Di salah satu dusun di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak masih menjadi tantangan bagi sebagian besar warga. Keterbatasan ekonomi, ditambah dengan kurangnya kesadaran, membuat banyak rumah tangga belum memiliki jamban. Akibatnya, kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) masih tinggi sehingga memicu infeksi saluran pencernaan seperti diare.
Kunut Andreas (39), kepala dusun di sana, merasakan langsung dampak dari kondisi ini pada keluarganya. Salah satu anaknya yang belum genap berusia satu tahun sempat dua kali mengalami diare berat dan hampir meninggal.
“Sudah biru ini matanya, sudah saya beri obat tidak mempan, anakku itu sampai sudah tidak bisa nangis,” ungkap Kunut.
Jarak rumah Kunut dengan fasilitas kesehatan terdekat bisa mencapai dua jam. Kondisi jalan yang buruk —penuh lumpur di musim hujan dan penuh debu di musim kering— membuatnya kesulitan membawa anaknya ke sana, apalagi ia hanya memiliki sepeda motor. Beruntung, di saat kritis, terdapat ambulans yang bisa menjemput, sehingga nyawa anaknya pun terselamatkan.
“Puji Tuhan saat itu ada ambulans yang bisa jemput. Setelah dirawat tiga hari, kondisi anak saya mulai membaik,” ungkap Kunut.
Kunut masih termasuk beruntung karena nyawa anaknya terselamatkan. Setiap tahun, di desanya selalu ada balita yang meninggal karena diare. Terbatasnya akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak dan jauhnya jarak fasilitas kesehatan membuat hal ini terus berulang.
“Setiap tahun pasti ada yang meninggal karena diare. Penanganan diare itu ngga bisa lama-lama, itu harus penanganan medis,” ungkap Kunut.
Apa yang diungkap Kunut ini didukung pula oleh Budianto (32), kepala desa di sana. Budianto mencatat, setidaknya ada empat balita di desanya yang meninggal akibat diare dalam beberapa tahun terakhir. Ia mengaitkan hal ini dengan kebiasaan buang air besar sembarangan yang masih menjadi hal lumrah di desanya.
“Di sini itu masih banyak warga yang buang air besarnya sembarangan, ada yang ke hutan, ke sungai. Akibatnya, angka infeksi saluran pencernaan seperti diare tinggi,” ungkap Budianto.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Save the Children Indonesia melalui Program RESILIENCE yang didukung oleh pendanaan dari Cargill melakukan pelatihan pembuatan kloset jongkok dan septic tank sehat, serta produk sanitasi dan kebersihan seperti sabun dan deterjen. Peserta pelatihan juga dibekali dengan materi pemicuan serta edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Pelatihan tersebut dilakukan untuk membangun ketahanan komunitas dengan memastikan setiap individu memiliki pengetahuan dan kapasitas untuk menciptakan fasilitas sanitasi layak. Selain itu, pelatihan ini juga dilakukan untuk membekali komunitas dengan keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan tambahan. Hingga saat ini, sebanyak 418 orang telah berhasil dijangkau lewat pelatihan yang dilakukan di 14 desa.
Kunut menilai pelatihan ini tidak hanya membantu meningkatkan pengetahuan dan kapasitas, namun juga membuka peluang ekonomi, terutama bagi orang muda yang selama ini kesulitan mendapatkan pekerjaan. Ia berharap keterampilan yang diperoleh dari pelatihan ini dapat dikembangkan menjadi unit usaha sehingga manfaatnya bisa berkelanjutan.
“Mudah-mudahan pelatihan ini bisa dikembangkan menjadi unit usaha. Biar orang-orang muda ataupun orang-orang tua yang belum ada pekerjaan bisa dapat pekerjaan,” ungkap Kunut.
Salah satu orang muda yang mengikuti pelatihan ini adalah FP (18). Sebagai satu-satunya peserta perempuan, awalnya ia merasa canggung. Namun perlahan kecanggungan ini berubah menjadi antusiasme karena menurutnya pelatihan ini sangat relevan dengan kebutuhan lingkungan tempat tinggalnya.
“Pelatihan ini menurut saya sangat bermanfaat karena di sini masih banyak rumah tangga yang belum memiliki jamban. Saya berharap, pelatihan ini bisa memicu kesadaran masyarakat akan pentingnya sanitasi, sehingga semua bisa memiliki jamban,” ungkap FP.
Budianto sangat mengapresiasi program ini. Ia melihat program ini sebagai langkah penting untuk menuju komunitas yang memiliki pola hidup bersih dan sehat. Harapannya, tidak ada lagi anak yang harus kehilangan nyawa akibat kondisi kebersihan dan sanitasi yang buruk.
“Saya sangat bersyukur dengan kehadiran Program RESILIENCE ini karena bisa membantu desa dalam memberi pengertian ke masyarakat mengenai pentingnya pola hidup bersih dan sehat. Karena selama ini itu yang kena dampaknya itu anak-anak kecil yang belum tahu apa-apa,” ungkap Budianto.
Perjalanan transformasi desa menuju desa bebas buang air besar sembarangan (Open Defecation Free atau ODF) tentu masih panjang. Namun setidaknya, harapan baru kini mulai tumbuh. Dukungan dari Program RESILIENCE, termasuk melalui pelatihan ini, menjadi pemicu perubahan sekaligus fondasi bagi komunitas untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi anak-anak.
*Nama disamarkan untuk melindungi data pribadi anak.
