JAKARTA, 2 Mei 2021 – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Save the Children Indonesia menyelenggarakan Dialog Anak bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbud-Ristek). Dialog ini bertujuan memberikan ruang yang ramah dan aman bagi anak untuk menyuarakan pengalaman dan tantangan selama pembelajaran jarak jauh, risiko yang dihadapi anak-anak, dan harapan anak terhadap pendidikan di Indonesia.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Dewan Penasihat Anak dan Kaum Muda atau Children & Youth Advisory Network (CYAN) Save the Children Indonesia, beserta seluruh juru kampanye anak yang tergabung dalam Gerakan #SaveOurEducation. Anak-anak tersebut merupakan perwakilan dari Provinsi Sulawesi Tengah, Jawa Barat, dan Yogyakarta.
“Dari 1/3 populasi yang didominasi oleh anak-anak dan kaum muda, menjadikan anak sebagai aktor pembangunan yang penting dan mendasar. Anak merupakan pribadi yang berdaya, punya kemauan, punya harapan, apalagi terkait isu-isu yang berkaitan dengannya. Sehingga tak ada kebijakan yang benar-benar berpihak dan berkelanjutan tanpa melibatkan anak didalamnya. Sudah saatnya kita jadikan partisipasi anak yang bermakna sebagai tujuan dari pencapaian hak-haknya. Karena ketika anak terlibat, anak terberdayakan,” jelas Putri Gayatri, Anggota Dewan Penasihat Anak & Kaum Muda (CYAN) Save the Children Indonesia.

Berbagai tantangan, harapan, dan gagasan disampaikan oleh anak-anak dari masing-masing provinsi. Mulai dari permasalahan akses yang tidak merata, sampai kualitas pembelajaran yang didapat dan pentingnya peran orangtua serta guru dalam mendukung proses pembelajaran jarak jauh (PJJ). Anak-anak juga berharap agar suara mereka dipertimbangkan dalam setiap pengambilan keputusan terkait isu pendidikan.
Pesan yang disampaikan oleh anak-anak memperkuat temuan studi global Save the Children pada tahun 2020 lalu yang dilakukan di 46 negara, termasuk Indonesia. Studi tersebut menyebut, 8 dari 10 anak tidak dapat mengakses bahan pembelajaran yang memadai. Sementara itu, 4 dari 10 anak kesulitan memahami pekerjaan rumah, serta fakta bahwa minimal 1% anak tidak belajar apapun selama PJJ.
“Selaras dengan tema Hardiknas 2021 kali ini, yaitu serentak bergerak, wujudkan merdeka belajar, inisiasi anak-anak dan kaum muda ini merupakan bukti nyata dari tema tersebut,” tutur Dewi Sri Sumanah, Media & Brand Manager Save the Children Indonesia
Dewi juga menjelaskan bahwa dialog ini merupakan sebuah awal dari aksi nyata gerakan #SaveOurEducation yang melibatkan anak-anak dan kaum muda sebagai pelopor. “Semangat hak partisipasi anak yang bermakna, kami terapkan dalam gerakan ini. Dari, untuk, dan oleh anak. Kami memastikan setiap anak mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas di lingkungan belajar yang aman, baik luring maupun daring,” sambung Dewi.
Catatan untuk Editor
Tentang Save the Children Indonesia
Save the Children Indonesia merupakan identitas brand Yayasan Sayangi Tunas Cilik yang terdaftar sebagai yayasan lokal berdasarkan Keputusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-01712.50.10.2014. Save the Children Indonesia merupakan bagian dari gerakan global Save the Children yang bekerja memperjuangkan hak-hak anak di lebih dari 120 negara di dunia.
Save the Children percaya setiap anak tidak terkecuali layak menyongsong masa depan. Di Indonesia dan di seluruh dunia, kami memastikan kesehatan anak anak sejak dini, kesempatan untuk belajar dan perlindungan terhadap bahaya. Kami melakukan apa pun untuk anak-anak setiap hari dan di saat krisis — untuk mengubah hidup mereka dan masa depan.
Saat ini, Save the Children Indonesia beroperasi di sembilan provinsi, 80 kabupaten, 396 kecamatan, dan 1.010 desa. Adapun wilayah kerjanya mencakup Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tengara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. Program kami berfokus pada kesejahteraan anak yang mengintegrasikan bidang lintas sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, kemiskinan, tata kelola hak anak, serta respons darurat/bencana.