“Saya dipilih oleh wali kelas untuk menjadi agen perubahan. Teman-teman yang memang mengalami perundungan, bisa menceritakan kepada agen perubahan karena memang mungkin mereka tidak berani menceritakan hal tersebut kepada wali kelas, guru BK, dan yang lainnya,” kata Salsabilla (14).
“Saya sekarang mulai mengetahui tentang macam-macam kekerasan di sekolah,” kata Fadlan (13).
“Ternyata benar ya, perempuan itu boleh punya mimpi yang tinggi. Tidak hanya laki-laki saja yang boleh kerja di luar rumah, tapi perempuan juga boleh punya mimpi dan boleh kerja di luar rumah,” kata Habibah (15).
“Dia membangun pondasi kesadaran siswa sehingga mereka sedikit demi sedikit membangun rasa percaya diri, keterampilan, dan lain sebagainya,” kata Fety Pamungkasari, Guru Bimbingan Konseling SMP.
“Setelah mendapatkan pelajaran kelas parenting, saya bersama suami melakukan kerja sama untuk menentukan bagaimana hal-hal positif yang harus diterapkan ke anak,” kata Ainun Hasanah, salah satu orang tua siswa.
Modul Choices, program edukasi yang digagas oleh Save the Children untuk membangun karakter positif remaja berbasis kesetaraan gender, telah diterapkan oleh sekolah-sekolah di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung. Bahkan, sejumlah sekolah sudah menjadi mitra program untuk melakukan pengimbasan modul ini ke sekolah-sekolah lain. Modul ini dikembangkan dan diterapkan dalam Program We See Equal, kolaborasi Save the Children, P&G, pemerintah daerah, dan sekolah-sekolah.
Beberapa anak-anak murid, guru, kepala sekolah, dan orangtua mengungkapkan cerita mereka, bagaimana program ini telah membawa perubahan di sekolah dan di rumah.
Simak cerita pengalaman mereka dalam video berikut.