Dimas (18) tidak menyangka kehidupannya di masa SMK akan menjadi begitu berkesan dan memberi banyak pengalaman. Ia adalah salah satu Child Campaigner dari Jakarta. Awalnya Dimas tidak punya target yang cukup jelas saat memasuki jenjang SMK. Ia hanya ingin memperoleh nilai bagus dan bisa masuk di universitas impiannya.
Saat di SMK, Dimas mulai sadar kalau ada banyak sekali kegiatan yang bisa membantu meningkatkan potensi dirinya. Ia pun memutuskan ikut Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Setelah mengikuti proses seleksi, ia akhirnya diterima dan dipercaya menduduki posisi wakil ketua OSIS.
Di kelas 11, Dimas merasa ilmu yang ia dapatkan selama menjadi anggota OSIS sudah cukup untuk diterapkan dalam kesehariannya. Ia pun memutuskan untuk tidak bergabung di periode keanggotaan OSIS selanjutnya. Usai tak lagi menjadi anggota OSIS, Dimas sempat mendapat tawaran dari gurunya untuk bergabung dalam sebuah program dari Save the Children dan menjadi anggota Child Campaigner di Jakarta.
“Saat di OSIS lebih cenderung teratur pola kerjanya, jadi terasa stagnan aja. Sedangkan waktu gabung Child Campaigner, pola kerja sama dan kolaborasi itu sangat beragam dan bervariatif. Jadi terasa lebih menantang jalaninya,” jelas Dimas.
Perjalanan Dimas sebagai Child Campaigner menghasilkan banyak pelajaran dan insight baru yang tidak pernah ia dapat dari pelajaran sekolah. Mulai dari menjalankan project hingga menjalin relasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Di samping itu, Dimas juga mendapat pendampingan dari fasilitator Save the Children selama menjalani pelatihan dan kegiatan.
Setelah kegiatan program Child Campaigner selesai, Dimas sangat senang bisa menyelesaikannya dengan baik. Namun ia merasa cukup sedih karena mengira tidak akan bisa mengikuti kegiatan serupa lagi. Siapa sangka, ia kembali mengikuti program yang diselenggarakan oleh Save the Children bernama Aksi Generasi Iklim.

Aksi Generasi Iklim adalah kampanye yang dilaksanakan oleh Save the Children sejak tahun 2022 untuk meningkatkan kesadaran akan dampak krisis iklim terhadap kehidupan anak-anak. Mulai 2024, Save the Children berkolaborasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), LEGO Foundation, dan berbagai organisasi lokal.
Kampanye Aksi Generasi Iklim ini bertujuan menciptakan pendekatan yang sesuai dengan konteks lokal dengan memberikan ruang bagi anak dan orang muda di setiap daerah untuk menyuarakan keresahan mereka secara langsung.
“Waktu itu kak Dilla, (salah satu co-fasilitator) sempat menjelaskan tentang usaha menstabilkan suhu bumi. Dari penjelasan itu ekspektasiku gede banget dan selaras dengan yang diceritain. Aku merasa sayang kalau hal-hal seperti itu tidak banyak didengar dan diketahui,” ungkap Dimas menceritakan kesannya saat bergabung dengan Aksi Generasi Iklim.
“Di program ini ruang buat kolaborasinya lebih terasa dan terarah. Keterlibatan dan kemandiriannya juga lebih banyak. Jadi tuh kesadaran diri buat aktif di program lebih berasa,” imbuh Dimas.
Dimas merasakan perubahan yang cukup berbeda dari program yang ia ikuti sebelumnya. Ia kini belajar tentang cara untuk mencegah peningkatan suhu bumi menggunakan berbagai metode. Pada aksi pertama dari Program Aksi Generasi Iklim, Dimas dan teman-teman Child Campaigner melakukan Program SEKANTIK (Sekolah Anti Jentik Nyamuk). Kegiatan ini terbagi menjadi dua tahap, yaitu EKA (Edukasi, Kawan Bercerita, dan Aksi) serta lomba recycling yang diadakan antar sekolah.
