Pelatihan Wirausaha dan Green Enterpreneurship bagi Orang Muda di Surabaya

Orang muda memiliki pilihan memulai bisnis sebagai wirausaha. Namun, menjadi wirausaha muda di Indonesia punya sejumlah tantangan. Misalnya pola pikir negatif, kurangnya dukungan pengembangan usaha, dan kurangnya pengetahuan yang relevan, termasuk akses modal serta bisnis yang memperhatikan kelestarian lingkungan atau green enterpreneurship.

Untuk merespons persoalan tersebut, Save the Children melalui program kesiapan kerja mengadakan kegiatan boot camp bernama Youth-led Innovation Lab (YIL) di Surabaya, Jawa Timur, selama dua pekan pada bulan Oktober 2022. Di sini, orang muda usia 18-24 dilatih dan didampingi untuk menciptakan ide bisnis ramah lingkungan. Rangkaian kegiatan meliputi pelatihan, workshop, diskusi kelompok terpumpun (FGD), dan pitching day atau sesi presentasi.

“Di dalam Youth-led Innovation, kita beri kesempatan orang muda untuk belajar melakukan pitching, termasuk tentang pentingnya memahami value calon donor (investor) saat melakukan pitching. Harapannya, ke depan hasil ide kreatif mereka bisa diwujudkan,” kata Evie Woro, Manajer Program kesiapan kerja Skills to Succeed di Save the Children.

Sebelum sesi pitching atau presentasi, para peserta dibekali dengan pelatihan untuk menanamkan beragam soft skill untuk mewujudkan green entrepreneurship. Materi tersebut di antaranya adalah memahami potensi diri, klasifikasi tipe bisnis, menentukan target, literasi keuangan, membangun relasi bisnis, mendapatkan investor, hingga sesi pemahaman sosial antara bisnis dengan manusia.

Materi-materi tersebut dipaparkan oleh Andri Isyunanto, staf program Save the Children, dan Agus Budi Setyawan, seorang praktisi usaha. Materi disampaikan secara interaktif, salah satunya melalui pengisian lembar kerja sehingga peserta dapat langsung mengevaluasi potensi diri.

“Selain membuat produk, memiliki soft skill itu penting. Kemampuan hard skill masih akan kurang tanpa soft skill,” tutur Andri.

Sesi pitching juga dikemas dalam bentuk kompetisi. Sebanyak 17 kelompok orang muda peserta berkompetisi secara maksimal dalam menciptakan ide bisnis yang autentik dan dapat berkontribusi dalam mengurangi permasalahan akibat dampak krisis iklim.

Belasan ide solutif muncul dari para peserta. Beberapa di antaranya terpilih sebagai pemenang kompetisi, yaitu ide membuat aplikasi tukar sampah dengan smartphone, menciptakan teknologi kebun sayur di perkotaan, atau meracik minuman dari buah pepohonan mangrove. Ketiganya dari kelompok orang muda yang menamakan diri “Refull”, “Locateam”, dan “Kopelan”. 

Menurut Evie, tujuan lain dari kegiatan YIL adalah turut mendorong anak-anak muda mengidentifikasi permasalahan lingkungan di sekitar mereka.

“Dari situ, kemudian anak-anak muda ini menuangkan ide bisnisnya ke dalam prototipe, yang mungkin ke depan dapat diwujudkan melalui latihan pitching ini,” tutur Evie.

Para peserta bercerita bahwa mereka mendapat banyak wawasan baru terkait green entrepreneurship. Reza salah satu peserta mengatakan, dari kegiatan ini, ia semakin sadar bahwa mengasah soft skill sama pentingnya dengan menyelesaikan pendidikan formal.

“Kegiatan-kegiatan seperti ini yang akan membekali aku selesai kuliah nanti. Dari pitching ini, aku juga jadi paham, ide kita ternyata juga sebuah peluang usaha,” ungkap Reza.

Kesuksesan YIL boot camp di Surabaya ini akan menjadi langkah awal bagi tim program Save the Children untuk memperluas jangkauan kegiatan. Pada tahun 2023 nanti, Save the Children melalui program kesiapan kerja Skills to Succeed berencana mengadakan YIL boot camp di lima wilayah dengan skala nasional.

Kegiatan YIL boot camp ini sekaligus mengawali upaya Save the Children membangun wahana peningkatan kapasitas orang muda dalam mewujudkan green enterpreneurship yang dapat berkontribusi terhadap penanganan dampak krisis iklim. •

Scroll to Top