Merefleksikan Isu Perlindungan Anak bersama Keluarga Petani Kakao di Luwu Timur dan Luwu Utara

Pelatihan Hak Anak, Perlindungan Anak, Pekerja Anak, dan Sensitivitas Gender bagi Cocoa Doctors dan Kader di Luwu Utara, 2021

Pelatihan tentang hak anak, perlindungan anak, pekerja anak, dan gender sensitivity bagi cocoa doctor dan kader masyarakat dilaksanakan di Aula Kantor Kecamatan Tomoni, Luwu Timur. Kelas ini dibentuk oleh Save the Children dan Sulawesi Community Foundation dengan dukungan Mars untuk mempromosikan pengetahuan tentang praktik yang diperlukan untuk perubahan dalam rantai pasokan kakao, terutama dalam memahami isu perlindungan anak.

Senin, 20 Desember 2021, Basri (58) mendatangi diseminasi kelas Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dengan tidak begitu bersemangat, tampak belum sepenuh hati untuk ikut serta dalam pelatihan. Dia adalah seorang petani kakao dari sebuah desa di Kabupaten Luwu Timur. Sebagian besar peserta di sana adalah perempuan, tapi bukan masalah bagi Basri.

Acara digelar selama dua hari. Banyak topik didiskusikan. Pada hari kedua yakni Selasa, 21 Desember, Basri mulai menunjukkan antusiasme dan sering menyampaikan pendapat tentang hubungan orang tua dan anak, serta bagaimana itu perlu dilakukan dengan baik saat anak-anak beranjak dewasa.

Selama sesi berlangsung, Basri sudah tidak tampak enggan, justru banyak diskusi muncul atas inisiatifnya dan memicu peserta lain untuk ikut menanggapi. Basri dan peserta lain merefleksikan kembali proses pengasuhan anak dalam sesi kelekatan dan disiplin positif. Dia teringat kembali kala dia masih anak-anak. Dia merefleksikan hal itu dengan pola asuhnya kepada tiga anaknya sekarang, yang mana dua anak sedang dalam studi kuliah, dan yang paling kecil duduk di bangku SMA.

Kepada fasilitator desa, Basri bercerita bahwa neneknya pernah memberikan petuah hidup yang dia sulit pahami artinya. Petuah nenek yang dimaksud memiliki arti pokok “menjaga generasi”. Dia mendapat inspirasi dan mulai mampu memahami maknanya saat berulang kali dalam pelatihan disebutkan tentang pengasuhan anak tanpa kekerasan. 

Pelatihan bersama Kader Kelompok Perlindungan Anak

Masih dari desa yang sama, Novika Firdaus (39) yang akrab dipanggil Noni, sudah antusias sejak awal pelatihan ini. Sebelum menjadi kader PATBM, dia sudah sejak awal memiliki ketertarikan dalam berinteraksi dengan anak-anak, pun mendengarkan cerita mereka.

Noni sering memberikan bimbingan belajar kepada anak-anak. Ekspresinya penuh keceriaan. Tak jauh berbeda dengan Basri, kemauan untuk berbagi pengalaman juga memancing peserta lain sehingga ruang diskusi menjadi lebih aktif.

Pelatihan yang dihadirinya saat itu dianggap sebagai tempat untuk menjawab keresahan terhadap situasi anak-anak. Di masa sekarang, semakin sulit untuk memahami seorang anak, alih-alih terlalu ingin tahu membuatnya merasa takut terlalu mencampuri urusan privasi orang lain. Adanya program perlindungan anak memicu dirinya untuk terus peduli dengan anak-anak.

Rasa resah dalam menghadapi anak-anak diungkapkan oleh Noni dalam sesi pelatihan. Dia sering terlibat dalam penyelesaian perkara anak-anak. Biasanya, dia juga ikut dalam pendampingan anak-anak, misalnya terkait perkelahian anak antar desa. Dia juga ikut menangani anak-anak putus sekolah untuk ditindaklanjuti ke dinas terkait. Noni tidak hanya aktif dalam sosialisasi, tetapi juga sampai melakukan pencegahan, penyadaran, dan pendampingan.

Bunga Nasmawati (42), seorang kader siaga dari desa, turut hadir dalam program pelatihan ini. Dia menganggap bahwa orang tua adalah motivator untuk seorang anak sehingga orang tua perlu ada dan menjadi tempat nyaman bagi anak dalam proses tumbuh kembangnya.

