Masalah kesehatan mental di kalangan anak dan remaja ibarat fenomena gunung es, di mana kenyataannya jauh lebih besar dibanding yang tampak di permukaan. Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional-Indonesia (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan, 1 dari 3 remaja di Indonesia, atau setara dengan 15,5 juta remaja, memiliki masalah kesehatan mental.
Survei yang sama juga menunjukkan jika 1 dari 20 remaja, atau setara dengan 2,45 juta remaja, mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Angka-angka ini menggarisbawahi urgensi untuk meningkatkan dukungan kesehatan mental dan psikososial bagi generasi muda Indonesia.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Save the Children bersama Yayasan Pulih dan Dinas Pendidikan Kota Bandung, dengan dukungan Johnson & Johnson, mengimplementasikan Program HEART (Healing and Education Through the Arts) di Kota Bandung. Program ini berlangsung dari Februari hingga Desember 2025 dan melibatkan 13 Sekolah Dasar di Kota Bandung.
HEART: Program Seni untuk Kesehatan Mental
HEART adalah sebuah pendekatan berbasis seni untuk memberikan dukungan mental dan psikososial bagi anak-anak. Pendekatan ini memanfaatkan seni untuk membantu anak-anak memproses dan mengomunikasikan perasaan yang terkait dengan pengalaman mereka.
“Kesehatan mental dibutuhkan di pendidikan dasar karena memang ini jadi landasan. Sehingga ketika anak-anak sudah belajar cara mengatasi masalah dan mengekspresikan emosi dari awal, ini akan bagus bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Jadi ketika mereka besar mereka sudah mempunyai coping mechanism atau cara mengatasi masalah yang baik,” jelas Bram Marantika, MHPSS and Peacebuilding Manager Save the Children Indonesia.
Hal senada juga diungkapkan juga oleh DR. Edy Suparjoto, S.Pd., M.Pd., Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kota Bandung. “Kesehatan mental itu sangat dibutuhkan di pendidikan dasar. Di usia ini anak-anak harus dilatih cara mengelola emosi agar tidak menghambat potensi mereka di masa depan,” jelas Edy.
Di Program HEART, anak-anak dapat mengungkapkan kenangan dan perasaannya baik secara verbal ataupun melalui ekspresi artistik. Hasil akhirnya adalah anak yang jadi lebih terbuka, terhubung, dan aman berada di tengah komunitas sebaya ataupun yang lebih besar.
“Di program ini anak-anak diajak untuk lebih memahami diri dan emosi mereka, serta bagaimana mentransformasi emosi negatif menjadi sesuatu yang lebih positif,” jelas Livia Istania DF Iskandar, Acting Executive Director PULIH Foundation.
Seni sebagai Jendela Emosi dan Mekanisme Koping
Di ruang kelas HEART, guru tidak mengajari anak cara membuat karya seni, serta tidak menilai anak berdasarkan karya seni mereka. Di ruang ini proses menjadi yang utama. Guru menyediakan bahan dan kegiatan seni terstruktur serta mendengarkan anak ketika mereka memutuskan untuk berbagi karya seni dan perasaan mereka.
“Kami membuat anak-anak rileks dengan seni, salah satunya adalah menggambar. Anak-anak diberi kebebasan membuat karya berdasarkan apa yang menjadi gambaran dunianya. Mau sekarang ataupun masa depan. Mereka bebas berekspresi, menggambar apa yang menjadi kesukaan mereka dan menceritakan apa yang mereka gambar serta bagaimana perasaan mereka,” jelas Yuyun Nurfarida, guru kelas 6 di sebuah sekolah dasar di Kota Bandung dan fasilitator Program HEART.
Kegiatan ini menjadi saluran ekspresi yang mendalam bagi para peserta. Sarah*, salah satu siswa Yuyun, menggunakan seni untuk menceritakan hal-hal yang ia sukai dan cita-citanya.
“Di sini aku membuat gambar diriku, buah kesukaanku durian, dan hewan peliharaan kesukaanku yaitu kucing. Selain itu, di sini juga ada gambaran cita-citaku, insyaallah aku ingin menjadi guru,” ungkap Sarah.
Sementara itu, Rizki*, teman sekelasnya, menggunakan seni untuk mengungkapkan kerinduan. “Saya menggambar ini karena saya kangen dengan dua teman saya yang sudah pindah rumahnya,” ungkap Rizki.
Peran guru sebagai fasilitator di ruang kelas HEART sangat penting. Mereka memberikan ruang aman bagi anak-anak untuk mengungkapkan perasaan mereka tanpa merasa dihakimi.
“Di ruang kelas HEART, saya bisa melihat anak-anak mengungkapkan perasaannya, misalkan dia lagi senang, sedih, atau apa. Di sini saya hanya menjadi fasilitator, menjadi pendengar yang baik dan tidak memberikan solusi. Nanti solusinya saya kembalikan lagi pada anak-anak,” jelas Yuyun.