Selama tahap EKA berjalan, Dimas berkolaborasi bersama OSIS di sekolahnya. Ia mengajak OSIS dan teman-temannya untuk mengumpulkan cerita tentang dampak perubahan iklim yang mereka rasakan, seperti peningkatan curah hujan yang menyebabkan kubangan dan banjir, yang ternyata turut meningkatkan percepatan siklus hidup nyamuk demam berdarah.
Setelah tahap EKA selesai, kegiatan lomba recycling sampah plastik menjadi aksi nyata yang dilakukan oleh Dimas dan Child Campaigner lainnya. Harapannya, dengan membuat kreasi dari sampah plastik, mereka dapat mengurangi kubangan air di sekolah dan mencegah demam berdarah.
Lomba recycling ini juga menjadi salah satu kegiatan di puncak acara Aksi Generasi Iklim. Dimas selaku pengurus inti turut mempersiapkan acara puncak. Ia merasa terbantu karena para fasilitator dari Save the Children memberikan pendampingan secara langsung. Pada hari H acara, Dimas mendapat amanah sebagai MC.
“Tidak pernah terbayangkan sebelumnya aku bisa memimpin acara puncak Aksi Generasi Iklim Save the Children dan bertemu orang-orang hebat, baik bapak dan ibu dari kementerian, maupun pemangku kepentingan lainnya,” ungkap Dimas.
Sepanjang berjalannya acara, Dimas merasa kegiatan yang dilakukannya sudah sangat melebihi ekspektasinya sendiri. Kolaborasi yang kuat serta kerja sama yang efektif antar panitia dan Child Campaigner bisa menghasilkan acara yang luar biasa.
Dimas menyelesaikan perjalanannya di SMK dengan menakjubkan. Berawal dari hanya mengejar nilai pelajaran, ia justru mendapatkan pengalaman berharga dengan bergabung di banyak kegiatan yang meningkatkan potensinya. Kini ia telah duduk di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Yogyakarta. Meski telah berganti domisili, Dimas tetap bergabung dengan Child Campaigner dan menjadi bagian dari Child Campaigner Yogyakarta. Ia juga tetap berpartisipasi dalam berbagai kegiatan Aksi Generasi Iklim.
Dimas merasakan banyak perubahan nyata selama berkegiatan bersama Child Campaigner Yogyakarta. Ketika di Jakarta, ia sibuk mempersiapkan program dan rencana-rencana aksi. Sedangkan di Yogyakarta, Dimas merasakan langsung interaksi program yang ia lakukan bersama anak-anak dari berbagai sekolah dasar. Memang, fokus Aksi Generasi Iklim di tahun 2025 adalah pada anak-anak sekolah dasar melalui pendekatan Learning Through Play. Oleh karena itu, Dimas merasa kegiatan Aksi Generasi Iklim kali ini terasa lebih menyenangkan.
“Ada tiga permainan di SD, yaitu main lego, penyaringan air, dan juga tebak kata. Ngajak mereka buat main lego bareng itu seru. Mungkin karena mereka memang sebelumnya sudah dikasih tau dulu tentang daur ulang jadi pas main lego mereka bisa lebih berkreasi, fokus, dan menikmati permainannya,” ungkap Dimas.
“Keterlibatan dalam Program Aksi Generasi Iklim ini tidak hanya menjadi kenangan semata, tetapi juga menjadi sebuah pengalaman hidup yang sangat berarti bagiku. Terlebih semenjak menginjak bangku kuliah, ada banyak sekali kegiatan yang berkaitan dengan pengalaman yang sudah kudapatkan selama menjadi Child Campaigner ataupun saat menjadi panitia Aksi Generasi Iklim sebelumnya,” tutup Dimas.