Bagi Sara* (34 tahun) dan suami, bertengkar di depan anak-anak sempat menjadi hal biasa. Namun mereka kini membesarkan anak-anak dengan empati. Mereka hanya ingin menciptakan memori baik dalam kehidupan anak-anak.
Kesadaran itu tak datang tiba-tiba. Namun hasil dari pelatihan pengasuhan berbasis hak anak yang diadakan oleh Save the Children dan Yayasan Wahana Komunikasi Wanita melalui Program Sponsorship di Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. Pelatihan ini mengingatkan mereka untuk kembali menjadi manusia dewasa yang layak dijadikan panutan.
Meninggalkan Memori Baik
Sara* adalah kader pelatihan penguatan kapasitas keluarga di desanya. Ibu empat anak ini merasakan betul dampak baik dari pelatihan yang dibuat oleh Save the Children dan YWKW. Pola asuhnya dan suami sekarang sudah berubah menjadi lebih peka terhadap kondisi anak. Mereka berupaya untuk tidak menunjukkan berbagai bentuk kekerasan lagi. Menanggapi segala persoalan dengan kepala dingin.
”Karena nanti itu akan jadi bekal trauma ke dalam memorinya. Anak ini belajar pertama itu dari orang tua, yang mereka rekam itu perilaku orang tua,” jelasnya.
Sara* juga bercerita, dulu mereka terlalu banyak berkata “jangan” ketika anak-anak baru mulai belajar berbagai hal. Anak-anak akhirnya tak punya kesempatan untuk mengeksplorasi dan tak bisa belajar soal sebab-akibat.
Sebagai kader, ia pun memberi pemahaman kepada orang tua akan pentingnya peran ayah dalam tumbuh kembang anak. Ayah berperan sebagai panutan paling utama bagi putra dan putri mereka. Teladan positif juga akan membawa dampak negatif bagi anak.
“Cara mendidik anak itu tak selamanya dengan kekerasan. Menyadarkan kami untuk kembali menjadi manusia dewasa di depan anak-anak,” kata Sara*.
Kegiatan pelatihan ini dilakukan sebulan sekali dengan pembelajaran yang berbeda tiap sesinya. Fokusnya pada pengasuhan berbasis hak anak, komunikasi dalam keluarga, peran ayah dalam pengasuhan, dan pencegahan stunting.
Pelatihan diberikan kepada pasangan suami istri, pasangan yang belum menikah, dan mereka yang berencana punya anak. Mereka diberi pembekalan soal masa emas 1.000 hari pertama kehidupan anak.
Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

Tumbuh kembang anak tak hanya ditentukan dari dalam rumah. Namun juga dari sekolah dan desa, yang menjadi lingkungan kedua bagi anak untuk berkembang.
Maria (54 tahun) adalah seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di desa tempat Sara* tinggal. Ia pula salah satu orang yang mengawali keberadaan PAUD di desa itu.
Pada tahun 2009, ia mulai mengumpulkan anak-anak untuk dididik. Lokasinya bertempat di Puskesmas Pembantu. Kemudian berpindah ke kantor desa, hingga akhirnya mendapat gedung PAUD dari peemrintah desa.
Kegiatannya kala itu hanya seputar menyanyi, bercerita, mengajarkan cara tulis, dan bermain di luar. Jika waktunya selesai, anak-anak dibubarkan. Belum ada fasilitas atau pun kurikulum yang jelas untuk mengajaei anak lebih dari pada itu.
Pada tahun 2019, Program Sponsorship dari Save the Children dan YWKW juga memberi pelatihan dan pendampingan bagi guru PAUD. Lewat pelatihan itu, Maria jadi tahu bagaimana cara menata kelas, menyiapkan pembelajaran, ada tahap pembukaan, pemberian materi pembelajaran, serta lembar kerja yang dilakukan oleh guru dengan anak-anak. Anak-anak murid diberi permainan yang membantu melatih motorik halus dan kasar. Semuanya itu masuk dalam penilaiannya sebagai guru.
Dia akhirnya paham, ada perbedaan pengajaran bagi anak sesuai umur. Untuk anak umur 3–4 tahun, mereka dilatih untuk mengingat apa yang sudah dilakukan. Untuk anak umur 5–6 tahun, mereka mulai dilatih cara menulis angka dan huruf.
“Jadi kami lihat, anak ini sudah bisa mencoret atau belum. Kami menilai ada perkembangan tidak. Kemampuan sosial dan emosional mereka juga dipantau. Kami bisa mengukur, oh anak ini kira-kira dia punya pemahamannya seperti apa, itu yang luar biasa,” jelasnya.
Perubahan lain yang nampak pada perilaku anak-anak, yaitu lebih rajin mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan kegiatan. Mereka juga mulai membiasakan diri untuk menyapa.
”Jadi terarah begitu toh, ketimbang yang dulu kan hanya datang menyanyi, bercerita, bermain di luar, bosan, habis itu pulang,” ungkap Maria.
Menjembatani Akses Layanan Dasar
Perubahan pola asuh berbasis hak anak tak hanya berdampak bagi keluarga, tetapi juga menyadarkan masyarakat akan pentingnya hak dasar anak, seperti akta kelahiran.
Maria sering menghadapi orangtua yang mendaftarkan anaknya ke PAUD tanpa akta lahir. Pada tahun 2020, ia dan rekannya di PAUD bekerja sama Kelompok Peduli Anak (KPA) yang juga didampingi oleh Program Sponsorship. Dari penelusuran, sekitar 312 anak belum memiliki akta.
Umbu (32 tahun), relawan KPA, berkeliling kampung memberi edukasi tentang pentingnya dokumen anak. Akta kelahiran anak bukan sekadar dokumen, tapi membuka akses kepada layanan mendasar seperti sekolah, pengobatan, dan perlidungan hukum.
Umbu pun mewakili mereka untuk mengurus pembuatan akta kelahiran. Hingga kini, KPA menjadi perpanjangan tangan warga untuk mendapat dokumen resmi bagi anak-anak.
Sara* adalah salah satu orang tua yang belum mengurus akta anaknya. Ia sadar pentingnya dokumen itu, tetapi akses menjadi kendala. Jarak kantor pemerintah sekitar 25 kilometer, sementara transportasi terbatas. Dengan segala pertimbangan biaya, waktu, dan berbagai kemungkinan, mereka memilih untuk tidak mengurus dokumen tersebut.
“Kami harus menyiapkan uang saku lebih besar dari prediksi. Sampai sana, mengurus itu bukan sehari langsung jadi. Kami sebagai orang yang pas-pasan, bersyukur sekali ada KPA ini,” ujar Sara*.
Hingga kini, sudah lebih dari 200 anak mendapatkan akta kelahiran dengan bantuan KPA.
Umbu dan tim KPA masih terus mendata anak-anak yang belum memiliki akta. Tujuan mereka satu: agar anak-anak di desa bisa mendapat hak-hak dasar, meskipun tinggal di pelosok.
”Saya hanya punya nurani untuk bagaimana anak-anak di desa ini bisa benar-benar memahami tentang pentingnya pendidikan dan kesehatan terkhusus ke orang tua mereka juga,” kata Umbu.
Kisah-kisah perubahan dan perjuangan yang dituturkan Sara*, Maria, dan Umbu menunjukkan betapa tumbuh kembang anak memerlukan dukungan orangtua dan sekaligus seluruh komunitas. Perubahan demi perubahan dapat terwujud secara berantai, diawali dengan langkah pertama untuk mengubah persepsi dan membawa pengetahuan baru.