
Kemampuan berpikir kritis adalah bekal penting di era informasi yang berlimpah. Hal ini dapat dilatih dan dibiasakan sejak usia dini sehingga anak tidak hanya menyerap informasi, tapi juga mampu untuk memahami, menganalisis, membuat kesimpulan dan pertanyaan baru dari ragam informasi yang mereka dapat.
Amy Morin, dalam buku 13 Things Mentally Strong Parents Don’t Do menjelaskan bahwa keterampilan berpikir kritis adalah kemampuan untuk membayangkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi untuk menentukan integritas dan validitasnya, apakah faktual atau tidak.
Membangun kemampuan berpikir kritis pada anak sangat dipengaruhi oleh interaksi sehari-hari sejak usia dini. Misalnya dengan menyajikan informasi yang berkualitas pada anak melalui buku, membiasakan anak menjawab pertanyaan terbuka, memberi ruang dan waktu untuk anak melakukan eksperimen, serta mengajarkan anak untuk memecahkan masalah.
Mendidik anak untuk dapat berpikir kritis juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan pendidikan prasekolah bernama Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk anak 0-6 tahun. Di Indonesia, PAUD terbagi ke dalam beberapa jenis, yaitu Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), Taman Kanak-kanak (TK), dan Taman Kanak-kanak Luar Biasa.
Dilansir dari laman resmi Kemdikbud, menurut Prof. Dr. Lydia Freyani, Dewan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, kegiatan di PAUD dapat memberi rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak usia prasekolah.
Melalui PAUD, anak akan belajar mengenai kejujuran, disiplin, dan berbagai hal positif lainnya. Anak juga akan memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik karena terbiasa untuk bermain, belajar, dan makan bersama dengan teman-teman sebayanya.
Selain PAUD, ada juga Pos Baca yang dapat dimanfaatkan untuk menguatkan ketertarikan anak di bidang literasi. Pos Baca bertujuan untuk mendorong keterampilan anak dalam membaca di luar jam sekolah, atau wadah kegiatan keaksaraan di tingkat masyarakat. Pos Baca terbuka untuk segala usia, umumnya untuk anak yang sudah duduk di Sekolah Dasar.
Pos Baca mendorong anak belajar literasi secara menyenangkan dan fleksibel. Anak akan diberikan ruang untuk bermain bebas, lalu diarahkan untuk mengikuti kegiatan kreatif seperti bernyanyi, melukis, membuat agenda belajar bersama, membaca buku cerita, menulis cerita, dan membiasakan anak membuat jurnal sederhana tentang aktivitas mereka sebagai hasil pembelajaran.
Berbagai kegiatan anak di Pos Baca akan membangkitkan kecintaan anak terhadap kegiatan literasi, serta minat membaca dan menulis anak-anak di kemudian hari. Melalui berbagai kegiatan literasi, anak diharapkan dapat mengetahui dan menjelajai banyak hal di dunia.
Berbagai hal positif yang bisa anak dapatkan di PAUD dan Pos Baca akan sangat dipengaruhi dengan berbagai sarana belajar yang tersedia, salah satunya adalah mainan edukatif untuk anak. Bagi anak, mainan tidak hanya berfungsi untuk menghibur, tapi juga alat belajar yang bermakna dan banyak manfaatnya.
Melalui mainan, kemampuan motorik anak yang belum sempurna dapat dilatih dengan menggenggam, melempar, dan mengangkat mainannya. Anak juga dapat menjadi semakin kreatif dan berpikir logis karena harus mengikuti urutan atau aturan sederhana sesuai dengan permainan yang dimainkan.
Misalnya anak bermain susun balok, anak akan berfikir bahwa balok yang besar lebih baik jika diletakkan di bagian bawah sebagai pondasi sehingga tidak menggangu keseimbangan bangunan yang dibuatnya. Hal-hal sederhana inilah yang penting untuk mengembangkan kemampuan anak berpikir logis dan kritis terhadap masalah yang dihadapinya.
Mengingat pentingnya pendidikan anak sejak usia dini, Save The Children sebagai organisasi yang mempromosikan hak-hak anak, termasuk di bidang pendidikan, menyediakan bantuan untuk mendukung anak-anak, termasuk untuk mendapatkan akses layanan pendidikan, serta peningkatan kualitasnya, khususnya bagi anak-anak termajinalkan yang tidak selalu mendapatkan akses atau kesempatan yang sama karena letak geografis, keterbatasan infrastruktur penduduk, kondisi ekonomi dan sosial, dan lainnya. Salah satu penelitian telah menunjukkan bahwa investasi sebesar US$1 untuk sekolah usia dini, akan menyelamatkan hingga US$7 di saat mereka dewasa nanti.[1]
Sejak tahun 2016, bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Save the Children Indonesia memulai program Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) yang dirintis di 6 PAUD si 6 Kecamatan.
Beberapa hal yang dilakukan adalah mendesain dan merehabilitasi beberapa bangunan PAUD di Kabupaten Sumba Barat yang integratif dan dapat dimanfaatkan untuk layanan Pendidikan, Posyandu, dan Pengasuhan. Save The Children juga membantu menyediakan berbagai buku anak dan alat peraga untuk proses belajar anak, selain memberikan sarana pengembangan profesionalisme para guru dan pengawas sekolah.
Save The Children juga membangun lebih dari 40 Pos Baca di Sumba[2] untuk meningkatkan akses, layanan pendidikan untuk hampir 1000 anak di Sumba, dengan menyediakan fasilitas belajar yang dibutuhkan di pos baca dengan bantuan hampir 20 relawan.
Â
Â
[1] https://www.washingtonpost.com/news/fact-checker/wp/2015/04/20/obamas-claim-that-every-dollar-spent-on-pre-kindergarten-education-earns-7-back/
[2] https://posbaca.org/381-2/