Pagi itu, 15 Agustus 2026, Kota Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, tidak hanya diterpa udara dingin yang menusuk tulang, tetapi juga gempa hebat yang mengguncang kehidupan sebuah keluarga kecil. Roby*(46), seorang pria penyandang disabilitas netra yang sehari-hari membuka klinik pijat, bersama istrinya, Lina*(39), seorang penyandang low vision yang berprofesi sebagai guru di SLB Negeri Tenda Ruteng, harus berpacu dengan waktu dan keterbatasan penglihatan demi menyelamatkan bayi mereka yang baru berusia enam bulan, Rio*.
Kehadiran Rio adalah berkat yang sangat dinantikan setelah sekian lama mereka berumah tangga. “Baru Januari kemarin dikasih berkat. Sudah lama nikahnya, cuma baru dikasih berkat,” ungkap Roby penuh rasa syukur. Namun, kebahagiaan itu kini diuji oleh bencana alam dan tantangan perawatan kesehatan sang buah hati.
Gempa Hebat dan Pelukan Hangat
Peristiwa mencekam itu bermula saat pagi hari pukul 5.58 WITA. Roby yang sudah terbangun sejak dini hari untuk menyiapkan susu anaknya merasakan getaran awal. Ia segera membangunkan istri dan ibu mertuanya. Tanpa membuang waktu, mereka segera bergerak ke halaman belakang mess guru SLB Negeri Tenda Ruteng tempat mereka tinggal.
Tak lama dari gempa awal, gempa susulan terjadi jauh lebih dahsyat. Guncangannya mencapai magnitudo 7,7. Di tengah kepanikan warga sekitar yang berteriak, Roby menjadi penopang utama keselamatan keluarganya di tengah gelapnya penglihatan.
“Pas kami sudah di belakang gempanya jadi tambah kuat. Pas puncaknya itu saya sampai tidak bisa berdiri! Saya pegang anak, istri, dan ibu mertua saya. Istri saya enggak bisa pegang kuat saya karena dia harus gendong anak. Jadi kaki saya lebarkan, pokoknya saya berusaha peluk mereka semua. kami bertahan di posisi itu mungkin ada satu menit karena gempanya sangat dahsyat,” ungkap Roby.
Kondisi Rumah dan Kerusakan Lingkungan Sekitar
Tempat tinggal Roby dan keluarganya merupakan sebuah rumah setengah papan yang berada di dalam kompleks SLB Negeri Tenda Ruteng. Bangunan kayu dan papan yang berdiri sejak tahun 1980-an tersebut memang elastis saat diguncang gempa, namun beberapa bagian rumah sudah lapuk dan berisiko.
“Kalau rumah setengah papan ini kan dia goyang tapi elastis. Jadi kalau ada sedikit goncangan kami bisa cepat dengar, jadi bisa lebih cepat responsnya. Rumah ini kan dibangun tahun 1980-an, konstruksinya katanya masih bagus, cuma ada beberapa bagian yang memang sudah lapuk,” ungkap Roby.
Rumah mess setengah papan yang ditempati Roby memang masih bertahan, namun kondisi lingkungan di sekitar cukup mengkhawatirkan. Pagar pembatas sekolah bahkan roboh diguncang gempa, membuat Roby belum berani mendekati area berisiko tersebut. Di luar kompleks sekolah, banyak rumah bertembok beton yang retak dan roboh.
Gempa ini bahkan merenggut nyawa dua kenalannya—seorang di Kota Ruteng dan seorang rekan penyandang disabilitas netra di kawasan pesisir Reo. Secara keseluruhan, hingga tanggal 15 Agustus 2026 pukul 22:00 setempat gempa tercatat telah memakan 47 korban jiwa, dengan Kabupaten Manggarai mencatat angka kematian tertinggi, yaitu 23 orang. Selain itu, lebih dari 600 rumah dan dua fasilitas pendidikan di Manggarai rusak berat. Di tengah situasi tersebut, pemadaman listrik total dari pagi hingga pukul 21.00 malam yang mengakibatkan terputusnya saluran komunikasi dan menambah rasa terisolasi.
Tantangan Bertahan di Tengah Suhu Dingin
Usai gempa utama mereda, ancaman lain muncul dari suhu dingin Ruteng. Antara bulan Juli sampai Agustus, suhu udara di wilayah dataran tinggi tersebut bisa mencapai 8 derajat Celsius. Pagi itu, mereka harus bertahan selama lebih dari tiga jam di luar rumah.
Sebagai penyandang disabilitas netra dan low vision, bergerak cepat membawa perlengkapan dalam kondisi darurat bukanlah hal mudah. Namun, fokus utama Roby dan Lina hanyalah satu, memastikan Rio tetap hangat dan aman.
Dengan bantuan jas hujan, Roby membungkus tubuh kecil Rio agar terhindar dari paparan suhu dingin. “Kebetulan ada jas hujan, jadi kita pakai itu dulu untuk bungkus Rio supaya bisa menghangatkan. Setalah gempa mulai reda, baru saya masuk ke rumah untuk ambil selimut dan perlengkapan lainnya,” ungkap Roby.
Pengasuhan dengan Keterbatasan dan Kebutuhan Medis Khusus
Menjalani peran sebagai orang tua dengan disabilitas penglihatan membawa dinamika tersendiri bagi Roby dan Lina. Sejak Rio lahir melalui operasi sesar, proses pemberian ASI eksklusif secara langsung sempat mengalami hambatan karena keterbatasan penglihatan Lina.
“Waktu pertama menyusui, Lina enggak bisa lihat puting masuk ke mulutnya Rio, jadi keburu Rio nangis, akhirnya harus dibantu dengan perah ASI,” ungkap Roby menceritakan perjuangan mereka memberikan ASI pada Rio.
Tantangan tak berhenti di situ. Saat berusia dua bulan, Rio terindikasi mengalami katarak bawaan dan harus menjalani operasi mata di Bali pada bulan April lalu. Pascaoperasi, Rio memerlukan perawatan rutin berupa penetesan obat mata setiap hari. Oleh karena itu, untuk sementara waktu ibu mertua Roby tinggal bersama mereka untuk membantu merawat mata Rio karena keterbatasan penglihatan Roby dan Lina.
Di tengah ancaman gempa susulan yang masih kerap terjadi, Roby dan Lina harus membagi tugas menjaga Rio secara bergantian di malam hari. Saat listrik padam seharian dan sinyal terputus, mereka berjaga agar tetap responsif jika gempa kembali datang.
“Saya jaga gilirian dengan istri, jadi ganti-gantian tidurnya. Tadi jam 01.00 subuh saya yang begadang. Karena ada adik bayi, jadi harus tetap ada satu yang terjaga,” ungkap Roby.
Harapan dan Bantuan Kemanusiaan
Saat ini, keluarga Roby bersama warga terdampak lainnya di Ruteng dan sekitarnya membutuhkan kepastian perlindungan dan bantuan penunjang, terutama untuk kelompok rentan seperti bayi dan disabilitas. Mengingat suhu dingin di Ruteng, bantuan berupa perlengkapan penghangat, tenda penampungan yang layak, serta kepastian akses layanan kesehatan menjadi prioritas.
Bagi Roby, keselamatan Rio dan keluarganya adalah prioritas tertinggi di atas segala keterbatasan yang mereka miliki. Perjuangan mereka mencerminkan ketangguhan luar biasa sebuah keluarga dalam melindungi anak di tengah situasi darurat bencana.
* Nama disamarkan untuk melindungi data pribadi narasumber.
