Cerita Penggerak

Musrenbang Anak Lombok Tengah Hasilkan Sembilan Poin Suara Anak, Salah Satunya Tentang Isu Perkawinan Anak

LOMBOK TENGAH – Puluhan anak-anak remaja di Lombok Tengah telah menyampaikan aspirasi mereka dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Khusus Anak yang diadakan oleh pemerintah kabupaten pada 18-19 Februari 2023. Mereka adalah anak-anak yang juga terlibat dalam kegiatan program Save the Children di Lombok terkait advokasi.

Musrenbang Anak ini mengambil tema: Everyone Deserves a Success, Only Sky is the Limit. Anak-anak berdiskusi dalam acara dua hari dan menghasilkan sembilan poin “suara anak”. Poin-poin tersebut akan disampaikan dalam kegiatan Musrenbang Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) Kabupaten Lombok pada Mei 2023 mendatang.

Berikut adalah sembilan poin aspirasi tersebut.

  1. Kami, anak Lombok Tengah, menginginkan adanya perpustakan umum dan roadshow perpustakaan ramah anak di setiap kecamatan.
  2. Kami, anak Lombok Tengah, menginginkan penegasan peraturan desa, peraturan bupati, dan peraturan daerah tentang larangan pernikahan di bawah umur, serta larangan tentang eksploitasi anak dan adanya sanksi tegas untuk pelaku dan pendukungnya dari semua golongan.
  3. Kami, anak Lombok Tengah, menginginkan adanya sosialisasi tentang semua permasalahan dan isu anak ke setiap lapisan masyarakat.
  4. Kami, anak Lombok Tengah, menginginkan adanya layanan informasi dan taman baca untuk penyandang disabilitas.
  5. Kami, anak Lombok Tengah, menginginkan pengawasan dan jaminan keamanan untuk anak ketika berada di luar rumah.
  6. Kami, anak Lombok Tengah, menginginkan adanya sarana dan prasarana di setiap desa, seperti sarana olahraga, taman baca ramah anak, serta diadakan dan didukungnya organisasi untuk menggali potensi anak, seperti forum anak desa maupun organisasi anak lain.
  7. Kami, anak Lombok Tengah, menginginkan adanya sarana transportasi umum yang memadai dan tidak memberatkan untuk anak sekolah di setiap kecamatan.
  8. Kami, anak Lombok Tengah, menginginkan tindakan untuk anak yang putus sekolah, yakni difasilitasi dan didorong untuk sekolah kembali, serta terjaminnya pemenuhan hak anak bagi penyintas pernikahan usia anak.
  9. Kami, anak Lombok Tengah, menginginkan adanya infrastruktur yang layak dan akses informasi untuk anak di pelosok desa.

Dalam acara Musrenbang Anak ini, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah juga memberikan penghargaan kepada Save the Children sebagai lembaga mitra utama pemerintah daerah dalam pemenuhan hak anak. Penghargaan secara simbolis diberikan oleh Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri kepada Manajer Program HEAL Save the Children Kristi Praptiwi.

Wakil Bupati Lombok Tengah Nursiah, yang hadir pada hari kedua, menyampaikan bahwa kerja sama antara anak-anak dengan pemerintah dan pihak pendukung seperti lembaga kemasyarakatan dan lembaga non pemerintah ibarat sebuah lingkaran. Tidak ada batasan antara anak dengan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan, melaksanakan pembangunan, hingga bekerja berdasarkan hasil evaluasi.

“Ini juga jadi bentuk kebersamaan antara anak-anak dengan dinas terkait. Penjabarannya akan kita bahas di tingkat kabupaten dari sembilan poin suara anak itu. Hebat, luar biasa anak-anakku, yang langsung mengisi, bahkan memberikan saran, pendapat, rekomendasi untuk Musrenbang kabupaten nanti,” kata Nursiah.

Sekretaris Daerah Lombok Tengah Lalu Firman Wijaya menyebut bahwa anak-anak tahu kebutuhan mereka sendiri. Musrenbang Anak menjadi kesempatan untuk mengungkap berbagai kendala dan gagasan untuk memecahkan persoalan.

“Ini sekaligus menjadi sosialisasi tentang bagaimana proses perencanaan pembangunan di daerah Lombok Tengah. Perlu dikenalkan juga persoalan-persoalan yang terjadi di daerah kita (kepada anak-anak). Salah satunya, kita adalah satu dari tiga kabupaten yang belum disebut sebagai kabupaten layak anak. Ini tantangan kita yang perlu diselesaikan melalui Musrenbang Anak,” kata Firman.

Sebelumnya, Save the Children melalui Program HEAL telah mendampingi anak-anak di Lombok, termasuk anggota forum anak, untuk lebih memahami isu hak-hak anak di sekitar mereka. Salah satunya lewat proyek penelitian kecil di tingkat desa oleh kelompok anak tentang masalah perkawinan anak. Tim program Save the Children mendukung anak-anak ini dalam setiap proses penelitian hingga saat membagikan hasilnya ke beberapa forum publik.

Pada tahun 2022 lalu, kelompok anak-anak peneliti telah melakukan presentasi laporan penelitian tersebut dalam acara perayaan Hari Anak Nasional di Lombok Tengah. Selain itu, anak-anak turut melakukan sosialisasi tentang stop perkawinan anak di sekolah-sekolah.

Hafiza, Diana, dan Dika, yang merupakan anggota dari forum anak yang sama, pun menceritakan pengalaman mereka mengikuti Musrenbang Anak ini. Mereka mengaku sangat senang dan merasa bangga karena forum anak mereka bisa tergabung dalam perwakilan forum anak lain, untuk ikut Musrembang anak di tingkat Kabupaten Lombok Tengah. Mereka mengatakan bisa turut memberikan pendapat terkait apa yang mereka butuhkan. Selain itu, mereka juga senang karena bertemu banyak teman baru dan bisa saling berbagi terkait kegiatan mereka di setiap forum anak.

Save the Children juga telah membantu anak-anak dalam merancang dan melakukan kegiatan advokasi dan kampanye. Anak-anak peserta mengikuti pelatihan child-led advocacy atau advokasi yang dipimpin oleh anak. Mereka juga mengikuti pelatihan kampanye kreatif lewat video, foto, dan buku cerita. Tujuannya agar anak-anak bisa bersuara di tingkat desa hingga provinsi, serta berkampanye untuk isu-isu yang penting bagi mereka.

 

 

Scroll to Top