Cerita Program

Mendukung Perkembangan Anak lewat Modul Choices We See Equal 

Beberapa anak sedang duduk bersama siang itu. Tiga di antaranya adalah Sani, Hizcka, dan Rasyid; kelas VIII di salah satu SMP di Jawa Barat. Saat mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun lalu, mereka mendapatkan sesi edukasi Modul Choices dari Save the Children

Modul Choices adalah sebuah program edukasi untuk membangun karakter positif anak berbasis kesetaraan gender yang digagas oleh Save the Children. Ada lima sesi dalam program tersebut, yakni Jendela Mimpi, Pink atau Biru, Peta Tubuhku yang Berubah, Saya Berhak Dihormati, serta Lindungi Dirimu dan Orang Lain.

Sani, Hizcka, dan Rasyid sepakat bahwa program tersebut sangat menyenangkan. Mereka juga punya jawaban masing-masing dan memiliki ketertarikan personal terhadap setiap sesi.

Hizcka lebih dulu bercerita bahwa dia menyukai sesi Saya Berhak Dihormati. Baginya, tidak ada hal yang membedakan penghormatan terhadap laki-laki dan perempuan.

“Contohnya, seperti ada orang yang bilang kalau cewek itu lemah, apa-apa harus sama laki-laki. Tapi enggak, sebenarnya cewek juga bisa,” ungkap Hizcka.

Hizcka
Sani
Rasyid

Sani menimpali. Dia menganggap sesi Jendela Mimpi lebih menarik. Dia merasa lebih percaya diri setelahnya.

“Nah di situ itu, aku pernah mimpi menjadi bisa kenal sama banyak orang dan membantu mereka. Dan sekarang aku juga masih ingin kenal dengan banyak orang dan tetap membantu mereka semua dengan baik,” kata Sani.

“Kalau saya paling ingat sesi Peta Tubuhku,” sambung Rasyid. 

Dia mengakui bahwa sesi tersebut memberinya ilmu mengenai perubahan tubuh pada remaja. Misalnya, laki-laki mengalami pertumbuhan jakun di leher dan rambut di area kaki.

Kata Rasyid, “Yang harus saya lakukan itu, seperti tidak boleh malu dengan perubahan tersebut. Selain itu, juga harus semakin bisa berpikir dewasa dan melakukan pengendalian emosi.”

Mengenali Mimpi, Stereotip, Pubertas, Penghormatan, dan Perlindungan

Modul Choices merupakan bagian dari program pendidikan anak Save the Children melalui We See Equal Project bersama P&G di Jawa Barat. Program ini bertujuan untuk mempromosikan kesetaraan gender remaja perempuan dan laki-laki, serta meningkatkan kesadaran atas pentingnya pemahaman dan akses pelayanan kesehatan, pendidikan, dan peluang lain. Di Jawa Barat, program ini dijalankan di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur lewat kerja sama dengan pemerintah daerah dan pihak sekolah.

Langkah strategis penerapan modul Choices di sekolah dilakukan melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), saat murid baru kelas VII diperkenalkan tentang orientasi sekolah. Pada saat ini, status murid lulusan SD sudah berubah menjadi murid SMP. Program ini ditujukan khusus kepada anak-anak usia pubertas, yakni 10-14 tahun. Usia ini menjadi masa transisi anak ke remaja, yang mana kondisi lingkungannya pun ikut berubah.

Save the Children Internasional pernah menerapkan Modul Choices di beberapa negara lain seperti Bangladesh, Nepal, dan beberapa negara di Afrika. Di Indonesia, konteksnya berbeda. Program ini menyesuaikan aspek sosio-kultural dan ekologis masyarakat di mana program ini diterapkan.

Seorang murid SMP menggambar cita-citanya dalam sesi di kelas. (Foto: Angger Timur / Save the Children)

Pada awalnya, Modul Choices berisi 10 sesi atau materi. Saat ini, modul disederhanakan menjadi lima materi berdasarkan hasil diskusi tim Save the Children dengan anak-anak peserta diskusi kelompok terpumpun (FGD). Berikut lima materi Modul Choices.