Dampak dan Manfaat yang Dirasakan
Kemampuan seni untuk mendorong ekspresi diri berperan penting dalam membantu anak-anak berkembang secara kognitif, emosional, dan sosial.
Menurut Yusuf Awaludin, guru kelas 6 di sebuah sekolah dasar di Kota Bandung dan fasilitator Program HEART, kehadiran Program HEART mampu meningkatkan keterbukaan siswa-siswa di kelasnya, sehingga ia bisa lebih memahami karakter setiap siswanya.
“Banyak sekali perubahan yang terjadi pada anak-anak setelah kehadiran Program HEART. Anak yang semula pendiam kini menjadi lebih terbuka. Mereka yang semula tidak mau bercerita, kini mau mengungkapkan isi hatinya,” ungkap Yusuf.
Manfaat Program HEART tidak hanya dirasakan oleh Yusuf sebagai guru, namun siswa-siswa di kelasnya pun turut merasakan manfaatnya. “Manfaat yang saya dapat dari Program HEART ini adalah hati saya jadi gembira dan pikiran saya jadi rileks. Selain itu saya juga banyak mendapat hal-hal baru,” ungkap Salim*, salah satu siswa di kelas Yusuf.
Hal senada diungkapkan juga oleh Dina*, teman sekelas Salim. “Setelah melakukan kegiatan HEART ini, saya banyak mendapatkan ilmu, mendapatkan hal-hal baru, dan badan saya menjadi rileks,” ungkap Dina.
Selain Yusuf dan Dina, Rizki dan Sarah juga merasakan manfaat dari Program HEART, terutama dalam hal relaksasi dan peningkatan kepercayaan diri.
“Berkat Program HEART ini, saya bisa lebih rileks dan tidak buru-buru, jadi tidak gegabah,” ungkap Rizki.
Sementara itu, Sarah, teman sekelas Rizki, mengungkapkan jika Program HEART ini mampu meningkatkan kepercayaan dirinya. “Manfaat yang saya dapat setelah mengikuti Program HEART, saya jadi lebih bisa percaya diri dengan apa yang saya buat atau peroleh,” ungkap Sarah.
Bram merangkum manfaat Program HEART secara keseluruhan. “Manfaatnya sebenarnya banyak. Selain healing-nya, ekspresi emosi, dan juga cara mengatasi masalah, ini juga terkait edukasi. Jadi anak-anak bisa belajar banyak hal lain seperti cognitive skill, motorik halus, dan juga perkembangan bahasa,” jelas Bram

Harapan untuk Pengembangan Program
Melihat dampak positifnya, para guru dan siswa peserta Program HEART memiliki harapan besar agar program ini dapat diperluas.
“Mudah-mudahan Program HEART ini bisa terus dikembangkan. Bukan hanya di sekolah kami, tapi juga di sekolah lain agar mereka pun bisa mendapat manfaat dari program ini,” ungkap Yuyun.
Hal senada diungkapkan juga oleh Yusuf. “Program HEART ini saya rasa perlu dikembangkan lagi ke sekolah-sekolah lain, jadi tidak hanya di 13 sekolah di Kota Bandung. Karena selain bermanfaat, perubahan positif yang dihasilkan, baik untuk saya pribadi sebagai guru maupun seluruh siswa, terasa nyata,” ungkap Yusuf.
Antusiasme tidak hanya datang dari para guru, tapi juga dari para siswa. “Saya ingin adik-adik kelas saya juga bisa mendapatkan Program HEART, sehingga mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan,” ungkap Sarah.
Sementara itu, Dina berharap agar Program HEART tidak hanya dilakukan di jenjang pendidikan dasar saja, namun bisa berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. “Saya ingin program HEART tidak terhenti di jenjang SD saja, namun berlanjut hingga jenjang SMP, SMA, dan lainnya,” ungkap Dina.
Pemerintah, melalui Dinas Pendidikan, juga berharap agar Program HEART ini bisa terus dilanjutkan dan diperluas jangkauannya.
“Kami di Dinas Pendidikan berharap agar program ini bisa dilanjutkan dan diperluas jangkauannya. Program ini sangat bermanfaat dan terasa sekali dampaknya terhadap terjaganya kesehatan mental peserta didik khususnya di pendidikan dasar,” ungkap Edy.
Program HEART membuktikan bahwa seni dapat menjadi jembatan yang kuat menuju penyembuhan emosional, peningkatan mekanisme koping, dan pengembangan keterampilan kognitif pada anak dan remaja, sekaligus memberikan dasar yang penting bagi kesehatan mental mereka. Ini adalah langkah nyata dalam menciptakan ruang aman bagi anak-anak Indonesia untuk tumbuh dan berekspresi secara sehat.
*Nama disamarkan untuk melindungi data pribadi anak.