Cerita Penggerak

Mama Yuli dan Masyarakat Desa Mengadvokasi Hak Anak melalui Kelompok Perlindungan Anak di Sumba

Dalam upaya mewujudkan lingkungan ramah anak, kita butuh kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk masyarakat setempat. Save the Children, dalam program-program pemenuhan hak anak di Sumba, juga bekerja sama dengan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak.

Salah satu caranya adalah melalui kegiatan Mobilisasi dan Advokasi Masyarakat. Masyarakat diajak turut andil dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan anak di Sumba.

Yuliana Baja Oru (47), akrab disapa Mama Yuli, adalah salah satu tokoh masyarakat yang mendukung upaya pemenuhan hak anak di desa. Mama Yuli, ibu dari enam anak, merupakan Ketua Kelompok Peduli Anak (KPA) di sebuah desa di Kabupaten Sumba Tengah.

Desanya berjarak 8,5 km dari pusat kota serta tidak memiliki sarana dan prasarana dasar. Akses jalan sulit dan terpencil. Itulah yang menyebabkan anak-anak usia PAUD di desa ini tidak bersekolah karena jarak terdekat ke sekolah adalah 5 km. Belum lagi mereka harus mendaki hutan dan perbukitan yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki selama 1 jam.

Mama Yuli bercerita, anak-anak sering diminta orang tua untuk membantu pekerjaan rumah tangga dan memanen di kebun. Selain itu, kekerasan terhadap anak juga masih menjadi persoalan, termasuk kekerasan verbal dan kekerasan fisik.

Membentuk Kelompok Perlindungan Anak

Pada tahun 2016, Save the Children bersama Yayasan Wahana Komunikasi Wanita (YWKW) mendorong masyarakat untuk membentuk kelompok perlindungan anak berbasis masyarakat. Save the Children dan YWKW juga mengadakan sesi peningkatan kapasitas bagi masyarakat. Mama Yuli terpilih sebagai ketua KPA di desanya.

“Awalnya saya tidak paham tentang perlindungan anak berbasis masyarakat dan fungsinya. Namun ketika saya mendengar info bahwa Save the Children bekerja sama dengan Yayasan Wahana Komunikasi Wanita dan membuka seleksi untuk pembentukan organisasi yang bertujuan membantu anak-anak, saya mendaftar,” ungkap Mama Yuli.

“Setelah diajari bagaimana melakukan kegiatan (perlindungan anak berbasis masyarakat) di lapangan dengan benar, kami segera menentukan daerah dengan akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan anak yang paling sedikit. Kemudian kami melakukan sosialisasi dan mencari solusi,” sambungnya.

Save the Children lalu melatih anggota KPA dengan materi terkait 10 hak anak, manajemen organisasi, identifikasi masalah, membuat skala prioritas, rencana kerja masyarakat, hingga mencari solusi terkait masalah pendidikan, kesehatan, dan pelayanan perlindungan anak. Dari rangkaian kegiatan itulah Mama Yuli menjadi lebih sadar akan peran perlindungan anak berbasis masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak anak. Ia memahami korelasi antara isu kekerasan terhadap anak, dampak pola asuh, dan dukungan pemerintah daerah terhadap kesejahteraan anak.

Pada awal pembentukan KPA, banyak tantangan yang Mama Yuli dan tim alami. Misalnya ketiadaan dana, anggota yang mengundurkan diri karena skeptis terhadap organisasi, serta kurangnya dukungan dari pemerintah desa karena saat itu KPA belum menjadi organisasi resmi di desa.

Anggota KPA pada awalnya juga melakukan seluruh kegiatan sosialisasi perlindungan anak secara mandiri. Proses tersebut mengurangi anggota yang 25 orang menjadi hanya 8 orang. Semua anggota yang bertahan adalah perempuan dengan kepedulian mendalam akan masa depan anak-anak di desa. Melihat semangat ini, Save the Children mendorong pemerintah daerah melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa agar mengesahkan KPA berbasis masyarakat ini ke dalam peraturan desa.

Mama Yuli berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan koordinasi dengan pemerintah daerah. KPA desa juga selalu terlibat dalam berbagai kegiatan perlindungan anak. Kini, karena sering terlibat dalam setiap kegiatan, Mama Yuli semakin percaya diri dalam bertindak bersama timnya. Setiap tahun, Mama Yuli menghadiri musyawarah desa dan untuk mengusulkan anggaran kegiatan sosialisasi perlindungan anak dan pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan anak.

Aksi KPA Berbasis Masyarakat

Setelah terlibat dalam beberapa kegiatan bersama Save the Children, KPA yang dipimpin Mama Yuli rutin melakukan promosi tentang keberadaan dan fungsi KPA. Mereka melakukan promosi di tiga dusun dan mengundang perwakilan pemerintah desa.

Dalam kunjungan pertama, pemerintah desa menyatakan baru tahu bahwa fasilitas pendidikan PAUD dibutuhkan di desa tetapi tidak tersedia. Persoalan ini sudah terjadi sejak lama, tetapi tidak diangkat dalam musyawarah desa. Sekolah terdekat saat ini berjarak 1 jam jalan kaki melalui perbukitan dan hutan. Jika hujan, anak-anak memilih tidak sekolah karena jalan terjal dan berlumpur.

Setelah itu, Mama Yuli dan tim KPA mengadvokasi masalah tersebut. Mereka mengusulkan pengembangan PAUD kepada pemerintah desa. Ia juga turut mengadakan pertemuan kedua dengan masyarakat untuk membangun sekolah non-permanen secara swadaya. Salah seorang warga langsung menyumbangkan tanahnya untuk membangun sekolah. Aksi itu mendorong warga lain bergotong-royong membangun PAUD di desa.

Kini, sudah tujuh tahun Mama Yuli dan anggota KPA berjuang untuk melakukan sosialisasi dan advokasi di masyarakat. Dalam pengamatan mereka, kekerasan terhadap anak di desa mereka mengalami penurunan. Sudah jarang orang tua mengutuk dan memukul anak-anak mereka. Petugas Posyandu juga rutin memberikan pelayanan kesehatan. Selain itu, desa ini sudah memiliki dua PAUD, yang menampung lebih dari 30 murid, hasil kerja sama masyarakat dan pemerintah desa. •

Scroll to Top