Rumah yang ditinggali Hantoro (54) sejak awal memang tidak dilengkapi dengan jamban. Ia telah menetap di rumah tersebut selama 31 tahun, terhitung sejak awal pernikahannya dengan sang istri. Selama itu, sungai di depan rumah adalah satu-satunya pilihan bagi Hantoro dan keluarga untuk mandi, buang air kecil, maupun buang air besar.
“Saya sudah 31 tahun tinggal di rumah ini, dan selama itu kami belum punya jamban sendiri. Kalau mau buang air kecil atau besar, ya ke sungai di depan rumah itu. Mandi juga di sana. Kalau malam-malam mendadak harus buang air, tetap saja ke sungai,” ungkapnya.
Bukan karena tak ingin, masalah utama yang menghambat Hantoro membangun jamban adalah keterbatasan biaya. “Yang jadi kendala selama ini soal biaya, apalagi sekarang badan saya sudah tidak begitu sehat untuk kerja berat, jadi saya fokus mencari nafkah untuk makan saja,” kisah Hantoro yang sehari-hari mengandalkan hasil kebun untuk bisa bertahan hidup.
Hantoro dan keluarganya tinggal di wilayah pedalaman di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Di dusun tempat mereka tinggal, rumah Hantoro adalah satu-satunya rumah yang belum memiliki jamban.
Melalui Program RESILIENCE, Save the Children Indonesia dengan dukungan pendanaan dari Cargill mendistribusikan 120 paket material untuk membangun jamban jongkok dan septic tank. Hal ini dilakukan untuk mendukung terciptanya desa bebas buang air sembarangan atau open defecation free (ODF).
Bantuan ini tidak dirancang satu arah, tetapi juga melibatkan peran aktif peserta program. Hantoro sendiri berperan aktif dalam proses pembangunan jamban tersebut.
“Untuk atap dan dindingnya, nanti saya sendiri yang akan melengkapi dan membangunnya,” ungkap Hantoro.
Rumah Hantoro terletak di dekat sungai dan kerap terkena banjir tiap musim penghujan datang. Oleh karena itu, jamban jongkok dan septic tank dibangun lebih tinggi dari tanah agar saat banjir terjadi, Hantoro dan keluarganya tetap bisa menggunakan jamban.
Kini, setelah jamban tersebut selesai dibangun, keluarga Hantoro tak perlu lagi ke sungai tiap kali hendak buang air. “Bantuan ini sangat bermanfaat untuk keluarga kami. Kami merasa sangat terbantu karena tidak perlu ke sungai lagi untuk buang air, apalagi di malam hari,” ungkapnya.
Dengan selesainya pembangunan jamban di rumah Hantoro, tidak ada lagi rumah di dusun tersebut yang tertinggal dalam hal akses sanitasi dasar seperti jamban. Perubahan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat, tangguh, dan layak bagi generasi masa kini hingga masa depan.
