Cerita Perubahan

Membaca Buku, Membuka Masa Depan: Kisah Yabbu* dan Umbu* 

Yabbu* (10 tahun) tahu dia belum bisa membaca walau sudah kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Ia kerap merasa malu karena sebagian besar teman-teman kelasnya sudah lancar membaca. Sementara itu, ia masih terbata-bata menggabung huruf menjadi kata.

Rasa khawatir dan malu juga dirasakan ibunya, Margaretha (38 tahun). Ia dan suaminya menyisihkan waktu untuk mengajari Yabbu* pada sore atau malam hari. Namun anak pertama mereka masih juga belum lancar membaca.

Kekhawatiran serupa dirasakan Karolina (37 tahun) kala mendapati Umbu* (9 tahun), anak laki-lakinya belum bisa membaca walau sudah kelas 2 SD. Setiap malam, Karolina menyuruhnya untuk belajar, namun Umbu* tak menggubris. Sang ibu lantas pergi ke sekolah, meminta tolong pada guru-guru Umbu* untuk memberi perhatian khusus pada anaknya.

Yabbu* dan Umbu* akhirnya mengalami perkembangan baik karena dukungan yang tidak hanya datang di sekolah, tetapi juga di desa.

Percepatan Literasi melalui Buku Bacaan dan Pelatihan Guru

Save the Children dan Yayasan Wahana Komunikasi Wanita (YWKW) melalui Program Sponsorship telah bekerja mendampingi sekolah-sekolah di Sumba Tengah, termasuk sekolah Yabbu* dan Umbu*, sejak tahun 2018. Dengan pendekatan percepatan literasi (literacy boost), program berfokus pada pelatihan guru terkait pengajaran kelas rendah, penataan perpustakaan, serta kegiatan membaca bersama setiap pekan.

Solviana (46 tahun) adalah salah satu guru kelas peserta pelatihan. Program ini membantu ia dan guru-guru lain menjadi lebih peka terhadap kondisi dan kebutuhan murid. Setelah itu, ia sering mengunjungi rumah anak-anak yang masih susah membaca, mencari tahu bagaimana pola asuh orang tua, serta bagaimana kehidupan yang dijalani sang anak di rumah.

”Sampai saya menangis betul, karena (sebelumnya) kami mengajar anak dengan kekuatannya kami, sementara kami tidak tahu seperti apa anak ini dari rumah tangganya,” ujar Solviana.

Setelah kualitas pengajaran meningkat, jumlah anak yang tinggal kelas di sekolah Solviana memang menurun. Namun, masih ada persoalan karena beberapa anak tetap belum bisa membaca, seperti Yabbu* dan Umbu*. Save the Children dan YWKW lantas mengembangkan dan menawarkan metode lain untuk diadopsi oleh sekolah-sekolah di Sumba Tengah. Metode ini dinamai “reading fun” dan mulai dikenalkan ke sekolah-sekolah pada tahun 2023.

Sesi Khusus bagi Yabbu* dan Umbu*

Sekolah tempat Solviana mengajar juga ikut menerapkan program reading fun. Pesertanya dibatasi, yaitu 20 anak dari kelas 2-3 yang masih kesulitan membaca, termasuk Yabbu* dan Umbu*. Mereka mengikuti sesi khusus di luar kelas selama satu jam, enam kali dalam sebulan dalam kurun waktu satu tahun.

Dengan bimbingan guru terlatih, mereka belajar membaca dalam suasana menyenangkan dan didukung dengan beragam permainan. Misalnya lompat huruf atau tebak buah dan hewan.

”Kalau yang kami lakukan di kelas, kami tanya anak, apa nama huruf ini, dia sudah tidak tahu, dia akan terpaku melihat saja. Namun dengan cara bermain, contohnya lompat huruf, ketika dia lompat dia akan pikirkan itu huruf,” jelas Solviana, guru kelas yang juga dipilih menjadi guru pendamping reading fun.

Dalam modul reading fun ini, ada delapan level kemampuan anak. Dimulai dari huruf, suku kata, kata, paragraf, hingga memahami bacaan. Setiap anak memulai program dengan level yang sangat mungkin berbeda sehingga materi sesinya juga disesuaikan dengan situasi ini. Pada tiap akhir bulan, ada evaluasi perkembangan setiap anak. Anak-anak dikatakan lulus dari reading fun apabila sudah bisa menjawab dua pertanyaan berdasarkan cerita yang telah mereka baca. Berikutnya, diambil lagi 20 anak-anak yang belum lancar membaca.

