“Waktu itu hujan deras sudah satu minggu. Air mulai masuk ke rumah itu malam Rabu, habis Maghrib. Awalnya airnya jernih, tapi jam 11 malam air berubah jadi kuning dan arusnya kencang sekali,” kenang Ziah* orang tua Nana.
Ziah* terpaksa mengevakuasi anak-anaknya di tengah hujan deras dan deras air yang semakin meninggi malam itu. Ia khawatir di tengah arus yang deras itu adanya hewan buas yang masuk ke area rumahnya.
Mereka sempat mengungsi ke lokasi yang diyakini tidak akan terdampak banjir, tetapi air kembali naik. Hingga akhirnya seorang warga menawarkan tempat berlindung di rumahnya yang bertingkat tiga yang ternyata juga sudah dipenuhi banyak keluarga lain.
Dalam kondisi yang sangat terbatas di pengungsian, Nana* sempat mengalami demam tinggi selama dua malam, sementara obat-obatan tidak tersedia.
Rumah yang Hilang, Kenangan yang Tertinggal
Setelah beberapa hari mengungsi di rumah tersebut, akhirnya Ziah* mengajak Nana* untuk mengecek kondisi rumahnya. Namun perjalanan mereka terputus dikarenakan akses yang terputus.
“Kami jumpalah dengan tetangga kami di tengah jalan, saat itu angin keadaannya kencang dan air cepat sekali meninggi. Kami bertanyalah ke tetangga kami ‘bagaimana keadaan rumah kami?’ tetangga kami menjawab ‘rumahnya sudah tidak ada lagi, bu’,” kenang Ziah* di lokasi pengungsian.
Penantian Nana* untuk Kembali Bersekolah

“Pertama saya masuk sekolah 5 Januari 2026, saya masuk sekolah masih ada lumpur. Tapi lorong ini sudah dibersihkan agar kami bisa belajar di aula,” jelas Nana* sambil menunjukkan keadaan sekolahnya saat ini yang jauh berubah dari sebelum bencana bannjir yang melanda wilayahnya.
Kini Nana dan keluarganya tinggal di tenda pengungsian. Bencana tidak hanya merenggut rumahnya, tetapi juga merusak sekolahnya. Ruang kelas dipenuhi lumpur tebal, meja dan kursi rusak, serta perlengkapan belajar hanyut terbawa banjir.
“Pergi sekolah senang, bisa ketemu kawan, jajan, dan belajar,” ucap Nana*
Baginya menuntut sekolah sangat penting karena sekolah adalah tempatnya untuk menuntut ilmu untuk menggapai cita-citanya.
“Kalau sudah besar ingin jadi dokter, agar bisa tolong-tolong orang,” terangnya.
Dalam situasi darurat ini, Save the Children memberikan dukungan kepada Nana* melalui untuk kembali besekolah dengan mendistribusikan paket perlengkapan sekolah setelah buku dan alat tulisnya hanyut terbawa banjir.

Selain itu , Nana* juga mengikuti kegiatan di Child Friendly Space yang disediakan di lokasi pengungsian. Penyediaan ruang aman di pasca bencana sangat penting agar anak-anak tetap bisa bermain, belajar, dan mendapatkan dukungan psikososial.
Kisah Nana* membuktikan bahwa bencana tidak akan mengubur mimpi dan harapan anak-anak. Save the Children terus berkomitmen untuk memperjuangkan mimpi dan harapa anak-anak Indonesia, bagaimanapun caranya.