Berita

Save the Children Suarakan Isu Krisis Iklim dan Berbagi Praktik Baik di City Sanitation Summit XXI Bandung

Direktur Pengembangan dan Dampak Program Save the Children Indonesia, Imelda Usnadibrata, menerima penyerahan sertifikat atas partisipasi Save the Children

Bandung – Save the Children Indonesia berpartisipasi dalam acara City Sanitation Summit (CSS) ke-XXI di Gedung Balerame Soreang, Bandung, pada Jumat, 16 Juni 2023. Direktur Pengembangan dan Dampak Program Save the Children Indonesia, Imelda Usnadibrata, hadir untuk berbagi dalam salah satu sesi terkait perubahan iklim dan dampaknya bagi anak-anak dan keluarga, serta kaitannya dengan sanitasi.

City Sanitation Summit merupakan acara rutin yang diadakan Aliansi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI), sebagai tempat berbagi pengalaman dan praktik baik di bidang sanitasi, serta memperkuat kemitraan; kelembagaan; dan sinergi antar pemerintah daerah. Melalui CSS, pemerintah daerah anggota AKKOPSI juga berdiskusi tentang pembangunan infrastrukstur dan inovasi layanan seperti Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), Sistem Penyimpanan Air Minum (SPAM), dan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL).

AKKOPSI menyebut bahwa sanitasi layak dan aman adalah kebutuhan dasar manusia yang sangat berpengaruh dalam kualitas kehidupan manusia sejak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), balita, remaja, dewasa, sampai lansia. Sektor sanitasi juga berkaitan dengan penyakit menular, stunting, dan kemiskinan. Sementara itu, belum semua pemerintah daerah memiliki komitmen tinggi dalam penyediaan akses air minum dan sanitasi aman, selain karena keterbatasan akses pendanaan.

Pembangunan sanitasi harus melibatkan dan memberdayakan semua sektor terkait, yaitu pemerintah, masyarakat, lembaga non pemerintah atau NGO, lembaga kemasyarakatan seperti PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), organisasi pemuda, organisasi agama, lembaga pendidikan, media massa, sektor swasta, dan lembaga keuangan.

Dalam sesi Save the Children, Imelda bercerita tentang ancaman perubahan iklim dan kaitannya dengan isu sanitasi.

“Dampak perubahan iklim itu luar biasa. Hampir Rp 115 triliun, diperkirakan kerugian ekonomi Indonesia pada tahun 2024, belum termasuk biaya rehabilitasi dan rekonstruksi. Ada juga dampak jangka pendek seperti banjir dan kebakaran hutan. Jadi, dampak perubahan iklim juga mengancam biodiversitas yang kita miliki,” papar Imelda.

Krisis iklim, lanjutnya, juga mengancam anak-anak dan perempuan. Menurut riset yang telah dilakukan oleh UNICEF pada tahun 2022, sekitar 1 milliar anak di dunia tinggal di daerah berisiko tinggi yang mengancam kesejahteraan mereka. Ketika terjadi bencana, tingkat ancaman kematian bagi anak-anak dan perempuan dewasa 14 kali lebih tinggi daripada laki-laki dewasa.

Menurut Imelda, perubahan iklim memiliki dampak luas termasuk di bidang kesehatan dan gizi, pendidikan, dan ekonomi. Terkait kesehatan dan gizi, salah satu dampak buruk bagi anak adalah stunting akibat sanitasi dan akses air bersih rumah tangga.

Save the Children bersama mitra berinisiatif memberikan dukungan terkait Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) serta pembangunan Sarana Air Bersih (SAB) di beberapa kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, melalui Program BESTARI. Pembangunan ini tidak hanya berfokus pada kuantitas, tetapi juga kualitas dan kontinuitas atau keberlanjutan. Upaya ini ditempuh dengan melibatkan masyarakat sejak awal mulai dari persiapan, implementasi, sampai pemantauan dan evaluasi.

Program serupa juga dilakukan di Sumba, Nusa Tenggara Timur dan Ketapang, Kalimantan Barat. Di Sumba, dukungan di sektor WASH adalah instalasi pipa air dan toilet. Kemudian di Ketapang, Save the Children bersama mitra merilis modul tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) untuk anak-anak dan remaja di tingkat sekolah. Tim program juga menyusun katalog tentang pembangunan sanitasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

“Kami betul-betul memberdayakan masyarakat dan melibatkan suara anak karena kita ingin tahu seperti apa kebutuhan dan dampak yang mereka dapatkan,” ungkap Imelda.

Harapannya, Program BESTARI dapat membantu mempercepat penanganan isu sanitasi dan adaptasi perubahan iklim yang ramah anak serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Scroll to Top