Dari Ragu Menjadi Penggerak: Perjalanan Melinda dalam Mewujudkan Sanitasi Layak di Desa

Di sebuah desa pelosok di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tantangan kesehatan bukan sekadar angka. Waktu tempuh menuju rumah sakit bisa mencapai 4-5 jam perjalanan darat. Jarak ini menjadikan setiap masalah kesehatan sebagai pertaruhan hidup dan mati.

Pada bulan Januari 2026, desa ini berduka setelah terjadi lonjakan kasus diare yang merenggut nyawa tiga balita. Situasi tersebut dipengaruhi oleh belum optimalnya praktik sanitasi layak, termasuk pengelolaan air minum serta kebersihan dasar.

Di tengah keprihatinan tersebut, muncul sosok Melinda, seorang perempuan berusia 25 tahun yang merupakan kader desa. Awalnya, Melinda merasa ragu karena belum memiliki pengalaman langsung dalam memfasilitasi perubahan perilaku masyarakat. Namun, semua berubah saat Melinda mengikuti Pelatihan Fasilitator STBM Plus (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) pada Maret 2026.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program RESILIENCE yang dijalankan oleh Save the Children Indonesia dengan dukungan pendanaan dari Cargill. Salah satu tujuan utama program ini adalah membangun ketahanan komunitas dengan memastikan setiap individu memiliki akses ke fasilitas kebersihan serta memahami pentingnya sanitasi yang layak.

Demi Kesehatan Keluarga dan Masyarakat

Dalam pelatihan tersebut, Melinda dibekali pemahaman mengenai pentingnya menghentikan kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS), cuci tangan pakai sabun, hingga pengelolaan air minum dan limbah rumah tangga yang aman.

Melalui sesi pemetaan sanitasi dusun, Melinda diajak menggambar kondisi nyata desanya, mulai dari rumah-rumah tanpa jamban hingga titik-titik yang berpotensi menjadi sumber penyebaran penyakit. Momen itu menjadi tamparan bagi Melinda.

“Dulu saya hanya sekadar lewat tanpa peduli, tetapi proses menggambar ini menyadarkan saya betapa seriusnya ancaman kesehatan yang selama ini kita biarkan,” ungkap Melinda.

Sepulang dari pelatihan, Melinda bukan lagi sosok yang ragu. Ia memulai perubahan dari lingkungan terkecilnya, yaitu keluarganya sendiri. Selain itu, ia kini juga aktif mengajak warga untuk membangun jamban sehat secara mandiri tanpa harus menunggu bantuan.

Solusi Alternatif dari Kelompok Menabung

Melinda turut menginisiasi pembentukan kelompok Village Savings and Loan Association (VSLA). VSLA adalah sebuah model penyelenggaraan kelompok simpan pinjam berbasis komunitas yang dikelola dan dimodali secara mandiri oleh para anggota. Setiap anggota menabung bersama-sama melalui pembelian lot. Mereka juga dapat mengajukan pinjaman tanpa bunga, tetapi tetap dengan biaya pengajuan/layanan serta aturan denda sesuai kesepakatan kelompok.

Bagi warga desa, VSLA menjadi solusi pembiayaan alternatif untuk memenuhi kebutuhan penting keluarga. Salah satunya untuk membangun fasilitas sanitasi layak yang selama ini memang belum optimal. Melinda dan rekan kader bersama-sama berkomitmen tidak ada lagi kasus penyakit yang merenggut nyawa, padahal seharusnya bisa dicegah melalui perubahan perilaku yang mendasar.

Bergerak untuk Generasi yang Lebih Baik

Melinda telah bertransformasi menjadi agen perubahan. Selain aktif melalukan edukasi sanitasi dan menggerakkan kelompok simpan-pinjam, ia juga berkontribusi dalam kesehatan dan gizi melalui kegiatan Posyandu.

Dalam Posyandu, iarutin memberikan pemahaman pada para ibu tentang pentingnya gizi ibu hamil serta praktik pemberian makan bayi dan anak (PMBA) demi mencegah stunting. Baginya, ini adalah ikhtiar untuk menjaga masa depan generasi berikutnya di desa.

“Sekarang saya tidak lagi ragu. Saya sadar bahwa setiap tindakan kecil yang kita mulai hari ini adalah benteng pertahanan bagi kesehatan anak-anak kita di masa depan,” ungkap Melinda.

Dukungan Program RESILIENCE melalui peningkatan kapasitas kader lokal ini telah membuktikan bahwa ketika seorang perempuan muda diberi ruang dan kesempatan, ia mampu menggerakkan satu desa menuju ketahanan dan pola hidup yang lebih sehat.

Scroll to Top