Cerita Perubahan

Perjuangan Hana* Menembus Banjir Bandang di Aceh Tamiang 

Banjir bandang yang menerjang sebagian wilayah Aceh Tamiang meninggalkan dampak yang begitu dahsyat, tak terkecuali bagi anak-anak. Di tengah genangan lumpur yang masih tersisa, Hana* (14) menuturkan kisahnya bertahan hidup saat air tiba-tiba mengepung lingkungan pesantren tempatnya menimba ilmu.

Masih teringat jelas diingatan Hana* ketika air kala itu datang secara tiba-tiba membanjiri area pesantrennya.

“Enggak sempat ngapa-ngapain, kami aja dikeluarin jam dua itu airnya udah sedada,” kenang Hana*.

Dalam perjalanan menuju ke tempat yang lebih aman, Hana* bertemu keluarganya yang juga mencari keberadaannya, “Karena kan udah dilihat pada bubar semua kan (pesantren) kami, jadi dijemput kami dari saudara tadi,”.

Di sisi lain, ayah Hana* juga berjuang menembus blokade air dan lumpur demi menemukan putrinya.

“Ayah jemput, selama empat hari itu kan masih belum lewat, di sini masih banjir semua, terkepung air. Jadi ayah jemput karena khawatir,” cerita Hana*. Ia juga menggambarkan betapa sulitnya medan yang dilalui ayahnya ketika menjemputnya, “Itu dalamnya masih sepinggang. Lumpur, lumpur semua. Udah enggak ada air lagi tapi tinggal lumpur. Jadi ayah jalan kaki ke sana.”

Bencana ini tidak hanya menghancurkan tempat tinggal warga, tapi juga merengguk hak pendidikan anak-anak. Ujian sekolah Hana* terpaksa berhenti di tengah jalan. “Kami lagi tengah-tengah ujian,” ujarnya lirih.

Dukungan Yayasan Save the Children Indonesia untuk Anak dan Remaja Terdampak Bencana  

Di tengah situasi pasca-bencana yang sulit, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan. Tanpa kegiatan sekolah, banyak dari anak-anak bermain di lokasi yang berbahaya.

“Kalau selama ini sih orang ni pada mainnya ke sungai aja. Kan kita takut juga kalau mainnya ke sungai, di situ juga masih banyak reruntuhan rumah-rumah itu, yang kayak seng. Takutnya kan kalau ke sungai nanti kena paku, kena kayu apa gitu kan, jadi sayang.,” ungkap Hana* mengkhawatirkan teman-temannya.

Untuk merespons kebutuhan ini, Yayasan Save the Children Indonesia hadir memberikan Layanan Dukungan Psikososial di tenda pengungsian. Kegiatan ini dirancang untuk mengembalikan senyum anak dan remaja, sehingga memberikan mereka rasa aman sekaligus memulihkan semangat mereka melalui bermain, menggambar, dan bercerita.

“Perasaan kami hari ini senang karena bisa dapat ikut orang ini,” ucap Hana*. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini sangat penting bagi anak-anak terdampak, “Bisalah untuk kurangi bosan orang ni di sini karena ada pembelajaran di sini tadi.”

Meskipun lingkungan Hana* masih jauh dari kondusif, semangatnya tetap terpancar untuk menggapai cita-citanya sebagai seorang dokter. Alasan ini begitu kuat dari dalam dirinya, dikarenakan ia ingin merawat orang yang membutuhkan.

“Enggak tahu rasanya pengen kayak ngerawat-ngerawat gitu. Kaya terinspirasi pengen merawat pasien,” tutupnya dengan senyum penuh harapan.

Hingga saat ini, Yayasan Save the Children Indonesia terus mendukung proses pemulihan banjir dan longsor di Sumatra yakni di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat melalui berbagai aspek respons kebutuhan darurat. Dukungan tersebut mencakup distribusi kebutuhan dasar melalui jalur darat, laut, dan udara, termasuk ke area yang paling sulit dijangkau; layanan klinik berjalan dan obat-obatan; penyediaan akses air bersih; distribusi perlengkapan sekolah; serta dukungan pembersihan sekolah terdampak dengan penyediaan peralatan kebersihan dan bantuan pemulihan fasilitas belajar.

Sebagai bagian dari respons ini, hingga 9 Januari 2026 kami telah menjangkau puluhan ribu penerima manfaat, termasuk lebih dari 65.047 orang termasuk 22.084 anak-anak, untuk memastikan kebutuhan dasar dan hak anak atas akses belajar, kesehatan, serta perlindungan tetap terpenuhi selama masa pemulihan.

“Yayasan Save the Children Indonesia juga terus melakukan koordinasi berkelanjutan dengan pemerintah pusat, daerah, dan mitra lokal untuk membantu proses pemulihan paska bencana anak-anak dan masyarakat. Tujuan utama dari respon kemanusiaan kami adalah membantu pemulihan dan pemenuhan hak-hak anak atas layanan dasar yang penting untuk mereka seperti layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan.” Ujar Fandi Yusuf Senior Strategic Communications Manager Yayasan Yayasan Save the Children Indonesia Indonesia

Yayasan Save the Children Indonesia terus berkomitmen untuk mendamping anak-anak seperti Hana*, memastikan mereka mendapatkan perlindungan, akses pendidikan, dan dukungan psikososial agar mereka dapat bangkit lebih kuat dari bencana.

Scroll to Top