Peduli demi Resiliensi, Semangat Save Our Education dari NTT

Badai Seroja yang terjadi di Nusa Tenggara Timur pada awal April 2021 lalu masih berdampak pada sebagian anak-anak di Kupang. Di beberapa wilayah, tempat tinggal mereka masih rusak dan belum dapat ditempati. Hal ini tentu saja turut berdampak pada kegiatan belajar anak-anak di rumah.

Tim tanggap darurat Save the Children di Kupang menginisiasi ruang ramah anak, yang sekaligus menjadi tempat memberikan dukungan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana. Tim berkolaborasi dengan penduduk sekitar dan mengajak mereka untuk terlibat langsung dalam kegiatan ruang ramah anak di sejumlah titik pengungsian.

Salah satu sesi kegiatan literasi bersama anak-anak penyintas siklon Seroja di Kupang.
(Foto: Purba Wirastama / Save the Children)

Jelita, remaja berusia 17 tahun, adalah salah satunya. Awalnya Jelita bergabung sebagai peserta kegiatan. Dalam seri kegiatan selanjutnya yang berfokus pada tema literasi, Jelita ikut menjadi fasilitator dan berbagi semangat kepada anak-anak di komunitasnya.

Kegiatan literasi itu dilakukan di taman kota dekat tempat tinggal Jelita. Di sini, anak-anak belajar dan sekaligus bersenang-senang. Mereka diajak membuat cerita lewat teks dan gambar. Ada juga sesi kuis dan permainan.

“Kita bisa membantu adik-adik terkait kondisi psikis mereka agar mendorong mereka untuk tidak terlalu ketakutan dengan apa yang mereka alami di badai baru-baru ini,” ungkap Jelita.

Semangat Jelita adalah semangat yang juga disuarakan oleh Save the Children lewat kampanye Save Our Education. Kampanye ini mengajak masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak terkait untuk bersama memastikan anak-anak dapat mengakses pendidikan berkualitas dalam lingkungan aman. Terlebih dalam kondisi pandemi atau darurat.

Jelita adalah salah satu cerminan semangat itu. Dia mempunyai kepedulian terhadap komunitasnya dan membantu anak-anak supaya bisa tetap belajar dan bersenang-senang dalam lingkungan aman.

Bersama Jelita dan para relawan lain, tim tanggap darurat Save the Children tidak hanya mewujudkan ruang ramah anak, tetapi juga menerapkan protokol kesehatan pada masa pandemi COVID-19. Tidak mudah menerapkan kebiasaan patuh protokol kesehatan bagi masyarakat terdampak dalam situasi darurat. Butuh waktu tidak sebentar untuk dapat membiasakan anak-anak dan orang dewasa menggunakan masker dalam beraktivitas sehari-hari. Namun lambat laun, kebiasaan tersebut mulai terbangun.

Terkait Save Our Education, salah satu kegiatan kampanye ini di Kupang adalah menyelenggarakan dialog tentang kesiapsiagaan bencana pada Selasa, 27 April 2021.

Penandatanganan komitmen untuk mewujudkan sistem peringatan dini yang ramah anak dan memastikan pendidikan anak dalam situasi darurat terpenuhi.
(Foto: Purba Wirastama / Save the Children)

Dialog ini bertajuk “Pendidikan Anak dalam Situasi Darurat dan Sistem Peringatan Dini yang Ramah Anak”. Pembicara yang terlibat adalah Kepala Biro Humas Setda NTT Jelamu Ardu Marius yang mewakili Pemerintah Provinsi NTT, Koordinator BMKG NTT dan Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Kupang Margiono, Ketua Gerakan Nasional Literasi Digital (Siberkreasi) Yosi Mokalu, dan Penasihat Program Pengurangan Risiko Bencana Save the Children Fredy Chandra. Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana NTT Buce EY.

Inisiatif diskusi ini mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan karena secara lokal isunya masih jarang dibahas secara terbuka.

Pada akhir kegiatan, Save the Children menginisiasi komitmen bersama para pemangku kebijakan di Provinsi NTT, untuk “Mewujudkan Sistem Peringatan Dini yang Ramah Anak dan Memastikan Hak Pendidikan Anak dalam Situasi Darurat Terpenuhi”. Komitmen bersama ini melibatkan Save the Children Indonesia, Pemprov NTT beserta Dinas Pendidikan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, BMKG NTT, BPBD NTT, Forum PRB NTT, Polda NTT, serta Korem 161/Wirasakti NTT.

Scroll to Top