“Pipinya gemas sekali,” ujar seseorang sambil menyubit pipi seorang anak, tanpa meminta izin, tanpa bertanya apakah anak itu mau.
Tindakan seperti ini sering dilakukan dengan niat baik: bentuk kasih sayang, ekspresi gemas, atau cara menyapa. Namun tanpa disadari, kebiasaan ini bisa mengajarkan anak bahwa tubuh mereka bisa disentuh siapa saja, kapan saja, bahkan ketika mereka merasa tidak nyaman.
Bagi anak, pengalaman ini bisa membingungkan. Mereka mungkin ingin menolak, tetapi tidak tahu caranya. Apalagi jika yang melakukan adalah kerabat atau orang yang dianggap lebih tua – kala tekanan untuk anak bersikap “sopan” sering kali lebih besar dari perasaan tidak nyaman.
Di sinilah peran orang tua menjadi penting: mengajarkan bahwa menjaga tubuh sendiri bukanlah tindakan tidak sopan.
Tubuh Anak adalah Milik Anak
Satu hal mendasar yang perlu dipahami anak sejak dini: tubuh mereka adalah milik mereka.
Itu berarti ada bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, siapa pun orangnya, dalam kondisi apa pun, kecuali untuk kebutuhan medis atau keadaan darurat yang jelas. Ini bukan soal perasaan nyaman atau tidak. Ini soal batas yang tidak bergeser.
Di luar itu, anak juga berhak menolak sentuhan apa pun yang tidak mereka inginkan, meskipun dari orang yang dikenal atau yang berniat baik, bahkan dari ayah dan ibu sendiri.
Penting juga untuk diingat: perasaan anak terhadap sentuhan bisa berubah dari hari ke hari. Ada hari kala mereka senang dipeluk, ada hari kala tidak. Keduanya wajar. Yang perlu dibangun adalah rasa aman untuk mengatakannya.
Mengenali Sentuhan yang Aman dan Tidak Aman
Cara termudah membantu anak memahami batasan adalah dengan mengajarkan perbedaan antara sentuhan yang aman dan tidak aman.
Sentuhan aman membuat anak merasa nyaman, dihargai, dan tidak terancam. Misalnya: pelukan dari orang tua yang anak setujui, jabat tangan, atau tos.
Sentuhan tidak aman adalah sentuhan yang menyakiti, mempermalukan, atau membuat anak tidak nyaman, termasuk sentuhan pada bagian pribadi tubuh, meskipun pelaku meminta izin terlebih dahulu. Izin tidak mengubah status sentuhan ini.
Anak juga perlu belajar mengenali sinyal dari tubuh mereka sendiri. Ketika sesuatu terasa tidak tepat, tubuh sering memberi tanda: jantung berdegup lebih kencang, badan terasa panas, atau muncul rasa ingin segera pergi. Ajarkan anak bahwa sinyal-sinyal ini nyata dan perlu didengarkan.
Satu hal lagi yang perlu disampaikan kepada anak: sentuhan tidak aman bisa dialami siapa saja, termasuk anak perempuan dan laki-laki. Tidak ada yang lebih “aman” dari yang lain hanya karena jenis kelaminnya.
Cara Memulai Percakapan
Orang tua tidak perlu menunggu momen khusus untuk membahas ini. Percakapan sederhana sehari-hari adalah kesempatan terbaik.
Beberapa kalimat yang bisa dicoba:
- “Kalau ada orang yang memegang pipi kamu dan kamu tidak suka, kamu boleh bilang ‘tidak mau’ atau ‘jangan’ ya.”
- “Kalau ada yang membuat kamu tidak nyaman, kamu boleh menjauh dan cerita ke Ayah, Ibu, atau orang lain yang dianggap aman.”
- “Tubuh kamu adalah milikmu. Kamu berhak menentukan siapa yang boleh menyentuhmu dan kapan kamu merasa nyaman untuk disentuh.
Semakin sering anak mendengar pesan ini, semakin kuat pemahaman mereka bahwa menetapkan batasan adalah hak, bukan keburukan.
Kalimat Sederhana untuk Menolak
Banyak anak sebenarnya ingin menolak, tetapi tidak tahu harus berkata apa.
Orang tua bisa melatih dengan kalimat-kalimat sederhana seperti:
- “Aku tidak suka dipeluk.”
- “Jangan pegang pipiku ya.”
- “Aku mau duduk sendiri.”
- “Tidak, terima kasih.”
- “Aku kurang nyaman.”
Kalimat ini membantu anak menyampaikan batasannya dengan sopan tetapi tegas. Ini juga melatih mereka bahwa menolak bukan hal yang perlu ditakuti.
Jika Sentuhan Sudah Terlanjur Terjadi
Sentuhan kadang terjadi terlalu cepat untuk diantisipasi. Jika itu terjadi, anak tetap bisa mengambil tindakan setelahnya:
- Menjauh dari situasi yang tidak nyaman.
- Mengatakan, “Aku tidak suka tadi.”
- Bercerita kepada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya.
- Mengungkapkan perasaan mereka tanpa takut dimarahi.
Yang perlu dihindari orang tua adalah meremehkan perasaan anak, misalnya dengan mengatakan, “Ah, cuma dicubit pipinya saja.” Respons seperti ini mengajarkan anak bahwa perasaan mereka tidak cukup penting untuk didengar.
Jika anak sudah pernah mendapat respons seperti itu, orang tua bisa memulai ulang dengan jujur. Misalnya dengan mengakui bahwa respons Ayah/Ibu sebelumnya tidak tepat, lalu menyatakan bahwa perasaan tidak nyaman itu wajar dan tidak salah.
Anak Belajar dari Cara Orang Tua Menghargai Persetujuan Mereka
Salah satu cara paling efektif mengajarkan konsep ini adalah dengan mempraktikkan di rumah.
Ketika orang tua membiasakan diri meminta izin sebelum memeluk, menggendong, atau membantu anak melakukan sesuatu yang melibatkan tubuhnya, anak belajar bahwa persetujuan itu nyata, bukan sekadar konsep.
Pertanyaan sederhana seperti “Boleh Ibu peluk?” atau “Kamu mau salaman atau dadah saja?” mengajarkan lebih banyak dari penjelasan yang panjang.
Melindungi Anak Dimulai dari Hal-hal Kecil
Mengajarkan batasan tubuh bukan berarti membuat anak takut atau curiga kepada orang lain. Sebaliknya, ini membekali mereka dengan kemampuan mengenali sentuhan yang aman dan tidak aman. Mereka juga menjadi lebih percaya diri untuk berbicara ketika sesuatu terasa tidak tepat.
Ketika anak memahami bahwa mereka punya hak atas tubuhnya sendiri, mereka juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih siap menghormati batasan orang lain dan membangun hubungan yang sehat.
Save the Children Indonesia bekerja untuk memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang aman – bebas dari kekerasan, pelecehan, eksploitasi, dan penelantaran. Salah satu bagian dari upaya itu adalah mendorong pengasuhan positif yang menghormati hak anak: bahwa setiap anak berhak didengar, dihormati, dan dilindungi.
Anda juga dapat menjadi bagian dari upaya ini. Kunjungi halaman donasi Save the Children Indonesia untuk mengetahui bagaimana dukungan Anda dapat membantu lebih banyak anak tumbuh dengan aman.