  1. Jendela Mimpi, bercerita tentang mimpi, upaya untuk mengajak anak-anak meraih hak atas mimpinya, serta mengalihkan perhatian anak pada kegiatan positif.
  2. Pink atau Biru, berbicara tentang isu kesetaraan gender dan gambaran identifikasi mengenai peran yang sama bagi laki-laki dan perempuan. Stereotip warna pink atau merah mudah khusus untuk perempuan atau warna biru khusus untuk laki-laki tidak lagi menjadi pegangan. 
  3. Peta Tubuhku, menceritakan masalah tentang perubahan yang terjadi pada tubuh saat anak-anak masuk ke fase pubertas, risiko yang perlu dihadapi, serta gambaran mengenai fenomena terkait, seperti bahaya kekerasan seksual, bahaya hubungan seksual di luar perkawinan dan dampaknya terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, dan masalah perkawinan anak.
  4. Saya Berhak Dihormati, menjelaskan bahwa sikap menghormati perlu diupayakan dengan perbuatan baik tanpa melihat batasan gender, seperti melalui upaya tolong menolong, membantu orang lain, dan menghindari pilihan untuk melakukan hal negatif seperti bolos sekolah/belajar dan tawuran antar pelajar/sekolah.
  5. Lindungi Dirimu dan Orang Lain, berbicara tentang lima jenis kekerasan serta ciri dan bahayanya, yaitu kekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran, dan eksploitasi. Para murid dihimbau untuk melakukan identifikasi atas hal tersebut, kemudian menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Saat mereka menemukan  salah satu ciri jenis kekerasan tersebut, mereka mengetahui cara untuk menghadapi dan kepada siapa mereka perlu segera berkomunikasi atau melaporkan kejadian itu.

Pelatihan Berjenjang bersama Organisasi Perangkat Daerah, Guru, dan Murid

Sekolah adalah sarana yang tepat dalam menerapkan dan mengajarkan Modul Choices.  Pendidikan karakter anak-anak dilakukan salah satunya lewat pendidikan formal di bangku sekolah, selain melalui pendidikan non-formal dan keluarga. Karena itu, Save the Children mengadakan rangkaian pelatihan berjenjang atau training of trainer untuk Modul Choices, bekerja sama dengan Organisasi Perangkat Daerah, khususnya beberapa dinas terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Sosial, Bappeda. Berikutnya, mereka melatih para guru terpilih dari sekolah dampingan.

Pada saat itulah tim membentuk kelompok fasilitator beranggotakan para guru sekolah. Berikutnya, kelompok guru fasilitator mengadakan sesi edukasi untuk anak-anak murid. 

Guru dilibatkan secara langsung sebagai pendamping sebab program ini. Bukan hanya untuk sekali kegiatan, tetapi menjadi kegiatan jangka panjang melalui kesempatan di sekolah masing-masing. Para murid kelas IX di beberapa sekolah juga terlibat membantu guru melaksanakan fasilitasi kepada adik kelas atau anak-anak murid baru.

Program Modul Choices sudah berjalan empat tahun di Indonesia sejak tahun 2018. Salah satu tantangan awal adalah bagaimana program ini bisa dihadirkan di sekolah-sekolah di Jawa Barat. Perbedaan cara berpikir menjadi persoalan awal. Tidak semua guru mampu menerima materi, misalnya pembahasan tentang anggota tubuh bagi anak-anak remaja, sebab merasa topik itu “kurang pantas”.

Beberapa guru masih merasa tabu jika harus menyampaikan beberapa hal, seperti alat reproduksi, menstruasi, mimpi basah, dan isu seputar pubertas remaja. Sudut pandang demikian menjadi salah satu tantangan positif sehingga pencapaian keselarasan terus diperjuangkan. 

