
Dalam program pendidikan dan perkembangan remaja “We See Equal” di Jawa Barat, Save the Children bersama sekolah mitra tidak hanya mendampingi murid, tetapi juga orang tua murid. Para orang tua mendapatkan informasi mengenai isu kekerasan dan perundungan anak, diskriminasi, dan perkawinan anak, serta terkait pengasuhan anak remaja.
Sesi untuk orang tua ini diadakan selama empat kali satu tahun lewat kelas parenting atau pengasuhan. Orang tua juga diberi pemahaman tentang sekolah sebagai tempat majemuk, tempat berkumpul masyarakat dari berbagai golongan. Pada awalnya, sesi ini disampaikan oleh fasilitator dari Save the Children, kemudian dilanjutkan oleh guru.
“Tantangannya yang pernah saya alami, tidak semua orang tua paham bullying (perundungan). Namun setelah pelan-pelan diberi informasi, akhirnya mereka paham,” kata Dadang, salah satu guru dan fasilitator di Cianjur.
Hartono, kepala sekolah dan guru yang juga menjadi fasilitator, menyebut bahwa kelas pengasuhan dibutuhkan supaya orang tua mendapat pencerahan dari guru-guru mengenai cara mendidik anak remaja. Ini termasuk bagaimana menyikapi keseharian anak dalam menggunakan gawai digital.
Sri Mulyaningsih, orang tua salah seorang siswa, merasakan manfaat kegiatan ini. Dia bercerita bahwa selama ikut kelas pengasuhan, dia mendapatkan banyak materi. Misalnya, menghindari eksploitasi anak, mendidik anak dengan baik, serta menghindarkan dari kekerasan fisik, psikis, seksual, dan perundungan.
“Setidaknya saya bisa menerapkan pada anak saya. Setidaknya saya jadi tahu mana yang harus dihindari, mana yang harus diterapkan,” ungkapnya.
Kelas pengasuhan menjadi semakin penting karena adanya peran gawai digital dalam hidup anak sehari-hari. Sri bercerita, hal ini berbeda dengan apa yang dialaminya saat masih usia anak. Kondisi tersebut yang membuat pola asuhnya menjadi harus berubah.
“Nah itu manfaatnya (kelas) parenting. Saya jadi tahu bagaimana anak melihat tentang seks misalnya, takutnya ada aplikasi yang mengarah ke sana. Saya pernah bilang, ‘Ibu nggak apa-apa kalau kakak main ke mana, main ke sana, ke sini. Namun kalau ada aplikasi lain yang di luar batas, jangan ya’. Dia bilang tidak ada, mudah-mudahan benar. Saya cuma takut itu di masa transisinya ini,” kata Sri.

Sri selalu mencoba berperan sebagai sahabat bagi sang anak di tengah pekerjaannya sebagai pelaku wirausaha. Ia menerapkan cara setelah mendapat pengetahuan dari kelas pengasuhan. Ia ingin anaknya juga bisa terhindar dari hal-hal negatif, seperti “pergaulan bebas” atau bahkan tawuran pelajar. Keterbukaan Sri membuat sang anak menjadi lebih berani menyampaikan keinginannya. Hal lain yang juga penting, kepercayaan diri sang anak mulai meningkat.
“Anak saya aslinya pemalu. Terus saya ajak bicara pelan-pelan, bahwa harus berani, apalagi kamu anak ibu satu-satunya. Ya, sedikit-sedikit sudah berani maju dan mengemukakan pendapat,” terangnya.
Kedekatan anak dan orang tua juga dapat dilihat dari cerita Aziz Ahmad, orang tua dari salah satu siswa. Ia baru ikut kelas pengasuhan pada tahun 2021. Aziz tergerak sejak sang anak menjadi seorang penyendiri, jarang berkomunikasi dengan orang tuanya.
“Anak saya mulai introvert. Jangan-jangan kena bullying ini,” pikir Aziz.
