Genap 5 tahun Muhammad Zazuli berkarya di Save the Children. Zazuli – sapaan akrabnya – kini bekerja untuk Program Youth Livelihood & WASH Ketapang di desa-desa di Kecamatan Air Upas, Kabupaten Ketapang sebagai Livelihood Coordinator sejak 1,5 tahun lalu.
“Saya aslinya dari Lampung. Di sana jadi Program Officer 1 tahun 2 bulan, pernah juga jadi fasilitator di lampung untuk Program Cocoa Life 2 tahun 4 bulan,” urainya.
Meski jauh dari tempat asalnya, ia merasa ditempatkan di Air Upas merupakan kesempatan bagus yang belum tentu datang dua kali. Apalagi sejak awal bekerja di Save the Children, ia selalu menempati posisi berbeda.
“Ini pertama kalinya jadi coordinator, ini kesempatan yang bagus. Tempatnya baru, di Kalimantan. Saya melihat ini sebagai kesempatan walaupun tempatnya jauh dan remote,” jelasnya.

Jenjang karir yang terus mengalami perkembangan, membuat Zazuli terus-terusan dituntut mengembangkan diri atau self-development dengan menggali informasi terbaru. Hal ini juga yang membuatnya yakin untuk menetap bekerja di Air Upas. Terlebih ia memiliki ketertarikan mendalam untuk bekerja di tematik livelihood atau bidang pemberdayaan yang berkontribusi positif untuk masyarakat.
“Seperti untuk meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga agar masa depan anak jadi lebih baik. Khususnya dari pemenuhan hak pendidikan, kesehatan, dan sosial,” jelasnya.
Tujuan mulia tersebut sejalan dengan prinsipnya untuk terus menambah ‘tabungan’ informasinya. Kerja di Save the Children, jelasnya, bisa membuatnya terus belajar dan berkontribusi. Ada beragam hal menarik yang bisa ia ambil.
“Setiap hari dapat pelajaran-pelajaran baru,” ucapnya.
Kerap mendapat area kerja yang jauh atau di wilayah pedesaan, Zazuli justru bersyukur akan kenyataan tersebut. Menurutnya tidak semua orang memiliki kesempatan bekerja jauh dari kota. Seperti wilayah kerjanya saat ini, yang bahkan masih harus menempuh 6 jam perjalanan darat dari ibukota kabupaten, dan 18 jam perjalanan darat dari ibukota provinsi.
Di desa, di tempat jauh, selalu ada hal unik dan baru yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan. Banyak hal yang juga membuatnya menjadi lebih kuat, berkembang, dan beradaptasi. Bekerja di daerah jauh tentu mendatangkan tantangan tersendiri, terutama dari sisi akses. Tidak semua wilayah di desa tempatnya bekerja dapat ditempuh dengan jalur darat. Belum lagi sering ada banjir dikarenakan meluapnya air sungai.
Namun tantangan tersebut sama-sekali tak menghentikan keyakinannya untuk terus bekerja. Banyak kearifan lokal yang ia dapatkan selama bekerja.
“Di Ketapang ini untuk pengembangan masyarakat atau kelompok adalah sesuatu hal yang baru (bagi masyarakat). Kita adalah NGO pertama yang ada di sini, sehingga mereka menunjukkan antusias tinggi. Selain antusias, semangat mereka juga tinggi,” jelasnya.
“Kalau yang kita bina semangat, tentu fasilitatornya lebih semangat. Jadinya Bekerja terasa hasilnya, dan kita tidak merasa capek,” lanjut pria 31 tahun ini.
Ia berpesan pada pemuda-pemudi lainnya untuk turut berkontribusi ke desa. Masyarakat desa, jelasnya, membutuhkan bantuan dari orang luar desa agar terjadi pengembangan, terutama dari sisi edukasi dan pengetahuan.
“Saya pikir di desa itu butuh support dari pihak luar. Dan siapa yang mau melakukan itu kalau bukan kita. Apalagi yang masih muda banyak pembelajaran bisa diambil di pekerjaan seperti ini,” pungkasnya.
