Cerita Penggerak

Pelukan dari Aceh Tamiang: Catatan Seorang Pekerja Kemanusiaan

Setelah enam hari bekerja di Aceh Tamiang, sore itu di Lintang Bawah, Aceh Tamiang saya akhirnya menangis. “Abang jangan nangis. Kami sudah kering air mata,” kata ibu di hadapan saya. Ia berdiri di depan puing-puing rumahnya. Tidak ada lagi dinding, tidak ada perabot. Hanya lumpur tebal yang belum sepenuhnya kering.


“Kami sudah semangat, abang juga harus semangat,” katanya lantang. Ibu-ibu lain mengangguk pelan, seolah memastikan kalimat itu benar-benar sampai. Justru merekalah yang menguatkan saya, orang asing yang datang mencoba membantu. Di momen itu, saya sadar, peran kami telah terbalik.


Kuala Simpang, pusat Kota Aceh Tamiang, hancur parah. Mobil dan truk besar bertumpuk di tepi jalan, seperti berhenti di tengah permainan yang tak pernah selesai. Di tepi sungai, rumah-rumah hilang tanpa jejak, seolah tidak pernah berdiri di sana. Saya berdiri di antara lumpur yang menutup jalan dan halaman rumah, mencoba memahami skala kehancuran yang tak bisa diukur dengan angka laporan.

Kota Sunyi

Saya memasuki Kuala Simpang dengan berjalan kaki setelah memutuskan turun dari mobil yang terjebak kemacetan. Kabar akses Aceh Tamiang yang terbuka sudah menyebar sehingga banyak kendaraan mencoba masuk melintas. Akses memang mulai terbuka, tetapi kota ini masih lumpuh. Lumpur basah masih menutupi jalan. Bangunan-bangunan di sepanjang jalur utama rusak berat. Tidak ada listrik, tidak ada sinyal. Kota seperti berhenti tiba-tiba.


Saat itulah saya bertemu seorang pria paruh baya yang berdiri di tepi jalan. Tangan dan kakinya dipenuhi lumpur yang mengering. “Belum ada bantuan masuk ke sini, Bang. Sudah berhari-hari kami tidak makan. Lampu mati, tidak ada sinyal. Macam tsunami dulu,” katanya singkat.
Saya tidak bertanya lebih jauh. Bukan karena tidak ingin tahu, melainkan karena saya tidak ingin menambah beban dengan pertanyaan yang ia sendiri mungkin belum siap menjawab. Di kepala saya justru muncul wajah anak-anak dan keluarga yang terdampak banjir.

Wajah Para Pejuang

Di sebuah pos pengungsian sederhana di Lintang Bawah, saya bertemu seorang ibu dengan dua anak. Rumahnya rata dengan tanah setelah diterjang banjir setinggi delapan meter. Selama empat hari, mereka bertahan di atap rumah yang tersisa. Tidak ada akses keluar, tidak ada sinyal, tidak ada bantuan. “Kami minum air banjir,” katanya pelan. Air itu diendapkan terlebih dulu sebelum diminum bersama anak-anaknya. Ia tidak menangis saat bercerita. Kalimatnya tenang, seolah sedang menceritakan sesuatu yang memang harus dilakukan, bukan pilihan yang diinginkan. “Alhamdulillah, kami selamat,” katanya menutup cerita.


Di wilayah yang lebih jauh dari pusat kota, saya bertemu pria paruh baya. Keluarganya juga terdampak banjir, rumah mereka terendam, kebutuhan belum sepenuhnya terpenuhi. Namun sejak hari-hari awal bencana, ia justru sibuk memastikan warga lainnya tidak luput dari bantuan.

Ia membantu menunjukkan jalur masuk ke wilayah yang lebih dalam, menghubungkan tim dengan warga, dan memastikan bantuan sampai ke tangan yang tepat. “Keluargaku juga kena banjir,” katanya singkat, “tapi yang lain juga butuh dibantu.” Ia tidak banyak bicara. Ia hanya bergerak.


Di sudut lain lokasi pengungsian, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun tampak dengan tangan dan kaki yang masih berlumur lumpur. Sejak pagi ia membantu orang tuanya membersihkan sisa banjir. “Capek,” katanya sambil tersenyum, “tapi harus dibersihin biar bisa dipakai lagi.” Sore harinya, ia bermain bersama teman-temannya di ruang ramah anak yang dibuka sementara, tertawa dan bermain. Ia tidak diam menunggu bantuan. Ia bergerak, dengan cara yang ia bisa.

Belajar Bertahan dari Mereka yang Kehilangan

Dari warga Aceh Tamiang saya belajar tentang makna ketahanan yang lain. Ketahanan bukan tentang meniadakan duka atau terlihat kuat setiap saat. Ketahanan adalah bergerak meski kondisi belum sepenuhnya baik. Bertahan di atap rumah dengan air banjir yang diendapkan, memastikan bantuan sampai ke desa lain meski keluarga sendiri terdampak, atau membersihkan rumah sejak pagi lalu tetap menyisakan ruang untuk bermain.

Di tengah situasi tersebut, respons kemanusiaan Save the Children terus dilakukan. Bantuan telah disalurkan di sejumlah wilayah terdampak di Provinsi Aceh, termasuk Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Takengon, serta di Sumatra Utara, di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Upaya ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan darurat melalui distribusi bahan pangan, air bersih, obat-obatan, selimut, dan matras, sekaligus dukungan psikososial bagi anak-anak dan keluarga terdampak.


Bantuan memang penting untuk menyelamatkan nyawa, memulihkan harapan, dan melanjutkan kehidupan dengan normal secepat mungkin. Namun yang tak kalah penting adalah memastikan anak-anak tetap terlindungi, keluarga mendapat dukungan, dan komunitas bisa bangkit dengan martabatnya sendiri.


Sore itu, setelah mendapatkan semangat dari seorang Ibu di Lintang Bawah, ketika kami bersiap meninggalkan lokasi distribusi, seorang anak dengan disabilitas tiba-tiba memeluk saya erat dan mengucapkan terima kasih. Pelukan itu datang tanpa kata-kata besar, tanpa tuntutan apa pun. Mereka yang kehilangan begitu banyak justru menitipkan semangat kepada saya dan pelajaran yang sangat berharga. Di tengah lumpur dan kehancuran, harapan sering kali datang dari arah yang tidak kita duga.

Scroll to Top