata punya cerita tersendiri.

Saat baru bergabung dengan Save the Children, usia anak Adel sedang menuju 3 tahun. Saat kunjungan rutin ke posyandu, anak Adel justru masuk dalam kategori stunting karena berat badannya tidak mencapai batas minimal. Sebagai seorang yang memang besar di dunia kesehatan, Adel tentu kaget. Ia lantas mengevaluasi dirinya sendiri.

“Memang waktu itu dia pernah sakit selama hampir 1 bulan dan rutin pengobatan. Waktu setelah ditimbang, dia dimasukkan dalam kategori stunting,” kenang Adel.

Cerita tersebut pun menjadi momen paling berkesan bagi Adel selama bekerja di Save the Children. Selain memberikan dampak bagi orang lain, kinerjanya ternyata berdampak pula untuk anaknya bahkan dirinya sendiri. Pasalnya, Adel segera mengambil langkah tanggap dalam menangani kasus tersebut dengan turut menjadi peserta dalam kegiatan-kegiatan program.

Ilmu penting yang ia dapat adalah tentang teknik dan cara pemberian makan. Ternyata, makanan yang anak terima haruslah sesuai dengan kebutuhan gizi sang anak. Tidak bisa asal memberikan makanan dalam jumlah banyak hanya berdasarkan pertimbangan pemenuhan energi.

“Waktu itu anak saya dianjurkan untuk konsumsi telur rebus minimal 1 dalam sehari, direbus sampai betul-betul matang. Kebutuhan dia memang di gizi, jadi bisa digabung dengan tempe atau ikan atau sayur. Itu rutin saya lakukan sampai 6 bulan berikutnya pas ke posyandu, anak saya bisa keluar dari stunting,” jelas Adel.

Setiap proses adalah sebuah pengalaman yang dijadikan pembelajaran. Dari situ, ia pun sadar bahwa perlu ada perubahan dalam pola perilaku masyarakat terkait kesehatan. Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Hal tersebut pun sejalan dengan materi yang dibagikan kepada masyarakat melalui Program BISA.

Salah satunya, kegiatan Emotional-Demonstration atau Emo-Demo, di mana para kader yang menjadi mitra dari Proram BISA meneruskan informasi kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu/pengasuh balita melalui metode edukasi interaktif untuk menggugah emosi ibu/pengasuh balita dalam memperbaiki kualitas Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), sesuai tahap tumbuh kembang anak.

“Selama bekerja mendampingi para kader, perlahan saya juga belajar. Bahwa saya juga seorang ibu yang perlu mempelajari tentang pemberian asupan bergizi ataupun hygiene ibu dan anak. Pekerjaan ini membantu saya mendapat informasi yang sangat berguna bagi saya dalam merawat serta membesarkan anak,” jelasnya.

Adel memang besar di dunia kesehatan. Ia menempuh pendidikan tinggi dengan mengambil jurusan kesehatan masyarakat. Maka tak heran jika ia getol menjalankan beragam usaha agar anaknya bisa benar-benar sehat. Menurut Adel, sehat adalah harta termahal. Setiap orang yang sehat secara otomatis bisa menjalakan aktivitas apapun tanpa ada hambatan.

Melalui program, Adel pun tak henti menekankan kepada masyarakat yang ia kunjungi untuk terus menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Setiap datang ke desa-desa yang berada di pelosok, Adel melihat langsung bahwa hal-hal yang ia pelajari selama ini tidak bisa dipenuhi masyarakat desa.

“Intinya ada makanan, mereka makan. Belum memikirkan cara pengolahan atau kebersihan makanannya, yang penting kenyang. Saat kami baru masuk, banyak sekali sasaran khususnya ibu hamil dan ibu dengan anak balita. Yang menyenangkan adalah mereka semua terbuka dan antusias menerima penjelasan dan materi yang diberikan kader,” terang Adel.

Beragam cerita sukses pun tercipta. Di salah satu desa pelosok, masyarakatnya kini sudah membiasakan diri untuk mencuci tangan setiap sebelum makan. Bahkan membuat wadah sederhana yang dikhususkan untuk mencuci tangan. Mereka menyebutnya tipi tep, yang dibuat dari jeriken kecil.

Dari cerita-cerita tersebut, jelas Adel, dirinya pun semakin merasakan dampak positif atas kinerjanya. Hal-hal yang selama ini ia sampaikan rutin melalui program, ternyata diterima dengan baik oleh masyarakat. Ia pun bahagia karena bisa menjadi saksi dari perubahan tersebut. Perubahan sederhana, namun sangat berarti.

“Memang di awal itu susah karena mengubah pola perilaku, pola pikir dari masyarakat. Menambah pengetahuan ke masyarakat untuk berubah itu gak mudah. Tetapi perlahan demi perlahan kami masuk, menyentuh mereka, terakhirnya mereka juga mau berubah,” pungkas Adel.

Teks: Susmita Eka Putri / Save the Children
Foto: Novamindel Tatuin / Save the Children
Skip to content scroll to top button