Tengah hari saat Adzan Dhuhur sedang berkumandang, Alam*, anak usia sekolah dasar, segera meraih sarung lalu bergegas menuju masjid yang hanya berjarak satu rumah dari tempat ia tinggal di Tapanuli Tengah.
Sesampainya di masjid, ia menuju ke deretan kran air di halaman depan masjid. Dengan jemarinya, Alam perlahan memutar kran, lalu air bersih mengucur deras. Alam mulai berwudhu.
“Dulu airnya mati, wudhunya dari rumah pakai air tadahan hujan,” cerita Alam.
Apa yang dikatakan Alam dibenarkan oleh ibunya. Sang ibu menceritakan apa yang mereka alami ketika banjir yang menggenangi rumah mereka mulai surut. Selain lumpur tebal, air yang biasa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari tak lagi keluar dari pipa dan keran di rumahnya.
“Untuk air minum, kadang kami harus membeli air dengan jerigen, namun tidak rutin. Kami juga menampung air hujan supaya memiliki cadangan air untuk kebutuhan sehari-hari,” tutur sang ibu mengenang masa sulit setelah banjir. Ia terpaksa membeli air bersih dari penjual jerigen keliling yang memasok air dari daerah lain.
Misnan, salah satu perangkat desa, menceritakan bagaimana warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Setelah banjir surut, sumber air yang biasa digunakan warga rusak, termasuk pipa yang menghubungkan ke pemukiman warga. Sebagian warga menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari termasuk air minum. “Banyak warga yang menampung air hujan untuk sehari-hari,” kenang Misnan.
Kondisi ini dibenarkan oleh Nunung (41 tahun), yang rumahnya tak jauh dari rumah keluarga Alam. Nunung menceritakan bagaimana suami dan dua cucunya beberapa kali mengonsumsi tampungan air hujan.
Misnan menambahkan bahwa sumber air yang selama ini dialirkan ke rumah warga mengalami kerusakan hingga tak bisa digunakan lagi. Warga harus beralih ke sumber air di sisi bukit yang lain. Namun persoalan belum selesai karena pipa-pipa untuk mengalirkan air juga rusak berat karena terjangan banjir.
Save the Children Indonesia memberikan bantuan pemipaan air untuk menggantikan jaringan pipa lama yang sudah tak bisa digunakan. Warga dan relawan bergotong royong membangun kembali jalur pipa dari sumber air di perbukitan. Pada pertengahan Mei 2026, jaringan pipa air sudah kembali normal seperti sedia kala. Pipa yang dipasang bersambungan, panjang totalnya mencapai 2,5 km hingga masuk ke rumah warga.
Dari jaringan pipa baru ini, kini tak kurang dari 1.000 warga terdampak di Tapanuli Tengah bisa menikmati air bersih untuk kebutuhan rumah tangga mulai air minum, memasak, dan mencuci. Dengan mengalirnya kembali air bersih ke rumah-rumah, para ibu di desa itu tak lagi was-was saat harus menyediakan makanan dan minuman untuk anak dan cucu mereka.
Anak-anak menjadi lebih aman dan sehat dibandingkan ketika harus mengonsumsi air tadah hujan. Alam dan teman-temannya kini makin semangat beribadah ke masjid karena sekarang bisa berwudhu dengan air yang deras dan bersih daripada sebelumnya.
*) Nama diubah untuk perlindungan.
