
Save the Children Indonesia bersama Children and Youth Advisory Network (CYAN) mengadakan pelatihan untuk anak dan orang muda terkait pemberian dukungan psikososial atau psychosocial support (PSS) kepada anak-anak dan keluarga dalam situasi bencana. Setidaknya ada lebih dari 400 orang anak dan orang muda usia 16-24 tahun yang mendaftar. Sebanyak 31 orang di antaranya lolos seleksi untuk mengikuti pelatihan.
Pendaftaran dimulai sejak Juli 2022 melalui postingan media sosial Instagram Save the Children Indonesia dan jejaring organisasi. Rangkaian kegiatan pelatihan diadakan selama sepekan pada 25-30 September 2022 di Bogor, Jawa Barat.
“Awalnya kita hanya menargetkan peserta 22 orang, tapi ternyata dengan besarnya animo dari anak-anak dan orang muda, kita menambah kuota sehingga menjadi 31 orang yang ikut dalam pelatihan ini,” kata Wiwied Trisnadi, Senior Manager Humanitarian Save the Children Indonesia.
Pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan anak-anak dan orang muda untuk menjadi fasilitator PSS bagi anak-anak yang membutuhkan dukungan psikososial awal, termasuk masalah kebersihan dan kesehatan dalam situasi bencana. Selanjutnya, mereka memiliki kesempatan untuk membantu anak-anak yang terdampak bencana.
Gagasan pelatihan ini berangkat dari masukan perwakilan anak saat tim humanitarian Save the Children menyusun Emergency Preparedness Plan (EPP). Pada saat itu, muncul pertanyaan terkait kegiatan respons bencana yang biasanya selalu dilakukan oleh orang dewasa, sementara anak-anak selalu menjadi penerima manfaat.
“Apakah anak-anak tidak bisa menjadi aktor atau pelaku dari respons itu?” kata Wiwied menirukan pertanyaan dari perwakilan anak yang dimaksud.

Dari masukan tersebut, tim humanitarian merancang program di mana anak-anak remaja dan orang muda punya kemungkinan terlibat aktif dalam respons darurat oleh Save the Children. Program ini dimulai dengan pelatihan untuk anak-anak remaja dan orang muda terpilih. Peserta pelatihan datang dari berbagai daerah, seperti Aceh, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua. Berikutnya, tim humanitarian Save the Children dan para peserta pelatihan akan berkontak secara rutin, termasuk untuk diskusi lanjutan tentang materi dukungan psikososial.
“Nah, jika – saya tidak berharap ada, tetapi kita harus siap siaga – jika ada kejadian (bencana) dan kita membutuhkan dukungan teman-teman, kita akan kontak mereka, siapa yang ada di wilayah terdekat,” jelas Wiwied. “Jika (mereka) ada waktu, kita akan siapkan keberangkatannya dan hal-hal lain sehingga mereka bisa berkegiatan dengan aman.”
Wiwied juga menyebut bahwa anak-anak remaja dan orang muda peserta pelatihan ini diharapkan dapat menjadi fasilitator PSS untuk wilayah masing-masing. Mereka tidak terikat harus membantu anak-anak melalui Save the Children.
“Jika ada kebutuhan lain di tingkat provinsi atau daerah mereka, mereka bisa melakukan PSS ini. (Pelatihan) ini bagian dari investasi kami untuk bisa membantu (masyarakat) lebih luas,” sambung Wiwied.
Dalam kegiatan dukungan psikososial untuk anak-anak, Save the Children Indonesia berusaha membantu pemulihan mental anak-anak dan keluarga yang terdampak bencana, atau mengurangi kemungkinan kondisi yang lebih buruk terjadi. Dalam pelatihan ini, para peserta mendapatkan modul terkait psikososial sebagai acuan pelatihan sepekan.
“Isi modulnya macam-macam terkait psikososial, mulai dari macam-macam stres, stres itu apa, cara menghadapinya gimana, dan juga ada hal lain, seperti perilaku hidup bersih dan sehat itu seperti apa,” kata Bram Marantika, Technical Program Manager MHPSS Save the Children Indonesia.
“Jadi di modul itu, kita sudah siapkan semua dan itulah yang kita harapkan selama seminggu ini teman-teman bisa belajar dan mempraktikkan,” imbuh Bram.

Ada beberapa kisah menarik yang dibagikan oleh anak-anak peserta pelatihan. Jesse (17) adalah salah satunya, dia datang dari Purworejo, Jawa Tengah. Jesse bercerita, dia biasa menjadi pendengar saat teman-temannya berbagi cerita. Menurut dia, perlu ada respons yang lebih baik dalam mendengarkan keluh kesah teman-teman.
“Aku berharap dengan aku ikut pelatihan ini, aku bisa lebih tahu cara merespons mereka itu gimana. (Motivasi) awalnya itu sih, buat temen-temen dulu,” ungkap Jesse.
Jesse juga bercerita bahwa sebelumnya, dia pernah ikut kegiatan respons bencana saat dirinya masih lebih muda sehingga saat itu tidak banyak yang dia bisa lakukan selain membantu distribusi bantuan bagi penyintas bencana tanah longsor.
Cerita ini senada dengan Sean (17), seorang peserta dari sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan. Saat lebih muda, dia hanya mampu membersihkan sisa-sisa barang bekas kobaran api setelah rumah tetangganya dilanda kebakaran.
Sean tertarik ikut pelatihan PSS karena dia ingin memahami lebih dalam tentang isu anak dan orang muda. Dia merasa bahwa di daerah tempat tinggalnya, forum anak kurang diperhatikan dan masih belum diberi ruang aktif oleh pemerintah daerah.
“Setiap (kami) kasih masuk proposal ke daerah, selalu dibilang tidak ada dana. Jadi, kami inisiatif untuk mencari dana. Dulu ada namanya Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan), dan itu diambil alih semua oleh (pemerintah) daerah, forum anak tidak diberikan kesempatan untuk aktif di dalamnya. Jadi kami punya inisiatif untuk datang ke sini agar bisa mengembangkan forum anak di kabupaten,” kata Sean optimistis.
Peserta lain datang dari Nusa Tenggara Timur. Elvira (17) tertarik mengikuti pelatihan ini karena ingin memaknai lebih dalam tentang isu anak dan solusi yang bisa diterapkan. Di daerah tempat dia tinggal, dia menemui banyak persoalan yang perlu ditangani, seperti kasus perkawinan anak, anak putus sekolah karena kondisi ekonomi, dan kenakalan remaja dalam pergaulan.
“Saya inisiatif untuk daftar ini. Siapa tahu dengan adanya saya di sini, saya bisa bantu menyuarakan suara remaja timur. Terus, saya sendiri melihat, anak kecil kelas 1 SD tidak dapat bekerja karena membantu mamanya berjualan, pernikahan di bawah umur, dan kayak pacaran juga di luar batas,” ungkap Elvira.
Narasi anak-anak tersebut mewarnai latar belakang partisipasi anak-anak dan orang muda dalam pelatihan PSS. Mereka berharap melalui pelatihan ini, mereka bisa membawa wawasan tentang psikososial ke daerah masing-masing, terutama bagi anak-anak dan keluarga yang membutuhkan dukungan dari tetangga, saudara, dan teman-teman sebaya.