Puncak Kampanye Nasional Aksi Generasi Iklim 2025

Suasana panggung yang berkelip lembut menyambut setiap langkah para Child Campaigner Aksi Generasi Iklim (AGI) 2025 pada acara puncak kampanye yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dengan mengusung tema “Aku, Kamu, Kita adalah Bumi”, Save the Children Indonesia menghadirkan anak dan orang muda yang telah melalui proses penguatan kapasitas sebagai agen perubahan, membawa suara serta aksi nyata untuk mendorong upaya bersama dalam menghadapi krisis iklim.

Mengangkat topik-topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti krisis air bersih, pencemaran lingkungan oleh sampah, hingga dampak perubahan iklim terhadap anak dan komunitas mereka, Child Campaigner dari delapan provinsi telah secara aktif melakukan berbagai kegiatan di daerah masing-masing, berkampanye serta menyuarakan isu iklim melalui rangkaian literasi, aksi, edukasi dan advokasi.

Kegiatan ini digelar secara hybrid, dihadiri lebih dari 1.000 peserta secara langsung, 500 diantaranya anak dan orang muda. Sementara itu, siaran YouTube-nya telah ditonton lebih dari 320 kali, termasuk penayangan saat hari-H hingga dua hari setelah acara berlangsung.

Pertunjukan Imersif: Panggung Advokasi Child Campaigner untuk Krisis Iklim

Di puncak perayaan AGI 2025, ruang pertunjukan berubah menjadi area imersif yang mengajak setiap pengunjung masuk ke dalam cerita tentang bumi. Cahaya, musik, visual, dan suara anak-anak berpadu membangun pengalaman yang menggugah emosi anak, orang muda, maupun orang dewasa yang hadir. Mengusung pesan untuk lebih mencintai dan menjaga bumi, pertunjukan ini menjadi perpaduan harmonis antara seni, teknologi, dan pesan penting tentang lingkungan.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para Child Campaigner untuk melakukan advokasi mengenai isu iklim dan mengajak semua pihak untuk bersama-sama mencintai serta melestarikan bumi demi menciptakan masa depan yang lebih baik.

Kesempatan ini juga mempertegas peran penting anak dalam gerakan iklim. “Partisipasi anak dalam merespon dampak krisis iklim sangat penting karena mereka paling terdampak saat ini maupun di masa mendatang. Save the Children Indonesia sejak tahun 2022 menginisiasi gerakan aksi generasi iklim atau AGI dengan pelibatan partisipasi anak untuk menyiapkan generasi yang tangguh yang mampu koping, adaptasi, dan juga menjalankan peran dalam perubahan iklim. Gerakan ini berfokus pada upaya peningkatan literasi, aksi, dan advokasi iklim untuk dan bersama anak-anak dan orang muda,” ujar Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia, dalam sambutannya.

Metode imersif terbukti efektif karena mampu memindahkan “rasa” kepada penonton melalui pengalaman multisensori — visual, audio, hingga dampak emosional yang mendalam. Cara ini menempatkan anak sebagai kelompok paling rentan terhadap krisis iklim sekaligus menegaskan ketangguhan mereka sebagai agen perubahan.

Tiga tahun Anak dan Orang Muda Menyuarakan Krisis Iklim

Sejak 2022, selama tiga tahun berturut-turut, AGI telah konsisten memperkuat ketangguhan anak dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Pada puncak AGI 2025, juga dilakukan penandatanganan komitmen bersama untuk memperkuat literasi, aksi, dan partisipasi anak dalam isu krisis iklim oleh berbagai pihak, baik dari mitra perusahaan maupun pemerintahan. Komitmen ini melibatkan Kemenko PMK, KemenPPPA, KLHK, Kemenkes, Kemensos, KKP, BMKG, Kemendikdasmen, Kemenag, serta Lego Group, BSI Maslahat, dan Gramedia.

Arifatul Fauzi selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada kesempatan ini menekankan bahwa menjaga bumi merupakan bagian penting dalam mewujudkan cita-cita anak dan masa depan yang aman.

