Cerita Penggerak

Kolaborasi untuk Vaksinasi COVID-19 di Pati

Mendekatkan layanan vaksinasi pada kelompok rentan melalui komunitas yang kerap terpinggirkan

Dari kecil Ardi (46) tahu ada yang berbeda dari dirinya. Meski terlahir sebagai laki-laki, ia sadar jika dirinya adalah perempuan. Kini Ardi tak lagi peduli pada perbedaan tersebut. Tanpa ragu, ia menyebut dirinya sebagai waria.

Sosok Ardi tak bisa dilepaskan dari Dining (36), seorang perempuan anggota Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ardi dan Dining merupakan inisiator dari komunitas Roro Mendut, sebuah komunitas waria yang ada di Pati, Jawa Tengah.

Inisiatif Ardi dan Dining untuk membuat komunitas waria tentu bukan tanpa alasan. Waria kerap dipandang sebelah mata dan dikucilkan, baik oleh keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Tak heran, banyak di antara mereka berakhir di pelacuran, karena di tempat itulah mereka merasa “diterima” dan bebas menunjukkan jati dirinya.

Roro Mendut didirikan untuk merangkul “orang-orang buangan” ini. Bagaimana melalui sebuah komunitas, dapat tercipta suatu solidaritas untuk saling berbagi suka dan duka, serta dukungan untuk dapat berkembang bersama ke arah yang lebih baik.

“Jadi misalnya ada yang punya masalah ekonomi atau kesehatan, yang mungkin belum punya kerjaan atau yang lagi sakit, bisa kita bantu sama-sama,” ungkap Dining.

Dining kerap mendapat cibiran karena terlibat dalam sebuah komunitas waria. “Kalau dapat cibiran, sudah biasa. Sudut pandang orang kan beda-beda ya terkait waria, tapi yang harus kita lihat adalah kemanusiaannya. Jadi ya sudah, itu yang terpenting,” ungkap Dining.

Roro Mendut berdiri sejak tahun 2018. Menurut Ardi, dibutuhkan waktu hingga dua tahun untuk mengajak teman-teman waria agar bersedia membuat sebuah komunitas bersama. “Sulit sekali mengajak mereka, penuh darah dan derita pokoknya,” kenang Ardi seraya tertawa.

Roro Mendut adalah salah satu komunitas yang terlibat dalam program percepatan vaksinasi COVID-19 untuk kelompok rentan di Pati, Jawa Tengah. Program ini diinisiasi oleh Kemitraan Australia Indonesia untuk Ketahanan Kesehatan (AIHSP) bekerja sama dengan Save the Children dan Migrant CARE.

Dining (36) dan Ardi (46) berfoto bersama di sela-sela kegiatan Vaksinasi COVID-19 Inklusif di sebuah kampung nelayan di pesisir utara Jawa, tepatnya di Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah. Vaksinasi COVID-19 Inklusif dilakukan untuk menjangkau kelompok rentan seperti lansia dan disabilitas yang memiliki hambatan dalam mengakses vaksinasi. (Thomas Gustafian / Save the Children)

Dalam program percepatan vaksinasi ini, Ardi dan Dining melakukan pendekatan ke desa-desa. Mereka berusaha mendekati masyarakat dan menjelaskan manfaat serta pentingnya vaksin pada mereka.

“Mempengaruhi orang yang tidak mau vaksin agar mau vaksin itu kan tidak mudah, apalagi tanpa iming-iming bantuan atau apa. Jadi hal pertama yang biasa saya lakukan adalah pendekatan ke tokoh-tokohnya dulu yang saya pandang bisa membantu menggerakan masyarakat,” ungkap Ardi.

Seraya bercanda, Ardi menuturkan kalau waria cenderung bisa melakukan pendekatan dengan luwes. “Kalau waria itu kan pendekatannya bisa lebih luwes. Kalau saya masih dandan seperti dulu mungkin saya nggak berani ya. Tapi kalau saya nggak dandan seperti sekarang kan masuknya bisa lebih luwes untuk pendekatan,” jelas Ardi.

Secara penampilan Ardi memang tidak terlihat seperti waria. Orang kemungkinan tidak akan tahu jika hanya melihat Ardi dari penampilannya saja. Ardi mengatakan, ia rela tidak dandan agar bisa melakukan pendekatan di lapangan.

“Ini adalah hal yang harus saya lakukan agar bisa melakukan pendekatan dan diterima masyarakat. Kalau seandainya saya datang dengan dandan, orang akan mencibir malahan. Jadi ya ini istilahnya pengorbanan, tapi ya nggak apa-apa,” ungkap Ardi sembari tertawa lirih.

Melibatkan berbagai komunitas dalam sebuah kerja kolaboratif tentu tidak mudah. Apalagi, komunitas yang dilibatkan berasal dari kelompok yang kerap terpinggirkan seperti waria.

Prijo Wasono (48), Program Officer Migrant CARE untuk program percepatan vaksinasi ini menuturkan, awalnya sempat ada yang protes saat ia mengajak teman-teman waria untuk ikut terlibat dalam aktivitas program.

“Jadi saat saya mempertemukan waria dengan teman-teman lain yang jadi mitra program ini, ada beberapa yang sempat protes, ‘Pak, orang-orang seperti itu kok dilibatkan,’” kenang Prijo seraya tertawa.

Perlahan Prijo pun berusaha memberi pemahaman. “Ya mereka juga manusia, jadi dilihat dari sisi itu saja, kita nggak usah mempersoalkan dari sisi dia salat atau tidak, agamanya apa, dan sebagainya,” jawab Prijo waktu itu. Penjelasan ini pun akhirnya bisa diterima dengan baik sehingga menghasilkan kolaborasi apik di lapangan.

(Thomas Gustafian / Save the Children)

Di Pati sendiri, kerja kolaboratif ini berhasil membantu lebih dari 28.000 orang mendapatkan haknya atas vaksinasi COVID-19, termasuk lansia, penyandang disabilitas, komunitas adat, anggota keluarga pra-sejahtera, dan sebagainya.

Teguh Asroyo (56), Subkor Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, sangat mengapresiasi hasil dari kerja kolaboratif ini. “Kami sangat mengapresiasi kerja kolaboratif ini. Kami di Dinas Kesehatan Pati sangat berterima kasih atas peran serta teman-teman semua dalam memobilisasi masyarakat. Mereka yang dulunya tidak mau vaksin akhirnya sekarang jadi mau,” ungkap Teguh.

Scroll to Top