Berita

We Nexus Gelar Pelatihan Penguatan Kapasitas Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender di Provinsi Nusa Tenggara Timur 

We Nexus menyelenggarakan Pelatihan Perencanaan dan Penanggaran Desa Responsif Gender di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan di periode bulan April – Mei 2025. Pelatihan ini melibatkan 25 perempuan dari tiap desa. 

Partisipasi perempuan dan orang muda dalam kegiatan perencanaan dan penanggaran didesa masih sangat minim. Berkaitan dengan akses, partisipasi, control dan manfaat di desa perempuan dan orang muda masih belum maksimal karena jarang terlibat dalam musyawarah-musyawarah di desa. Dampaknya,  program-program yang responsive gender di level desa masih minim. Hal ini tentu punya kemiripan di wilayah kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan.  

Kehadiran program We Nexus membawa perubahan yang signifikan. Program ini memberikan kesempatan bagi perempuan dan orang muda untuk secara partisipasif didesa terlibat dalam perencanaan dan penganggaran desa yang responsif gender dan inklusif. 

“Selama kegiatan 2 hari ini saya merasa senang karena bisa mengetahui apa isu kesetaraan gender, peran laki-laki maupun perempuan. saya juga bisa mengetahui cara musrembang desa yang sebenarnya dan bisa tahu kalau perempuan itu sebenarnya bisa tapi selalu dipandang tidak bisa oleh kalangan masyarakat,” ungkap Irrine Saijob, Forum Perempuan. 

Forum Perempuan di desa tersebut terdiri dari 25 anggota yang dengan anggota perempuan dan perwakilan laki-laki sebagai bentuk dukungan laki-laki untuk terciptanya kesetaraan gender di desa. 

“Dalam Program We Nexus ini salah satunya menargetkan untuk Perempuan memiliki kapasitas dan kepemimpinan didesa untuk menciptakan perdamaian. Dari kegiatan pelatihan ini, perempuan dan orang muda diajak untuk belajar memetakan masalah prioritas didesa, anggaran responsif gender, mekanisme perencanaan dan penganggaran, hak perempuan dan orang muda untuk berpartipasi dalam musrembang, Advokasi dana desa dan simulasi advokasi dalam musrembang,” jelas Alfes Lopo, Yayasan Cis Timor Indonesia. 

“Harapan kami agar Pemerintah Desa membuat kebijakan agar kedepan didesa terselenggaranya musyawarah tematik bagi  perempuan dan orang muda. Untuk semua yang hadir saat ini menjadi model, kalau berjalan baik untuk perempuan dan orang muda di desa maka akan baik untuk rencana desa ke depan yang responsif gender dan inkusif,” tambah Alfes. 

Augusto Fernandes, kepala desa dampingan, mengungkapkan apresiasinya kepada Save the Children dan Yayasan CIS Timor Indonesia atas pendampingan yang telah diberikan kepada desanya. 

Sebagai bentuk dukungan, pemerintah desa memberi dukungan dengan menerbitkan SK Forum Perempuan untuk memastikan posisi forum perempuan kedepannya ditingkat dalam dalam perencanaan dan penganggaran desa. Ia juga menekankan pentingnya peran para peserta sebagai model bagi masyarakat desa, dengan memanfaatkan pengetahuan dan ketrampilan yang mereka dapat untuk mempengeruhi perempuan dan orang muda desa yang tidak hadir saat ini. 

“Terima kasih untuk Save the Children dan Yayasan CIS Timor Indonesia karena sudah mendampingi Desa Kami. Kegiatan seperti ini memang tidak pernah dilakukan didesa, kalaupun ada kegiatan didesa tentu lebih ke kegiatan pelatihan tentang ekonomi. Menurut saya ini kegiatan yang luar biasa sehingga penting untuk semua yang hadir hari ini mengikuti dengan baik dan bisa membagikan informasi kepada yang lain,” ujar Augusto Fernades, Kepala Desa. 

Di salah satu desa dampingan program We Nexus, hadirnya Forum Perempuan memberikan dampak positif bagi perempuan, termasuk Yezrela dan Mama Yane. 

Yezrela, seorang ibu rumah tangga, sebelum bergabung dengan Forum Perempuan, ia tidak pernah mengikuti pelatihan seperti ini dan tidak pernah hadir dalam kegiatan musyawarah didesa. 

“Setelah mengikuti pelatihan perencanaan dan pengaanggaran desa dan masuk sebagai anggota Forum Perempuan, hal baru yang saya dapat yaitu lebih percaya diri, mendapat banyak ilmu diantara lebih mengetahui tentang gender, advokasi dana desa dan perencanaan dan penganggaran desa. Harapan kedepannya ada kegiatan yang melibatkan lebih banyak perempuan,” Yezrela, anggota Forum Perempuan. 

Sementara itu, Mama Yane mengatakan bahwa selama ini di desanya tidak pernah terlibat dalam kegiatan seperti ini. 

“Saya akan menjadi Perempuan Hebat untuk mempengaruhi dan berbagi untuk perempuan-perempuan khsususnya di RT tempat saya tinggal,” ungkapnya. 

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang Perencanaandan Penganggaran Desa Responsif Gender dan terampil untuk terlibat, memahami konsep perencanaan dan penganggaran desa yang responsif gender serta dapat melakasanakan Advokasi Perencanaan dan Penganggaraan didesa uang responsif gender Kegiatan ini difasilitasi langsung oleh Para Fasilitator yang kompeten pada isu ini.  

Kegiatan Pelatihan Penguatan Kapasitas Perencanaan dan Penganggaran Desa Responsif Gender dilaksanakan di tujuh desa dampingan di Kabupaten Timur Tengah Selatan dan Kabupaten Kupang pada bulan April sampai Mei 2025. Peserta pelatihan merupakan para perempuan dan orang muda. 

“Terima kasih untuk dukungan pemerintah desa yang memberikan dukungan berupa SK Forum Perempuan. Kiranya Surat Keputusan Forum Perempuan ini menjadi dasar untuk kedepan dapat terselenggaranya kegiatan musyawarah tematik bagi perempuan dan orang muda dan adanya kebijakan dalam melibatkan perempuan dalam perencanaan dan penganggaran di desa yang responsif gender dan inklusif,” ujar Roby Lay, Humanitarian Specialist, Save the Children Indonesia 

Dengan dukungan pendanaan dari KOICA melalui UN Women, Save the Children bersama mitra Yayasan CIS Timor Indonesia melaksanakan program We Nexus – Pemberdayaan Perempuan untuk Perdamaian Berkelanjutan di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan yang dilaksanakan mulai Agustus 2024 hingga Juni 2026. 

Pembangunan desa yang inklusif adalah mimpi bersama yang perlu dibangun disemua desa agar dalam pembangunan desa baik dari perencanaan sampai pada level penganggaran tidak ada satupun orang yang ditinggalkan atau mengedepankan prespektif gender dalam pembangunan desa. 

Scroll to Top