Cerita Program

Menciptakan Kesadaran Tanpa Paksaan

Tantangan dalam Meningkatkan Cakupan Vaksinasi di Daerah yang Menolak Vaksinasi

Komplek pemakaman tebing batu Tampang Allo menjadi saksi bisu pandemi flu Spanyol yang menghantam Toraja pada 1918. Orang Toraja lebih mengenal pandemi mematikan itu dengan nama Raa’ba Biang, yang kira-kira berarti pohon, dahan, atau ilalang yang berjatuhan. 1 dari tiap 10 orang di Toraja diperkirakan meninggal akibat pandemi tersebut.

Tengkorak dan tulang belulang manusia yang terserak di komplek pemakaman menunjukkan gawatnya kondisi saat itu. Tradisi dan kepercayaan di Toraja mengajarkan setiap orang yang meninggal dimakamkan di tebing batu. Namun, tingginya angka kematian membuat penduduk tidak sempat memakamkan mereka yang meninggal sehingga banyak jenazah hanya diletakkan begitu saja di Tampang Allo. Konon, apa pula penandu jenazah yang ikut meninggal sesampainya di Tampang Allo sehingga jasadnya turut ditinggal di sana.

Tengkorak dan tulang belulang manusia yang berserak di komplek pemakaman tebing batu Tampang Allo menjadi saksi bisu pandemi flu Spanyol yang menghantam Toraja pada 1918. (Thomas Gustafian/Save the Children).

Kisah pandemi flu Spanyol seakan kembali terulang 100 tahun kemudian dengan kemunculan COVID-19. Pemakaman massal terjadi di mana-mana dan berlangsung sepanjang waktu. Pandemi ini telah menewaskan 6,8 juta orang di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, virus ini sudah menewaskan lebih dari 160 ribu orang.

Meski telah memakan jutaan korban, masih banyak masyarakat yang menolak vaksinasi COVID-19. Padahal, kehadiran vaksin sebagai solusi untuk mencegah penularan virus dan mengurangi gejalanya telah disosialisasikan secara masif. Alasannya beragam, namun jika bisa disederhanakan, kurangnya kesadaran yang diperburuk dengan rumor terkait vaksin menjadi penyebab terjadinya banyak penolakan. Hal inilah yang terjadi di Desa Benteng Alla Utara, Enrekang, yang terletak 38 kilometer dari Tampang Allo.

Benteng Alla Utara terletak di dataran tinggi dan dikelilingi oleh tebing-tebing karst, oleh karenanya disebut ‘benteng.’ Jarak antar rumahnya berjauhan. Dari pusat desa, dibutuhkan setengah jam berkendara untuk menuju fasilitas kesehatan terdekat, yaitu Puskesmas Baroko. Jika ingin ke rumah sakit, mereka harus berkendara lebih dari satu jam.

“Sebagian besar warga di Desa Benteng Alla Utara adalah pemeluk Islam. Beredarnya rumor kalau vaksin COVID-19 mengandung babi dan haram menjadi penyebab penolakan warga atas vaksinasi,” ungkap Waluddin Tandi Gau, Kepala Desa Benteng Alla Utara.

Ketidakpercayaan warga makin diperparah karena ada orang yang meninggal beberapa saat usai divaksin. Konon, orang ini mendadak jatuh dan meninggal saat hendak pulang dari lokasi vaksinasi. Hingga kini tidak jelas apa penyebab kematian orang tersebut. Namun rumor yang beredar mengatakan kematiannya disebabkan karena vaksin.

Selama ini Puskesmas sebenarnya sudah bekerja keras untuk meningkatkan cakupan vaksin. Namun keterbatasan tenaga kesehatan membuat mereka tidak bisa bekerja secara optimal.

“Setiap minggu Puskesmas sebenarnya membuka sentra vaksinasi di desa-desa, namun warga yang datang hanya dua hingga tiga orang saja,” ungkap Hastika, Kepala Puskesmas Baroko.

Di awal pandemi, penolakan warga atas vaksinasi membuat pemerintah setempat mengerahkan TNI dan Polri untuk menjemput paksa warga di desa dan membawa mereka ke lokasi vaksinasi. Meski begitu, penolakan yang masif membuat cakupan vaksin tetap rendah. Di Desa Benteng Alla Utara sendiri, data per 14 Februari 2023 lalu menunjukkan jika cakupan vaksin dosis lengkap (dosis 1 dan 2) baru sekitar 50 persen.

Sejak Agustus 2022, Program Kemitraan Australia Indonesia untuk Ketahanan Kesehatan (AIHSP) bekerja sama dengan Save the Children dan Sulawesi Community Foundation (SCF) berupaya memaksimalkan capaian vaksin COVID-19 dengan mengimplementasikan program percepatan vaksinasi bagi kelompok rentan di Sulawesi Selatan, salah satunya di Desa Benteng Alla Utara, Enrekang.

Abdul Malik Majid, Fasilitator Kabupaten Enrekang dari SCF mengatakan, dibutuhkan pendekatan berbulan-bulan agar warga bersedia divaksinasi. “Di sini kan agamanya kuat, jadi kami melakukan pendekatan pada tokoh agama. Kami ingin mereka divaksin karena kesadaran, bukan karena paksaan,” ungkapnya.

Salman (60) menerima vaksin booster 1 dalam kegiatan Vaksinasi COVID-19 Inklusif yang diadakan di Desa Benteng Alla Utara pada 21 Februari 2023. (Thomas Gustafian/Save the Children).

Bekerja sama dengan Puskesmas Baroko dan pemerintah Desa Benteng Alla Utara, program yang didanai oleh Pemerintah Australia ini berulang kali mengadakan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran warga atas pentingnya vaksinasi. Berbagai pendekatan dan sosialiasi yang dilakukan akhirnya membuahkan hasil setelah puluhan warga Desa Benteng Alla Utara bersedia divaksin pada 21 Februari lalu.

Vaksinasi yang dilakukan di kantor desa dari pagi hingga siang hari tersebut berhasil menjangkau 83 orang, termasuk 13 lansia dan 1 disabilitas. “Kami berterima kasih banyak atas bantuan dari AIHSP, Save the Children, dan SCF. Capaian vaksinasi kemarin sangat luar biasa. Sudah satu tahun lebih tidak pernah ada capaian sebanyak itu,” ungkap Hastika.

Pandemi flu Spanyol yang terjadi 100 tahun lalu mengajarkan kita, kurangnya mitigasi dalam menghadapi pandemi dapat memicu ledakan kasus dan membawa petaka bagi banyak orang. Oleh karena itu, meski Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah dicabut dan tren kasus infeksi COVID-19 menunjukkan penurunan, kewaspadaan terhadap COVID-19 tidak boleh berkurang karena sejatinya pandemi belum benar-benar berakhir.

Dari pandemi COVID-19, Indonesia diharapkan belajar untuk memperkuat sistem ketahanan kesehatannya agar dapat lebih siap dalam menghadapi berbagai potensi krisis kesehatan lainnya di masa mendatang.

Scroll to Top