Berita

Pentingnya Mengajarkan Anak untuk Tidak Menjadi Pelaku Kekerasan Sejak Dini 

Selama ini, banyak orang tua berfokus melindungi anak dari berbagai bahaya di luar sana dengan berbagai cara. Seperti memilih lingkungan sekolah anaknya, memilih pergaulan anaknya bahkan memilihkan aktivitas anak agar terhindar dari lingkungan yang tidak baik dan menjadi korban kekerasan.

Namun, ada satu hal yang sering kali terlewat oleh banyak orang tua: Sudahkan orang tua memastikan anak tidak menjadi bagian dari bahaya itu sendiri?

“Melindungi anak dari bahaya saja tidak cukup. Kita juga harus memastikan mereka tidak tumbuh menjadi pelaku kekerasan, dan hal itu harus dimulai dari lingkungan terdekat anak,” tegas Dewi Sri Sumanah, Brand & Communication Manager Save the Children Indonesia.

Kekerasan Biasa Terjadi di Lingkungan Terdekat Anak

Lingkungan terdekat sering kali menjadi lingkungan terjadinya kekerasan pada anak. Menurut data dari Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2024 menunjukkan bahwa teman sebaya merupakan pelaku yang dominan dalam ketiga bentuk kekerasan terhadap anak, pada kekerasan fisik 3 dari 4 kasus melibatkan pelaku sebaya, baik pada kelompok anak laki-laki maupun perempuan.

Fakta ini menegaskan bahwa: Bahaya tidak selalu datang dari orang asing.

Perilaku Kekerasan Tidak Muncul Tiba-tiba

Perilaku kekerasan dapat ditiru oleh anak sejak mereka masih kecil. Seperti yang disampaikan Albert Bandura, seorang psikolog Kanada-Amerika terkemuka yang mengembangkan teori kognitif sosial, anak belajar melalui observasi dan peniruan.

Hal ini membuktikan bahwa, perilaku kekerasan yang dilakukan orang dewasa maupun anak bukanlah sesuatu yang muncul secara instan. Perilaku ini bisa jadi muncul dari hal-hal kecil yang seringkali dianggap sepele oleh lingkungan sekitarnya, seperti:

  • Kebiasaan mengejek teman yang dibiarkan
  • Kurangnya empati terhadap orang lain
  • Tidak adanya batasan yang jelas tentang perilaku yang dapat diterima lingkungan
  • Paparan terhadap kekerasan, baik dilingkungan sekitar maupun media digital

Ketika perilaku-perilaku kecil di atas ini tidak dikoreksi, anak bisa menganggapnya sebagai hal yang normal. Peran orang tua menjadi sangat penting dalam hal ini. Maka dari itu, orang tua perlu memperhatikan perilaku anaknya sedini mungkin.

Peran Pola Asuh dalam Membentuk Perilaku Anak

Pola asuh sering kali dikaitkan dengan memenuhi kebutuhan anak saja, padahal pola asuh adalah proses membentuk cara anak melihat dan memperlakukan orang lain.

Seperti teori yang disampaikan oleh Albert Bandura di atas, anak tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan oleh orang tuanya, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan rasakan di lingkunganya.

Berikut beberapa pola asuh yang dapat diterapkan orang tua di rumah:

  1. Mengajarkan Empati: Empati dapat diajarkan melalui percakapan sehari-hari, seperti mengajak anak memahami perasaan orang lain dan dampak dari tindakannya.
  2. Menjadi Contoh Positif: Anak meniru apa yang mereka lihat. Sikap orang tua dalam berkomunikasi dan menyelesaikan masalah akan membentuk perilaku anak.
  3. Membangun Komunikasi Terbuka: Ciptakan ruang aman agar anak nyaman bercerita dan belajar memahami mana perilaku yang baik dan tidak.
  4. Mengelola Emosi: Bantu anak mengenali dan mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat tanpa menyakiti orang lain.
  5. Mendampingi Konsumsi Media: Awasi dan diskusikan konten yang dikonsumsi anak agar mereka tidak menormalisasi perilaku kekerasan.

Peran Bersama dalam Melindungi Anak

Mencegah kekerasan terhadap anak tidak bisa dilakukan oleh orang tua saja. Anak tumbuh dan belajar dari berbagai lingkungan termasuk keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas. Karena itu, menciptakan lingkungan yang aman membutuhkan peran bersama.

“Perlindungan anak bukan hanya tentang menjauhkan mereka dari bahaya, tetapi tentang membesarkan generasi yang berani menolak kekerasan, menunjung empati dan menciptakan lingkungan yang aman bagi semua anak,” ucap Dewi Sri Sumanah, Brand & Communication Manager Save the Children Indonesia.

Save the Children juga terus berkomitmen untuk memperkuat perlindungan anak melalui berbagai program edukasi, kampanye, dan pendampingan keluarga dan komunitas.

Lihat juga konten terkait di Instagram kami

Scroll to Top