“…Kalau kita saat ini tidak menjaga bumi, apa yang akan terjadi? Longsor dimana-mana, banjir dimana-mana…,” ujarnya. Dalam pidatonya Arifatul Fauzi juga mengajak anak-anak untuk terus menjaga bumi. “Supaya cita-cita kalian tercapai, maka kalian juga harus memperhatikan bumi, menjaga bumi. Karena kalau bumi kita tidak dilindungi, kita enggak bisa belajar dengan baik,” tuturnya.

Selain Menteri PPPA, hadir pula Woro Sulistyo Wulandari, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan, Kemenko PMK, yang menegaskan bahwa pemerintah berperan memberikan dukungan teknis melalui kebijakan dan pengawasan. “Partisipasi anak dalam respons krisis iklim membutuhkan ruang yang aman, inklusif, dan menyenangkan. Pendapat anak perlu didengarkan dan dipertimbangkan secara serius dan diterjemahkan dalam bentuk kebijakan maupun program,” ujarnya dalam sambutannya.

Hanif Faisol Nurofiq, Menteri LHK, yang diwakilkan oleh Noer Adi Wardojo selaku Staf Ahli Menteri Bidang Keanekaragaman Hayati KLHK, menyampaikan bahwa “tidak ada kebijakan iklim yang benar-benar adil jika suara anak-anak dan generasi muda tidak dilibatkan di dalamnya.” Ia menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca melalui prinsip intergenerational justice: generasi saat ini bertanggung jawab mengelola sumber daya alam dengan bijak, sementara di masa depan anak-anaklah yang akan melanjutkan pengelolaan dan merasakan langsung dampaknya.

Pengalaman Berharga Puncak Aksi Generasi Iklim 2025

Acara ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan suara mereka tentang krisis iklim. Usai tampil dalam pertunjukan imersif, para Child Campaigner membagikan pengalaman berharga serta pesan yang ingin mereka sampaikan melalui aksi panggung tersebut. Salah satunya adalah Adnan, peserta anak yang turut hadir di puncak AGI 2025. Melalui bahasa isyarat, ia menyampaikan, “Dari pantomim itu aku melihat ada hujan, orang yang minum dari botol air minum terus langsung dibuang sembarangan. Akhirnya sampah menumpuk.” ujar Adnan.

Melalui AGI 2025, Save the Children Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk memastikan partisipasi bermakna anak dalam menghadapi krisis iklim. Karena pada akhirnya, anak-anak tidak hanya menjadi penerima dampak – mereka adalah pemimpin masa depan yang suaranya layak mendapatkan ruang.

Child Campaigner AGI 2025 ingin menyampaikan harapan bahwa orang dewasa dapat menjadi lebih sadar, lebih peka, dan lebih bertanggung jawab terhadap krisis iklim. Mereka ingin dunia orang dewasa ikut bergerak, ikut peduli, dan melakukan hal-hal kecil maupun besar yang mereka lakukan setiap hari untuk menjaga dan melestarikan bumi.

Perayaan Terbuka untuk Publik melalui Seni dan Musik Anak

Selain dihadiri oleh para undangan dari kementerian, lembaga, mitra pembangunan, serta komunitas, Puncak Aksi Generasi Iklim 2025 juga membuka ruang partisipasi publik melalui sesi pertunjukan berbayar pada sesi ketiga acara. Sesi ini menjadi ruang perayaan sekaligus refleksi, yang ditutup dengan pertunjukan musik kolaboratif antara Saung Angklung Udjo dan Purwa Caraka Music Studio, yang dimainkan langsung oleh anak-anak didik Purwa Caraka Music Studio.

Kehadiran anak-anak sebagai pelaku utama pertunjukan mempertegas pesan bahwa suara, kreativitas, dan ekspresi anak merupakan bagian penting dari pembangunan yang berkelanjutan. Acara semakin hidup melalui sesi bermain angklung bersama, di mana para peserta diajak berpartisipasi langsung dan dipandu oleh tim Saung Angklung Udjo, menciptakan pengalaman kebersamaan yang hangat sekaligus bermakna.

Scroll to Top