Sejak pekan pertama setelah banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatra, Save the Children Indonesia dan mitra terus mendampingi anak-anak dan keluarga yang terdampak untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka serta membantu proses pemulihan hingga sekarang.
Hingga 26 Juni 2026, dukungan kami telah menjangkau 141.704 jiwa, termasuk 60.470 anak-anak. Bantuan ini menjangkau 208 desa yang tersebar di 68 kecamatan di 16 kabupaten di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Berbagai intervensi dilakukan untuk memastikan anak-anak dan keluarga dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih aman, mulai dari distribusi bantuan kebutuhan dasar, layanan perlindungan anak, hingga dukungan pendidikan dan bantuan tunai.
Memenuhi Kebutuhan Mendesak Sesaat Setelah Bencana Terjadi
Pada hari-hari pertama setelah banjir, banyak keluarga kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar. Salah satunya Edi*, seorang remaja yang menggambarkan kondisi mereka saat itu:
“Kendalanya seperti ini, kayak tempat tidur itu hanya beralas tikar. Toilet juga ada, tapi sering enggak ada air karena kami pakai pompa dan listrik mati. Air minum nanti datang dibeli pemerintah. Terus minyak bensin juga enggak ada, ke mana-mana enggak bisa.”
Merespons situasi darurat tersebut, Save the Children Indonesia bersama para mitra memberikan bantuan kebutuhan dasar, layanan kesehatan dan gizi, dukungan psikososial, serta akses air bersih dan sanitasi bagi 45.532 penyintas, termasuk 21.516 anak. Upaya ini dilakukan untuk membantu keluarga memenuhi kebutuhan paling mendesak sekaligus mengurangi risiko kesehatan pascabencana.
Sebanyak 8.075 rumah tangga menerima paket bantuan berupa makanan siap saji dan bahan pangan, seperti nasi dan sarden, serta perlengkapan kebutuhan dasar, termasuk kasur, selimut dewasa, dan selimut bayi.

Memulihkan Akses Air Bersih bagi Keluarga
Akses air bersih menjadi dampak yang paling dirasakan setelah bencana banjir dan longsor. Hal ini disebabkan karena akses yang terputus akibat timbunan tanah longsor, atau sumber air baku yang tercemar oleh limbah, kotoran, maupun lumpur yang terbawa arus banjir.
Hal ini dirasakan oleh Mawar*, seorang ibu yang memiliki bayi di Aceh Tamiang.
“Yang paling saya sulitkan itu masalah air. Ada air jernih di sumur sebelah, cuma rasanya payau. Air ini sangat penting buat kami, apalagi untuk anak ini (bayi). Kalau enggak bersih, pasti sakit perut, atau muntah.”
Untuk membantu keluarga memenuhi kebutuhan air bersih, Save the Children Indonesia bersama para mitra mendistribusikan lebih dari 150.000 liter air bersih dan membangun 15 instalasi penyaringan air (water filter) di wilayah yang mengalami krisis akses air pascabencana.
Dukungan ini telah menjangkau 6.469 rumah tangga atau 33.554 penyintas, termasuk 5.538 anak, sehingga lebih banyak keluarga dapat kembali mengakses air yang aman untuk minum, memasak, dan menjaga kesehatan anak-anak mereka.

Ketika Ruang Belajar Kembali Terbuka
Lumpur yang menggenangi ruang kelas dan merusak fasilitas membuat sejumlah sekolah terpaksa menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar.
Saat semester genap tahun 2026 dimulai, sebagian ruang kelas telah kembali digunakan setelah dibersihkan. Namun, beberapa ruang lainnya masih mengalami kerusakan sehingga siswa harus belajar di ruang alternatif atau tenda sementara.
Kondisi ini juga dilalui Azam* (12 tahun), seorang anak dengan disabilitas di Sumatra Utara. Banjir merendam sekolahnya dan rumahnya hingga ke plafon dan merusak seluruh perlengkapan sekolah yang ia miliki.
Untuk mendukung pemulihan pendidikan pascabencana, Save the Children Indonesia dan mitra mendistribusikan lebih dari 5.000 Back to School Kit serta membangun lima Ruang Belajar Sementara (Temporary Learning Space/TLS) yang menyediakan 21 ruang kelas dan 16 toilet di berbagai wilayah terdampak.
Dukungan ini membantu 4.101 anak kembali mengakses pendidikan sekaligus memiliki ruang yang aman untuk belajar, bermain, dan berinteraksi.

Mendukung Pemulihan Keluarga Melalui Bantuan Tunai
Selain kebutuhan darurat, banyak keluarga juga menghadapi tantangan untuk memulihkan kehidupan mereka setelah bencana. Untuk membantu proses tersebut, Save the Children Indonesia menyalurkan Bantuan Non-Tunai Multiguna (BantuGuna) kepada 1.000 rumah tangga terdampak banjir dan longsor di Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Tapanuli Tengah.
Salah satu penerima manfaat, Aisyah*, seorang ibu dari tiga anak, menggunakan bantuan tersebut untuk mendukung kebutuhan pendidikan anak-anaknya.
“Uang satu juta ini akan saya gunakan untuk membantu biaya sekolah anak-anak saya, termasuk membeli perlengkapan yang kemarin rusak atau hilang karena terbawa banjir.”
Melalui bantuan ini, keluarga dapat memenuhi kebutuhan yang paling mendesak sesuai dengan kondisi masing-masing, termasuk kebutuhan pendidikan anak-anak mereka.

Ribuan Anak Masih Membutuhkan Dukungan Bersama
Meski fase darurat telah berlalu, proses pemulihan bagi anak-anak dan keluarga terdampak masih terus berlangsung.
Save the Children Indonesia akan terus bekerja bersama pemerintah, komunitas, sekolah, dan para mitra untuk memastikan anak-anak dapat kembali belajar, bermain, dan tumbuh dengan aman setelah bencana.
Anda juga dapat menjadi bagian dari proses pemulihan ini. Kunjungi halaman donasi Save the Children Indonesia dan bantu lebih banyak anak mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan untuk kembali menata masa depan mereka.
*) nama diubah untuk perlindungan
