Marlin* (23) dan keluarganya sedang menginap di rumah kerabat untuk mempersiapkan pesta Sambut Baru ketika gempa mengguncang Manggarai Timur pagi itu, 15 Agustus 2026.
“Pas bangun pagi, gempa, kami sudah bangun. Terus langsung runtuh itu tembok, kami lari ke lapangan,” kenangnya.
Rumah tempat mereka menginap malam itu roboh. Tak hanya itu, rumah milik Marlin sendiri juga runtuh akibat gempa. Bersamanya saat itu ada kedua anaknya berusia lima tahun dan enam bulan. Gempa susulan yang terus terjadi membuat keluarga ini tak berani kembali ke rumah. Mereka bertahan di lapangan terbuka hingga siang hari.
“Sampai jam 1, kalau tidak salah,” ujar Marlin, mengenang berapa lama mereka bertahan di bawah terik matahari sebelum akhirnya mendirikan tenda posko darurat bersama warga lain. Sejak hari itu, posko menjadi tempat tinggal sementara keluarga Marlin, termasuk untuk tidur malam hari. “Kalau malam, dingin di sini,” katanya.
Ditanya soal kebutuhan yang paling dirasakan warga di posko, terutama bagi keluarga dengan balita, jawaban Marlin jelas dan spesifik. “Pakaian anak-anak, khususnya popok, dan selimut,” ujarnya. Banyak barang-barang tersebut yang sudah tidak bisa diselamatkan dari rumah yang runtuh.
Sehari-hari, Marlin dan suaminya bekerja sebagai petani. Namun, situasi ini tak lantas membuat stok pangan keluarga mereka aman, bahkan sebelum gempa terjadi. “Tidak juga (aman),” jawab Marlin saat ditanya apakah stok beras di keluarganya tergolong aman.
Bantuan beras yang mereka terima sejak gempa terjadi, meski dibagi rata dengan warga lain di posko, cukup membantu meringankan situasi.
Keluarga seperti Marlin di Manggarai Timur masih membutuhkan dukungan untuk pulih. Donasi sekarang melalui: s.id/bantu-ntt
*) Nama dalam artikel ini disamarkan untuk melindungi identitas narasumber.
