Elo* (38) dan istrinya, Nia*, selama ini tinggal di rumah keluarga, sembari perlahan membangun rumah sendiri di dekat sana. Rumah baru itu sudah hampir rampung, tinggal bagian dapur dan sentuhan akhir, saat gempa mengguncang Manggarai Timur pada 15 Agustus 2026. Kini, dua sisi dinding berlubang. Rumah yang tinggal selangkah lagi menuju selesai itu belum bisa ditempati.
“Kami bangun jam 5 subuh. Tiba-tiba ada gempa, lantas kami lari keluar. Lari ke kampung sebelah,” kenang Elo.
Saat gempa terjadi, keduanya sedang berada di rumah keluarga. Bersama mereka, ada anak bayi mereka yang baru berusia tiga bulan.
Di tengah situasi darurat, sang anak masih mendapat ASI eksklusif dari sang ibu—satu hal yang menenangkan di tengah semua ketidakpastian. Namun untuk kebutuhan pangan keluarga sehari-hari, Elo dan Nia masih harus berjuang.
“Untuk makan, masih diusahakan,” ujar Elo.
Saat ditanya apa yang paling mereka butuhkan saat ini, Nia lama terdiam. Ketiadaan jawaban yang mungkin justru menyiratkan sebaliknya: ada begitu banyak yang mereka butuhkan hingga sulit dijawab dengan singkat.
Keluarga Elo dan Nia menjadi salah satu penerima bantuan di posko pengungsian, berupa selimut, alas tidur, air minum, dan makanan. Paket ini adalah bantuan awal dari Save the Children Indonesia dan CIS Timor di tengah proses panjang membangun kembali rumah dan kehidupan mereka.
Rumah yang sempat hampir selesai kini menunggu bantuan untuk bisa dibangun kembali. Bagi Elo dan Nia, prioritas mereka saat ini sederhana: memastikan anak mereka tetap sehat dan aman di tengah situasi krisis yang sedang dihadapi.
Keluarga seperti Elo dan Nia di Manggarai Timur masih membutuhkan dukungan untuk pulih. Donasi sekarang melalui: s.id/bantu-ntt
*) Nama dalam artikel ini disamarkan untuk melindungi identitas narasumber.
