Anak-anak remaja komunitas Child Campaigner Jawa Barat mengadakan lokakarya atau workshop pembuatan film dokumenter anak tentang krisis iklim sebagai bagian dari kampanye Aksi Generasi Iklim Save the Children. Rangkaian lokakarya ini dimulai sejak Agustus 2022 dan diakhiri dengan acara pemutaran dan diskusi film di Bandung pada hari Minggu, 11 September 2022.
Aksi Generasi Iklim merupakan kampanye Save the Children Indonesia sejak tahun 2022 yang berfokus pada partisipasi anak dan isu krisis iklim. Gerakan kampanye ini diinisiasi dan dipimpin oleh anak-anak remaja dengan tujuan untuk lebih memahami dampak krisis iklim serta memiliki tindakan kolaborasi dalam mengatasi dan beradaptasi dengan dampaknya demi masa depan berkelanjutan. Penggerak utama kampanye ini adalah anak-anak yang bergabung dalam komunitas Child Campaigner Save the Children di beberapa provinsi, termasuk Jawa Barat, Yogyakarta, Sulawesi Tengah, Jakarta, dan Sulawesi Selatan.

(Foto: RG Studio / Save the Children)
Di Jawa Barat, anak-anak Child Campaigner menggagas kegiatan lokakarya dan mini festival film dokumenter anak sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran tentang dampak krisis iklim terhadap anak dari perspektif anak. Lokakarya dan mini festival film dokumenter anak ini diselenggarakan melalui kolaborasi dengan rumah produksi Sure Pictures dan komunitas Taruna Liar dari Semarang.
Dari hasil lokakarya, total ada tujuh film dokumenter pendek buatan anak-anak. Tiga di antaranya ditayangkan dalam sesi pemutaran dan diskusi.
- Bumi Suaka, produksi anak-anak dari Child Campaigner Bandung. Film ini bercerita tentang dampak atas krisis iklim terhadap keamanan tempat tinggal keluarga petani dan hasil panen tani di Desa Margaluyu, Pangalengan. Film ini ditayangkan dalam sesi diskusi.
- Hirup Sesak (Bahaya Terdekat Manusia), produksi anak-anak dari Forum Anak Kota Cimahi. Film ini bercerita tentang kualitas udara Kota Cimahi yang berpengaruh pada kesehatan masyarakat terutama bagi anak-anak di Kota Cimahi, Bandung. Film ini ditayangkan dalam sesi diskusi.
- Bandung Abu-abu, produksi anak-anak dari Forum Anak Kota Bandung. Film ini bercerita tentang perubahan iklim kondisi Kota Bandung saat ini. Film ini ditayangkan dalam sesi diskusi.
- Tirta Nirmala, produksi anak-anak dari SMAN 25 Bandung. Film ini menceritakan keluh kesah air sungai yang berbicara dengan manusia karena kualitasnya yang semakin kotor. Film ini menampilkan pula Didi Ruswandi, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Binamarga Kota Bandung.
- Manusia Bersuaka, produksi anak-anak dari Kelompok Forum Anak Kabupaten Bandung. Film ini yang bercerita mengenai kerusakan lingkungan dari dampak perubahan iklim hutan di wilayah Ciparay, Bandung.
- Hutan Aman Semua Kawan, produksi kelompok anak-anak dari Kabupaten Sumedang. Film ini menyodorkan opini anak-anak muda tentang pencemaran hutan dan apa pentingnya bagi mereka.
- Takdir Petani di Tangan Iklim, produksi anak-anak Forum Trees dari SMAN 1 Banjaran. Film ini menceritakan kisah seorang petani yang bekerja dengan bergantung pada iklim.
Sebanyak 24 anak terlibat lokakarya dan terbagi dalam delapan kelompok dari perwakilan lima wilayah, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, dan Kota Cimahi. Rentang usia para partisipan adalah 16-18 tahun.
Rahman (18), anggota Child Campaigner wilayah Jawa Barat yang menjadi ketua panitia festival, menyebut bahwa mereka memilih menyuarakan dampak krisis iklim melalui film dokumenter karena medium ini sedang populer di Indonesia.
“Film ini akan disebarluaskan melalui media sosial sehingga masyarakat mendapatkan literasi iklim dengan menonton film yang tidak membosankan dan mengedepankan fakta sehari-hari yang dialami oleh kita semua,” lanjut Rahman.

(Foto: RG Studio / Save the Children)
Sesi pemutaran film dokumenter anak ini diramaikan dengan diskusi bersama anak-anak serta tiga narasumber undangan. Ada Ardian Parasto, praktisi film dari Sure Pictures dan fasilitator lokakarya ini, Iqbal Kusumadirezza, pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandung, dan Nabila Ishma, seorang influencer media sosial di Bandung.
Memasuki sesi diskusi, suasana semakin ramai. Salah satu penonton bertanya, lantas bagaimana kita mulai untuk peduli lingkungan terutama kita semua yang ada di sini?
“Pembahasan perubahan iklim itu jarang banget, apalagi dari sudut pandang anak-anak. Edukasi tentang perubahan iklim pun baru banyak di dua tahun belakangan,” kata Rezza.
“Yang paling mudah itu sebenarnya melihat isu di paling dekat. Misalnya, kita bicara soal tidak boleh melakukan pembakaran sampah, itu kasih pertanyaan, kenapa tidak boleh dibakar? Karena itu sampah, kalau dibakar, jadi racun, masuk ke paru-paru. Kita berangkat dari isu di sekitar kita,” sambung Rezza.
Peserta yang terlibat cukup antusias sampai akhir acara. Selain pemutaran dan diskusi film, anak-anak Child Campaigner juga mengadakan acara mini fashion show pakaian dari material daur ulang dan konser mini akustik.

(Foto: RG Studio / Save the Children)
Festival ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi audiens tentang krisis iklim yang sedang terjadi serta apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat dan para pemangku kepentingan.
Diana, anggota Forum Anak Kota Cimahi, menyampaikan pendapatnya dalam film Hirup Sesak, ““Polusi udara dapat mengancam kesehatan dan perkembangan anak, beresiko menimbulkan masalah pada persalinan ibu dan juga kematian bayi-bayi yang baru lahir.”
Dalam film Bandung Abu-Abu, salah seorang anak dari Forum Anak Kota Bandung berpendapat, “Pada akhirnya kita sadar apa yang kita perbuat seharusnya kita juga yang bertanggungjawab. Tak sepatutnya kita bertanya, kenapa keadaan Bandung kini sangat buruk? Tapi kita seharusnya bertanya, apa yang sudah kita lakukan sampai Bandung menjadi seperti ini?”