“Saat ini, masyarakat belum memahami dan mengerti bagaimana cara kita memperlakukan anak kita, bagaimana kita sebagai orang tua memenuhi kewajiban kita terhadap hak anak, dan bagaimana kita melindungi anak. Karena itu, sangat penting informasi terkait anak ini didistribusikan ke seluruh level di desa maupun di kecamatan, bahkan di level pemerintah daerah,” tuturnya usai acara.

Membangun Sistem Perlindungan Anak PATBM

Melalui perangkat desa, Save the Children Indonesia dan Sulawesi Community Foundation turut mendorong pembentukan PATBM di beberapa desa lain. Pada bulan Mei-Juni 2022, diadakan pelatihan pengasuhan anak (Parenting with Gender Sensitivity Component) di dua desa di Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Luwu Utara.

Tiga orang kader kesehatan dari desa di Luwu Timur ikut hadir dalam program pelatihan. Mereka adalah Ni Made Wikanti (47) sebagai ketua, Ni Wayan Kammi (46) sebagai Koordinator Divisi Pendamping, dan Kurniawati (41) sebagai Bendahara.

“Setelah mengikuti pelatihan, saya menerapkan materi-materi pelatihan pada keseharian saya di keluarga. Hal tersebut membawa perubahan, khususnya dalam hal berkomunikasi dengan anak. Saya tidak lagi berteriak-teriak ketika memanggil anak saya,” ujar Wikanti.

“Selain itu, karena saya juga membagikan pengetahuan yang saya dapatkan selama pelatihan ke anggota keluarga di rumah, anak saya sekarang menjadi paham bahwa ada pekerjaan-pekerjaan yang tidak boleh dilakukan oleh anak seusianya,” imbuhnya.

Menjadi pengurus PATBM membuat mereka bertiga memiliki kewajiban untuk menjadi percontohan masyarakat. Karena itu, mereka selalu hadir dalam pelatihan-pelatihan yang diadakan di tingkat desa, tingkat kecamatan, maupun tingkat kabupaten.

PATBM Pepuro Barat didirikan pada 20 Februari 2022. Saat ini, kelompok PATBM desa tersebut sudah memegang Surat Keputusan dan menjalankan salah satu fungsi untuk melakukan upaya pencegahan kasus-kasus kekerasan terhadap anak dan pekerja anak melalui sosialisasi di masyarakat. Kegiatan tersebut dilakukan sebanyak empat kali dengan memanfaatkan pertemuan-pertemuan di desa seperti Posyandu Bina Keluarga Balita dan Lansia, pertemuan pemuda, serta pertemuan keagamaan.

Kurniawati, selain terampil mengurus keuangan sebagai kader PATBM, sehari-hari dia berprofesi sebagai guru senam. Karena itu, cukup banyak pengalamannya dalam mengasuh anak yang bisa dibagikan kepada peserta lain. Dia berpandangan luas. Profesinya sebagai guru tidak menutup keinginannya untuk terus ingin memahami cara asuh anak dari banyak wawasan, terutama yang didapatkan dari program pelatihan di desa.

“Selama ini saya lebih banyak mengikuti pola pengasuhan yang diajarkan oleh orang tua kami sesuai dengan budaya yang ada. Saya mengira bahwa pola tersebut sudah sangat benar. Ternyata masih banyak yang perlu saya perbaiki. Saya berharap pelatihan bagi kami, khususnya anggota PATBM, terus diberikan supaya kami bisa bagikan kepada masyarakat di desa,” tegasnya.

Berbeda dengan dua rekannya, Wayan aktif sebagai kader bersama dengan anaknya, Rita, yang tergabung dalam kegiatan remaja di bawah naungan program. Seperti Basri, suaminya juga seorang petani kakao bersertifikasi Mars.

Wayan muda yang diasuh oleh neneknya menyadari kalau hubungan mereka saat itu begitu berarti. Dia masih ingat prinsip-prinsip yang diajarkan, tentang bagaimana bersikap, dan itu yang diterapkannya hingga saat ini. Orang tuanya sibuk bekerja.

Saat marah, Wayan mengaku sampai nada tinggi. Tapi itu kalau sungguh-sungguh marah. Dia ingat kembali masa kecilnya. Dia akan menenangkan diri, lantas meminta maaf kepada anak yang baru saja mendapat amarah. Proses ini senada dengan yang dia peroleh dalam program pelatihan. Fasilitator sempat mengutarakan, jika dalam konflik orang tua dan anak, ada kemungkinan anak-anak juga perlu mendapat penjelasan tentang alasan orang tuanya marah.