Andri Purwantoro, salah satu staf program di Save the Children, menyebutkan bahwa mereka mengupayakan Modul Choices untuk dapat menjadi program resmi pemerintah. Karena itu, tim program gencar melakukan komunikasi dengan beberapa pihak.

“Peran kita adalah melakukan mediasi dan akselerasi terhadap program pemerintah yang sudah ada. Nah, kita mencoba melakukan elaborasi, kita mengundang juga bagaimana pendapat-pendapat yang lain,” kata Andri. 

Fasilitator dari Save the Children memandu sebuah sesi di salah satu SMP dampingan program We See Equal di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. (Foto: Angger Timur / Save the Children)

Hingga saat ini, salah satu keberhasilan advokasi program adalah Surat Instruksi Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Cianjur terkait Pengimbasan Sekolah untuk Program We See Equal. Pengimbasan sekolah artinya, 15 SMP yang telah didampingi Save the Children kini ditunjuk menjadi pendamping sekolah lain, masing-masing lima SMP. Dengan demikian, total ada tambahan 75 SMP negeri, swasta, dan madrasah di Cianjur yang menerapkan Program We See Equal dengan menggunakan Modul Choices.

Tantangan berikutnya adalah pemahaman fasilitator mengenai Modul Choices. Hal ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni kemampuan fasilitasi, kualitas informasi, dan distribusi informasi fasilitator kepada para siswa. Tim program Save the Children terus mengupayakan kapabilitas fasilitator supaya semakin matang sehingga penyampaian materi lebih menarik dan tidak membosankan. Sebab, dasar penerapan dari modul ini sendiri adalah joyful learning, yang artinya diterapkan dengan banyak permainan dan interaktif dua arah agar prosesnya menyenangkan.

Beberapa guru sempat menganggap tabu salah satu sesi Modul Choices, yakni Peta Tubuhku. Namun kondisi ini perlahan-lahan berubah. Para guru sebagai fasilitator mengamati bahwa anak-anak remaja SMP perlu edukasi mengenai isu seputar pubertas. Saat itulah mereka mulai menikmati proses fasilitasi.

Menerapkan Modul Choices di Cianjur dan Bandung

Pada tahun 2020, situasi dunia, termasuk Indonesia, tiba-tiba berubah. Pandemi COVID-19 yang datang pada tahun 2020 memberikan tantangan baru. Semua kegiatan belajar sekolah berubah menjadi daring. Untuk sementara waktu, tidak ada lagi pembelajaran tatap muka. Andri menyebut bahwa perlu ada upaya untuk tetap berkomunikasi dengan anak-anak, walaupun mereka tidak sedang di sekolah.

Modul Choices kemudian mengalami konversi bentuk. Anak-anak remaja SMP mengikuti program ini secara daring. Namun, tidak semua anak punya alat pendukung untuk sistem belajar seperti ini, seperti gawai dan pulsa atau paket data.

“Anak-anak harus berbagi atau berebut gawai dengan orang tuanya. Penyesuaian ini ternyata tidak sesederhana yang kami pikirkan. Akibatnya, tidak semua anak bisa mengikuti penyampaian modul yang diberikan,” terang Andri.

Komunikasi menjadi kurang lancar untuk beberapa daerah jangkauan. Anak-anak harus menyesuaikan diri, mencari tempat nyaman dengan koneksi internet yang baik. 

“Namun kami melihat bahwa itu adalah sebuah ikhtiar yang bisa kita lakukan dengan anak-anak pada saat krisis. Perlu tetap diupayakan agar bisa menjangkau mereka dalam memberikan alternatif edukasi yang mereka butuhkan sesuai dengan konteks pada saat pandemi,” sambung Andri.

Pada pertengahan tahun 2022, penerapan Modul Choices ini sudah berjalan melalui kegiatan MPLS di 30 SMP dampingan. Ini meliputi 15 SMP di Cianjur dengan 3.800 murid dan 15 SMP di Kabupaten Bandung dengan 4.000 murid. Program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan diadopsi menjadi program rutin oleh sekolah dan dinas pendidikan. 

