Berita

Pelatihan HEART bagi Para Guru di Bandung untuk Mendukung Kesejahteraan Psikologis Anak

Bandung – Save the Children dan Yayasan PULIH kembali mengadakan pelatihan sesi Healing and Education through the Arts (HEART) bagi para guru di Kota Bandung, Jawa Barat pada 24-27 Juli 2023. Para guru dibekali dengan pendekatan alternatif untuk menggunakan kegiatan seni dalam memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak di sekolah.

Sebanyak 24 perwakilan guru dari dari tiga SD dan tiga SMP di Kota Bandung mengikuti pelatihan ini. Setiap sekolah diwakili oleh empat guru. Setiap hari, guru-guru diajak untuk mengekspresikan diri lewat aktivitas seni berbeda, seperti melukis, bermain drama, atau bermain alat musik sederhana. Tujuannya adalah memberikan guru pengalaman menjadi peserta sesi HEART. Dengan begitu, mereka juga dapat menjadi fasilitator untuk menerapkan sesi serupa kepada murid-murid di sekolah masing-masing.

Rangkaian pelatihan ini merupakan bagian dari Program Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (MHPSS) yang dijalankan oleh Save the Children dan Yayasan Pulih dengan dukungan Johnson & Johnson. Sebelumnya, pelatihan sesi HEART sudah pernah diadakan untuk guru-guru dari sekolah berbeda.

“Program ini memang kerja sama antara Yayasan Pulih dan Save the Children yang sudah berjalan dari tahun 2021 sampai sekarang. HEART menggunakan media seni agar peserta bisa mengekspresikan diri,” jelas Rissa, salah satu psikolog dari Yayasan Pulih yang menjadi fasilitator pelatihan.

“Basis dari pelatihan ini pun sebenarnya ingin memberikan kesempatan kepada peserta, sebelum mereka menjadi fasilitator kepada murid-muridnya, untuk mengalami secara langsung terlebih dahulu. Jadi, memang supaya mereka tahu, apa sih dampak bagi diri mereka?” lanjut Rissa.

Ifa, guru Bahasa Inggris dari SMP 6 Bandung bercerita tentang pengalamannya mengikuti salah satu sesi. Dalam sesi ini, Ifa dan guru-guru lain diminta untuk meninjau ulang aktivitas seni yang mereka lakukan. Kemudian, secara berkelompok mereka mendapat tugas untuk membuat miniatur rumah atau sekolah masa depan dari bahan karton. Hasilnya dipresentasikan kepada peserta lain.

“Sebenarnya ini refleksi ke diri sendiri, karena kalau ke murid sendiri, kadang kita bisa berkata, ‘Besok kalau ada lomba maket, kalian harus bisa ya.’ Ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Intinya, enggak boleh pada anak langsung berkata, ‘Kamu harus mengerjakan, terus kamu harus bisa ya,’” ungkap Ifa.

Menurut Rissa, hal menarik dari rangkaian sesi ini adalah bagaimana peserta menemukan relevansi dari setiap kegiatan, mengaitkan dengan pengalaman mereka sehari-hari.

Setiap hari, rangkaian pelatihan HEART ditutup dengan refleksi dan evaluasi peserta. Ifa juga membagikan kesannya. Menjadi peserta HEART membuatnya lebih memahami cara memberikan sesi serupa kepada anak-anak didiknya. Dia juga semakin meyakini bahwa emosi harus diekspresikan dengan cara tertentu untuk menjaga kesehatan jiwa.

“Saya akan menerapkan sesuai panduan yang diberikan dan juga mengaplikasikan apa yang sudah saya rasakan di sini kepada anak-anak, caranya seperti apa, karena memang learning by doing itu lebih baik daripada kita cuma baca saja,” kata Ifa.

“Hal yang paling saya pelajari itu mengenal diri sendiri. Setelah saya mempelajari ini, pemikiran saya semakin dikuatkan kalau sebenarnya tidak apa-apa kalau kamu punya emosi – yang kalau kata orang, (emosi) enggak harus diluapkan. Tapi namanya manusia, ya punya emosi dan harus menunjukan emosinya supaya mereka bisa hidup dengan sehat. Karena sehat itu enggak cuma dari fisik, tapi batin mereka juga harus sehat.”

Scroll to Top