Sebagai guru TK, dirinya juga banyak menerapkan proses komunikasi seperti demikian kepada para anak didik. 

“Hasil dari menerapkan pengetahuan itu pada anak didik saya, mereka menjadi lebih dengar-dengaran tanpa harus berbicara dengan nada yang tinggi,” tutup Wayan mendukung pernyataan dua rekan yang lain.

Belajar Pengasuhan Positif

Cerita lain datang dari desa sebelah. Di Bulan Februari 2022 sebuah undangan kegiatan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) menjadi titik awal bagi seorang perempuan muda. Markaya (26) saat itu langsung bergabung dan aktif mengikuti pertemuan kelompok PATBM. Dia berasal dari sebuah desa di Luwu Utara.

Bagaimana latar belakang dirinya langsung menerima undangan PATBM? Kelahiran anak pertama dianggap sebagai peristiwa penting bagi seorang ibu. Proses persalinan Markaya saat itu dilakukan melalui operasi cesar. Dia tidak mengharapkannya. Kondisi kesehatan mentalnya memburuk.

“Ketika saya selesai melahirkan dengan cara caesar, saya merasa sangat tersiksa, sampai menangis berhari-hari. Saya mulai membenci diri saya, menyalahkan diri saya kenapa ini terjadi. Di situ saya sangat menderita hingga muncul keputusan untuk tidak memiliki anak lagi,” imbuhnya sambil mengingat-ingat kejadian itu.

Keterpurukan, seperti yang diakuinya, tidak sembuh dalam sekejap. Dia perlahan bangkit dengan masih dihantui perasaan bersalah. Sesekali melihat kembali dalam dirinya, salah satu faktor yang tampak nyata adalah membangun kelekatan dengan anak, seperti yang disampaikan fasilitator dalam program pelatihan PATBM yang dia ikuti.

Markaya saat itu menikah di usia 19 tahun. Dua tahun setelahnya, anak pertama lahir. Dia sempat  tidak tahu caranya mendidik, bahkan mengatasi masalah yang terjadi pada anak. Selain merawat anak, dia banyak membantu pekerjaan di kebun. Suaminya adalah seorang petani kakao.

PATBM kemudian menjadi ruang baru bagi Markaya. Dia menemukan tempat menimba ilmu dan bertukar pikiran, sampai-sampai dia telah mengubah cara memaknai dan memperlakukan anak.

“Dulu anak saya tidak terlalu mau dekat dengan saya dan perilakunya kasar, mungkin karena cara mengasuh saya dulu memang keras. Sekarang, saya mulai berubah pelan-pelan dan lebih menahan amarah,” ujar perempuan yang menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMA ini.

Dia mendapat banyak dorongan dari kelas pengasuhan. Markaya semakin percaya diri saat ini. Mulai terlibat dalam permainan anak, melatih untuk menahan amarah, dan berbicara lebih lembut. Dia memilih cara ini untuk berinteraksi dengan anak, termasuk anak-anak di lingkungannya.

Orang tua punya hak dan kewajiban, begitu pula dengan anak. Pengetahuan ini menjadi bekal orang tua dalam memahami pentingnya pemenuhan hak anak serta bentuk dukungan dalam membantu proses tumbuh kembang anak. Begitulah yang diakui oleh Markaya usai kelas pengasuhan.

“Jika orang tua telah memahami hak anak, dia akan tahu manfaat dan pentingnya bermain bagi anak. Misalnya, pentingnya pendidikan bagi anak sehingga tidak ada lagi anak yang dieksploitasi untuk bekerja. Kalaupun mau membantu, harus diawasi, tidak menggunakan benda-benda tajam, serta membantu sewajarnya sesuai usianya,” tambahnya.

Cara pandang Markaya tidak sepenuhnya mampu diterima oleh sekitar. Beberapa tetangga menilai cara dia mengasuh saat ini berlebihan dan hanya akan membuat anak manja. Dia tetap teguh pendirian. Cerita-cerita dan pengalaman menjadi bagian dari kelompok PATBM dalam menyuarakan pengasuhan positif bagi para keluarga petani telah menjadi pedomannya.

“Jika orang tua sudah bisa memahami perasaan anak, memahami keadaan dan situasi anak, serta memahami perkembangan anak, dipastikan (orang tua) akan memberikan dukungan terbaik bagi anak, termasuk berbagi tugas saat di kebun, mana yang menjadi pekerjaan orang tua, dan mana yang bisa dikerjakan oleh anak-anak,” ungkap Markaya.

Scroll to Top