Seorang guru mendengarkan cerita muridnya tentang cita-cita yang digambarkan di kertas. (Foto: Angger Timur / Save the Children)

Hartono (55), seorang fasilitator, guru, dan kepala sekolah di salah satu SMP di Cianjur, berpendapat bahwa Modul Choices penting bagi anak-anak yang baru saja lulus SD dan masuk ke SMP. Dalam isu kekerasan atau perundungan misalnya, Hartono bercerita bahwa banyak kasus di mana anak menjadi korban ataupun pelaku. Ini adalah salah satu alasan mengapa program ini penting sebagai wawasan bagi para murid baru.

“Dari modul ini saya menemukan inspirasi. Contohnya, kami sepakat membuat pakta integritas bahwa kami tidak akan melakukan bullying (perundungan) dan kekerasan – ini dari modul ‘Saya Berhak Dihormati’ dan ‘Lindungi Dirimu dan Orang Lain’. Di sini, orang tua membuat juga pakta integritas di atas materai, tidak akan melakukan perundungan terhadap anak,” tutur Hartono. 

Perhatian Hartono pada kasus anak begitu tinggi. Dia bersama guru-guru lain di sekolah tempatnya mengajar juga membuat pakta integritas. Selain itu, mereka juga membuat kegiatan khusus bersama para murid di luar kelas pelajaran.

“Semua anak dibawa ke lapangan, deklarasi bersama, anak-anak dan guru tanda tangan. Diadakan permainan juga. Anak-anak juga bawa nasi, makan-makan sampai siang. Sekitar satu hari bermain dengan anak. Sampai saat ini, (tingkat) perundungan di kami relatif kecil. Pasti akan ada anak yang bereaksi jika kena dan langsung lapor karena sudah digembar-gemborkan,” tegasnya.

Hartono bercerita, dia sebagai guru dan kepala sekolah telah menerapkan banyak materi dari Modul Choices. Ini mulai dari himbauan untuk melaporkan saat mendapati kasus perundungan, membagi peran gender perempuan dan laki-laki dalam kepemimpinan OSIS, hingga himbauan menjaga sikap dalam komunikasi digital, misalnya tidak mengirimkan pesan atau foto yang memperlihatkan privasi individu.

“Sekarang informasi negatif dari media sosial itu luar biasa. Saya yakin, tidak ada satu sekolah pun atau lembaga mana pun yang bisa menjamin tidak adanya perundungan, termasuk sekolah kami. Perundungan bisa terjadi di sekolah favorit di Jakarta maupun di pelosok. Nah untuk mengantisipasi itu, di antaranya ada Modul Choices. Modul ini tidak menjamin besok lusa tidak ada perundungan, tetapi kalau sudah disampaikan, dampaknya ada dan luar biasa,” ungkap Hartono.

Jendela Mimpi Sani, Hizcka, dan Rasyid

Sani, Hizcka, dan Rasyid masih duduk di tempat yang sama hari itu. Siang mulai menuju sore. Tatapan mata ketiganya tampak optimistis saat bercerita tentang cita-cita. Seperti disampaikan dalam sesi Jendela Mimpi, anak perempuan dan laki-laki mempunyai hak untuk bermimpi.

“Saya ingin menjadi koki karena memasak itu adalah hobi saya dari kecil. Saya terbiasa memasak di rumah bersama ibu. Jika ada hari-hari besar seperti lebaran, saya berjualan kue kering, seperti kue nastar, bersama ibu,” kata Hizcka.

“Cita-cita aku pengin jadi guru. Alasannya karena aku ingin membantu orang-orang yang kurang (mendapatkan akses) di dalam pendidikan. Karena pendidikan itu sangat penting dan orang-orang di sekitarku juga masih banyak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan,” terang Sani.

“Cita-cita aku ingin menjadi tentara. Alasannya karena aku ingin melindungi masyarakat Indonesia dan ingin menghilangkan penjajahan di atas dunia,” kata Rasyid menyambung ungkapan harapan kedua temannya. •

Scroll to Top