Cerita Program

Vaksinasi Malam Hari Bagi Warga di Biringbulu

Petang itu hujan masih belum reda saat Ita tiba di Puskesmas Batumalonro, Kecamatan Biringbulu, Gowa, Sulawesi Selatan. “Hujan terus seharian,” ungkap perempuan satu anak ini sembari masih memakai jas hujannya.

Ita merupakan relawan yang bertugas di Batumalonro. Sebelumnya, ia harus menempuh dua jam perjalanan untuk mengambil stok vaksin COVID-19 di Puskesmas Bontonompo yang berjarak 30 kilometer.  

“Kak Yaya, hanya 2 vial vaksin saja yang tersedia di Bontonompo,” jelas Ita kepada Nurhayati, Koordinator Imunisasi Puskesmas Batumalonro.

Usai menerima dua vial vaksin Pfizer dari Ita, Nurhayati lalu memasukkannya ke dalam cooler box warna biru beserta puluhan spuit, alkohol swab, serta sekotak masker dan sarung tangan karet. Petang itu, Ita dan Nurhayati akan melaksanakan vaksinasi malam hari di Dusun Batureppe, Biringbulu.

Saat itu Azan Isya baru saja berkumandang di masjid seberang Puskesmas saat Nurhayati selesai berkemas. Sembari menunggu azan selesai, ia lalu menuju teras Puskesmas. Yaya, panggilan akrab Nurhayati, lalu menelepon kepala dusun Batureppe.

“Ada mi wargata kumpul pak dusun?” tanya bidan kelahiran tahun 1988 ini.

“Kita kabari mami kalo sudah ada semua pak!” sambungnya lagi.

Seusai shalat Isya, Ita dan Yaya bergegas menuju motor dinas yang terparkir di halaman Puskesmas. Mereka berboncengan menembus gelap malam dan aspal yang basah. Tak sampai 30 menit, keduanya tiba di rumah kepala dusun Batureppe, Daeng Ruppa.

Di atas teras rumah panggung Daeng Ruppa, Ita menata meja, kursi plastik, serta mengeluarkan setumpuk kertas formulir, sementara Yaya menyusun kotak pendingin, spuit, alkohol swab, dan alat ukur tensi di atas meja plastik kecil. Sepasang suami istri yang menunggu sejak Isya di rumah Daeng Ruppa menjadi peserta pertama vaksinasi malam itu.

Warga Dusun Batureppe menerima vaksinasi COVID-19 dari Nurhayati, Koordinator Imunisasi Puskesmas Batumalonro. Vaksinasi COVID-19 dilakukan malam hari agar bisa menjangkau warga yang sehari-hari bekerja di sawah dan ladang. (Muhammad Mubarak Aziz Malinggi/SCF)

Vaksinasi malam hari adalah salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan cakupan vaksinasi di wilayah Puskesmas Batumalonro. Hal ini dilakukan karena mayoritas penduduk adalah petani yang bekerja di sawah dan kebun pada pagi dan siang hari. Ita dan Yaya sudah 14 kali melakukan kegiatan vaksinasi malam hari. Hampir seluruh dusun di wilayah Puskesmas Batumalonro telah dikunjungi.

Dari 647 warga Dusun Batureppe, hampir 90 persennya adalah petani. Mereka biasa pergi ke ladang di pagi hari dan akan kembali saat sore. Oleh karena itu, warga tak sempat mengikuti vaksinasi di Puskesmas yang biasa dilakukan dari pagi hingga siang hari.

“Di dusun ini kebanyakan petani, jadi baru ada di rumah kalau sore hari. Kalau siang urus kebun jagung atau padi di sawah,” jelas Daeng Ruppa.

Kecamatan Biringbulu adalah salah satu area sasaran program percepatan Vaksinasi COVID-19 yang diinisiasi oleh Program Kemitraan Australia Indonesia untuk Ketahanan Kesehatan (AIHSP) bekerja sama dengan Save the Children dan Sulawesi Community Foundation (SCF). Program ini bertujuan meningkatkan cakupan vaksinasi COVID-19 pada kelompok rentan seperti lansia dan disabilitas yang memiliki hambatan dalam mengakses layanan vaksinasi COVID-19.

“Alhamdulillah, sampai jam sembilan malam ini, kita berhasil memvaksin 20 orang termasuk lansia. Kalau menunggu mereka datang ke Puskesmas pasti sulit, tidak hanya karena jarak yang jauh, tapi juga karena mereka tidak memiliki waktu di siang hari. Kita akan terus melakukan vaksinasi dengan cara mendatangi langsung warga agar cakupan vaksinasi meningkat dan kekebalan komunal terbentuk,” tutup Nurhayati.

Scroll to Top