Solviana bercerita, program ini sesungguhnya tak sampai satu tahun. Ketika memasuki bulan ke-5, anak-anak peserta reading fun biasanya sudah bisa membaca. Bahkan ada yang lebih cepat.

Yabbu* dan Umbu* antusias saat pertama kali diberi tahu untuk mengikuti kegiatan tersebut pada tahun 2025. Bagi mereka, tergabung dalam kelompok anak-anak yang belum bisa membaca bukan hal yang memalukan. Mereka lebih malu ketika tak kunjung bisa membaca.

“Justru saya punya teman bilang, ‘Aish, enak jadi kalian,’ karena kami bermain sambil belajar,” ungkap Yabbu*.

Kegiatan ini dilakukan di ruangan kelas yang sudah diatur ulang dalam nuansa yang lebih ceria, dengan dukungan dari tim Program Sponsorship. Semua untuk menunjang proses belajar yang lebih menyenangkan.

Perpustakaan Desa

Di tingkat desa, Save the Children dan YWKW menawarkan ruang belajar alternatif dalam bentuk Pos Baca. Pos Baca adalah adalah perpustakaan desa dengan kegiatan rutin membaca bersama. Anak-anak yang belum lancar membaca juga mendapat bimbingan tambahan di sini. Desa tempat Yabbu* dan Umbu* tinggal adalah salah satu desa yang menerima dan melanjutkan program. Pemerintah desa kini menamainya Taman Baca.

Paulina (48 tahun) adalah salah satu pembimbing pos baca di desa itu sejak tahun 2017. Ia menjadi saksi hidup betapa pos baca telah menjadi tempat perkembangan literasi di tengah keterbatasan desa. Akses ke perpustakaan daerah berjarak 26 kilometer sehingga Taman Baca menjadi rumah belajar menyenangkan bagi anak-anak.

Sore itu, Yabbu*, Umbu*, dan 122 anak-anak SD lain berbondong-bondong datang ke Taman Baca. Mereka akan belajar membaca bersama selama dua jam, dipandu oleh Paulina dan salah satu pembimbing lain bernama Ama.

Di sana, anak-anak dibagi dalam tiga kelompok besar. Kelompok yang masih mengeja huruf, yang sudah bisa menggabung kata, dan yang sudah lancar membaca. Mereka dibimbing berdasarkan kebutuhan masing-masing. Data tingkat kemampuan anak-anak ini didapat dari sekolah dasar di desa, termasuk sekolah Solviana.

“Setiap tahun ajaran baru, kami sering meminta data ke SD. Jadi, data itu kami ramu dan kami kalibrasikan terkait dengan pembelajaran yang kami lakukan di Pos Baca,” jelas Paulina.

Pemerintah desa meneruskan program perpustakaan desa ini karena melihat banyak hal positif yang terjadi pada anak-anak. Mereka juga berkomitmen untuk mendukung para pembimbing dengan pemberian insentif menggunakan dana desa. Saat ini, Taman Baca ini menggunakan sebuah gedung kecil tepat di samping kantor desa.

Perkembangan Yabbu* dan Umbu*

Di Taman Baca ini, Umbu* dan Yabbu* pelan-pelan menjadi akrab dengan dunia membaca. Walau masih terbata-bata menggabung huruf jadi kata, mereka rajin datang ke sana setiap pekan. Kini Yabbu* sudah kelas 4 SD dan Umbu* kelas 3 SD. Keduanya semakin percaya diri untuk membaca.

Karolina menyambut senang ketika Umbu* pulang sekolah dan bercerita, bahwa ia sudah bisa menggabung huruf menjadi kata.

”Sebelum itu, saya tidak yakin sama dia. Sekarang saya rasa bangga saya punya anak ini sudah bisa baca. Dia bilang, cita-citanya mau jadi perawat. Semoga Tuhan kasih saya berkat supaya saya punya anak nanti bisa jadi perawat,” kata Karolina.

Margaretha juga bernapas lega saat Yabbu* bercerita, bahwa ia sudah bisa menggabung kata menjadi kalimat. Awalnya ia tak percaya. Ia sempat mengambil satu buku pelajaran dan menyuruh Yabbu* membuktikan diri. Saat mendengar sendiri anaknya sudah bisa membaca, senyumnya terbit dan merekah.

Yabbu* juga semakin percaya diri untuk mengatakan, cita-citanya adalah menjadi guru.

“Supaya bisa kasih ajar anak membaca,” ungkap Yabbu* tersenyum.

Scroll to Top