Cerita Perubahan

Menumbuhkan Ruang Aman yang Setara di Lingkungan Madrasah Tsanawiyah

Di balik suasana kelas yang tampak tenang, tidak semua anak merasa benar-benar aman dan sejahtera. Temuan dari Programme for International Student Assessment (PISA) (2022) menunjukkan, 17% siswa di Indonesia merasa tidak aman di sekolah.

Selain itu, temuan dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) (2022) mengungkapkan, 34,9% remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Temuan-temuan tersebut bukan sekadar angka statistik, ini adalah beban nyata yang menghambat potensi anak-anak di masa depan.

Berangkat dari hal tersebut, Save the Children Indonesia berkolaborasi dengan Kementerian Agama, dengan dukungan pendanaan dari P&G, mengimplementasikan Program We See Equal di sepuluh madrasah tsanawiyah di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur.

Program We See Equal hadir untuk meningkatkan kesetaraan gender di lingkungan madrasah tsanawiyah melalui integrasi kesadaran gender, perlindungan anak, dan dukungan kesehatan mental untuk mengatasi potensi intoleransi, perundungan, serta kekerasan seksual.

Menciptakan Ruang Aman melalui Modul CHOICE+ dan Pengasuhan

Untuk meningkatkan kesetaraan gender, perlindungan anak, dan dukungan kesehatan mental di antara peserta didik di madrasah tsanawiyah, Program We See Equal mengintegrasikan modul CHOICE+ dan modul Pengasuhan dengan pendekatan yang interaktif dan inklusif.

Modul CHOICE+ adalah panduan pembelajaran yang dirancang untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya kesetaraan gender, perlindungan anak, dan penguatan karakter. Melalui berbagai aktivitas interaktif dan inklusif, modul ini bertujuan membantu siswa membangun rasa percaya diri dalam meraih impian tanpa terbatasi oleh sekat gender.

Beberapa contoh aktivitas interaktif dan inklusif adalah penggunaan instrumen seperti ‘Kotak Tanpa Nama’ yang memungkinkan siswa bertanya hal-hal sensitif seputar pubertas dan kekerasan tanpa rasa malu, serta ‘Pohon Rencana Aksi’ untuk melatih cara siswa mengatasi masalah (coping mechanism) secara mandiri.

Melalui modul CHOICE+, pembelajaran diarahkan untuk menciptakan ruang yang setara dan anti-kekerasan. Di sini guru bertindak sebagai fasilitator yang menghargai ekspresi setiap anak tanpa memandang gender.

“Kehadiran modul CHOICE+ dalam pembelajaran ini membuat hubungan emosional antara guru dan anak-anak semakin dekat. Sekarang mereka tidak canggung lagi untuk cerita ataupun konsultasi. Saya merasa sangat bersyukur sekali, ternyata materi-materi di dalam modul ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa, namun juga bagi saya,” ungkap Nurul Ashfiani, seorang guru di salah satu madrasah tsanawiyah di Kabupaten Cianjur.

Zahra* (13), seorang siswi di salah satu madrasah tsanawiyah di Kabupaten Cianjur, mengaku mendapat pemahaman tentang kesetaraan gender berkat modul CHOICE+. Ia kini sadar jika potensi seseorang tidak ditentukan oleh gender. “Kini saya menjadi lebih percaya diri dalam meraih cita-cita tanpa harus khawatir bahwa gender akan membatasi cita-cita saya,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ilham* (13), seorang siswa di salah satu madrasah tsanawiyah di Kabupaten Cianjur. Ia kini memiliki perspektif baru mengenai relasi antar-gender di sekolah. “Sekarang saya tahu kalau laki-laki dan perempuan bisa meraih mimpi yang sama tanpa dibatasi oleh gender,” ungkapnya.

Selain mengintegrasikan modul CHOICE+, Program We See Equal juga mengintegrasikan modul Pengasuhan untuk memperluas manfaat program hingga ke lingkungan keluarga. Modul Pengasuhan adalah panduan pembelajaran yang disusun untuk membekali orang tua agar memahami pentingnya kesetaraan gender, perlindungan anak, penguatan karakter, serta penyediaan ruang aman bagi anak.

Melalui modul Pengasuhan, para orang tua siswa diajak untuk sama-sama belajar mengenai pengasuhan dan disiplin positif tanpa kekerasan demi mendukung tumbuh kembang anak yang sehat.

“Modul Pengasuhan memberi saya banyak manfaat terkait pengasuhan. Kami sebagai orang tua diajarkan bagaimana cara pola asuh yang baik dan sehat untuk membentuk karakter anak lebih baik lagi,” ungkap Saepudin, ayah Ilham*.

Hal senada diungkapan oleh Safitri, ibu Zahra*. “Modul Pengasuhan banyak mengajarkan saya tentang cara membangun komunikasi yang baik dengan anak, termasuk berbicara dengan anak tanpa memakai nada tinggi atau keras,” ungkap Safitri.

Melihat perubahan positif dari siswa dan orang tua, para guru mendorong agar Program We See Equal ini dapat terus dilakukan di sekolah, salah satunya adalah Dedeh Kurnia, seorang guru di salah satu madrasah tsanawiyah di Kabupaten Bandung.

“Mudah-mudahan program ini dapat terus berlanjut di madrasah kami karena sangat membantu sekali dalam mengubah perilaku maupun sifat anak-anak kami. Mereka yang tadinya pemalu dan tidak percaya diri, tapi setelah kehadiran program ini, alhamdulillah anak-anak kami sudah berani tampil di depan,” ungkap Kurnia.

Harapan para guru ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Agama setempat, salah satunya dari Hj. Nana Rostiana, M.Ag., (Plt.) Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung.

“Program ini sangat beririsan dengan progam Kementerian Agama mengenai kesetaraan gender, Madrasah Ramah Anak, dan Kurikulum Berbasis Cinta. Kami ingin meningkatkan kerja sama dengan Save the Children agar anak-anak kami bisa dijauhkan dari hal-hal seperti diskriminasi gender, kekerasan, dan perundungan. Harapan kami program We See Equal ini dapat terus dilanjutkan,” ungkap Rostiana.

Program We See Equal membuktikan bahwa lingkungan yang aman dan setara dapat dibangun melalui kolaborasi antara siswa, guru, dan orang tua. Melalui dukungan sekolah dan keterlibatan orang tua, program ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi anak-anak.

Anak-anak di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Cianjur menggunakan sticky notes untuk menuliskan mimpi mereka dalam sesi “Jendela Mimpiku” dari modul CHOICE di dalam kelas. Modul CHOICE merupakan bagian dari Program We See Equal yang disusun sebagai upaya untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya penguatan karakter, perlindungan anak, dan kesetaraan gender bagi siswa. Translation: Children at an Islamic junior high school (MTs) in Cianjur Regency use sticky notes to write down their dreams during the “My Window of Dreams” session from the CHOICE module in the classroom. The CHOICE module is part of the We See Equal Program, which is designed to provide students with an understanding of the importance of character building, child protection, and gender equality.

Scroll to Top