Dia mulai sadar bahwa anaknya sedang dalam fase pencarian jati diri. Memilih tertutup dan lebih memilih bercerita dengan teman-temannya. Cita-citanya juga masih berubah-ubah, dari yang tadinya guru beralih ke dokter.
“Padahal dia takut disuntik,” kata Aziz.
Sebagai ayah, dia lantas memperhatikan keseharian anaknya. Rasa khawatirnya begitu besar, apalagi kalau ditanya, sang anak seringkali menjawab dengan nada meninggi, seperti sedang kesal.
“Mungkin cara tanya saya yang salah,” gumamnya.
Pengalaman demikian membuat Aziz menyukai materi mengenai pengasuhan anak remaja. Dia menjadi tahu strategi apa yang harus dilakukan. Tampaknya hobi sang anak banyak dihabiskan untuk menyelami dunia K-Pop. Saat itulah sang ayah menjelma menjadi seorang K-Popers demi anaknya.
Pada suatu sore, Aziz dan keluarganya sedang bersantai di rumah nenek. Dia melihat istri dan anaknya sedang duduk santai di salah satu tempat. Sang ayah lantas mendekat, memulai percakapan pada anaknya.
“Kak, si Ji-min gimana kabarnya?”
“Oh, dia lagi ini sibuk ini dan itu, sibuk konser.”
“Terus boleh dong ayah ikutan nimbrung di grup sana?”
“Ya jangan dong yah, jangan jadi ARMY.”
“Pacar kakak yang mana?”
“Kalau kakak suka Jung-kook.”
“Wah kasian banget itu cowok-cowok Cianjur terpatahkan hatinya, kalah sama Jung-kook.”
Percakapan tersebut mengarah pada pembahasan mengenai personil BTS, salah satu grup musik besar dari Korea Selatan. Aziz mencari tahu informasi soal grup tersebut sebagai siasat. Perlahan sang anak mulai terbuka. Kekhawatiran sang ayah sudah tidak sebesar dulu.
“Dari kelas parenting, ya itu yang paling saya rasakan. Saya benar-benar menikmati, lo, momen itu. Bagaimana sih cara mendekati anak supaya jangan introvert ke orang tua. Jadi, saya merasa tidak kuper-kuper (kurang pergaulan) banget, minimal saya jadi lebih update dari orang tua yang lain,” tutur Aziz.
Kelas pengasuhan remaja ini merupakan bagian dari program We See Equal yang dijalankan oleh Save the Children di Jawa Barat dengan dukungan P&G. Dalam pelaksanaannya, program ini berkolaborasi erat dengan beberapa SMP di Bandung dan Cianjur serta pemerintah kabupaten masing-masing. Sejak tahun 2022, sebanyak 15 SMP yang pernah didampingi selama empat tahun telah mengambil peran untuk mendampingi sekolah-sekolah lain.

Program We See Equal berupaya mempromosikan kesetaraan gender di antara remaja perempuan dan laki-laki, kaitannya dengan kesehatan, pendidikan, dan peluang lain. Program ini juga berupaya mengatasi persoalan norma sosial negatif karena stereotip gender negatif.
Kegiatan program dilakukan di ruang-ruang kelas sekolah menengah. Anak-anak, selain mengikuti kegiatan belajar secara reguler, juga dilibatkan dalam pendidikan karakter remaja.
Bentuknya bermacam-macam. Misalnya, beberapa anak terlibat menjadi agen perubahan untuk mencegah perundungan di sekolah. Sebagian anak juga terlibat dalam penelitian mengenai pemenuhan hak anak di Indonesia dengan fokus pada isu perkawinan anak, diskriminasi, kekerasan, dan perundungan.
Selain itu, anak-anak murid baru setiap tahunnya juga mengikuti sesi perkembangan karakter remaja dari Modul Choices. Lima sesi dari modul ini telah dipadukan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, program rutin dari sekolah untuk semua anak-anak didik baru setiap tahunnya.