Kisah Rohmilah Menghadapi Banjir Bandang di Lebak

Siti Rohmilah (29) masih mengingat dengan jelas peristiwa banjir bandang yang menerjang rumah dan warung yang ia miliki. Waktu banjir terjadi, ia sedang menyuapi anaknya makan di dalam rumah. Banjir yang cepat dan kencang membuat panik orang sekitar dan berteriak ada air naik. Ketika Rohmilah melihat, air sudah masuk ke dalam pekarangan rumah. Dengan keadaan panik ia segera bergegas berlari menyelamatkan diri. Tetangganya datang menolong untuk membawa kedua anaknya ke tempat yang lebih tinggi.

Banjir bandang akibat cuaca ekstrem ini terjadi di wilayah Lebak Selatan, Banten, Indonesia, pada Minggu sore, 9 Oktober 2022 setelah hujan deras selama kurang lebih 10 jam. Menurut data dari kecamatan, sebanyak 3.068 rumah tangga atau 12.717 warga terdampak banjir bandang ini.

Selang sekitar satu jam, banjir disusul dengan gempa Magnitudo 5,5 dengan titik pusatnya di 22 km sebelah barat daya Bayah-Banten dan kedalaman dangkal 12 km. BNPB juga melaporkan ada kejadian longsor setelah gempa di beberapa titik di Lebak Selatan. Dua hari kemudian, banjir bandang susulan juga melanda area ini. Menurut data BNPB, sebanyak 688 rumah tangga terdampak banjir bandang susulan.

Bagi Rohmilah, baru kali ini seumur hidupnya dia merasakan banjir bandang sebesar itu sampai setinggi atap rumah. Dampaknya banyak barang terbawa arus dan isi jualan warung Rohmilah banyak yang terbawa arus banjir. Ia mengaku masih takut dan trauma jika melihat kondisi air yang naik. Kedua anaknya masih sering menangis jika hujan deras dan melihat genangan air di depan rumahnya.

Rumah Rohmilah dan keluarga menyatu dengan warung kelontong yang saat ini terpaksa ia tutup karena banyak dagangan yang habis terbawa arus banjir. Setelah banjir pertama usai, Rohmilah menitipkan semua barang rumah tangga ke rumah tetangga yang lokasinya lebih tinggi. Ia bersama anak-anaknya mengungsi di sana selama dua hari, sembari ia bolak- balik ke rumah untuk bersih-bersih. Namun, banjir susulan terjadi dan rumahnya kembali diterjang air bercampur lumpur dan tanah.

Saat ini, kondisi rumah Rohmilah rusak dengan dinding yang retak serta lembab. Sejumlah barang rusak, seperti lemari kayu, lemari plastik, pakaian, peralatan sekolah anak, dan pompa bersih. Hilya (7) anaknya tidak berangkat kee sekolah karena sebagian peralatan sekolah hilang dan sebagian lain kotor. Ia berharap dapat pindah dan membangun rumah di area yang lebih aman dari banjir karena sampai saat ini masih merasa ketakutan banjir akan terjadi lagi.

Kini, keluarga Rohmilah memenuhi kebutuhan air bersih dengan meminta dari tetangga menggunakan saluran pipa paralon. Mereka sedang berusaha memperbaiki pompa air bersih di rumah supaya bisa mendapatkan air bersih tanpa tergantung pada tetangga.

Pascabanjir, Save the Children mendistribusikan bantuan non pangan ke lokasi terdampak, salah satunya ke desa tempat Rohmillah tinggal. Pada pekan pertama pascabanjir, Rohmilah memperoleh hygiene kit for family, hygiene kit for children, water kit (bucket and jerrycan), dan back to school kit untuk membantu mereka di tengah situasi darurat bencana.

Hingga 23 Oktober 2022, tim respons Save the Children telah mendistribusikan hygiene kit for family kepada 500 keluarga, hygiene kit for children pada 500 keluarga, water kits bucket pada 540 keluarga, water kit dan jerrycans pada 500 keluarga, and 14 cleaning kit for community. Melalui aktivitas distribusi ini, kami juga mengidentifikasi serta merujuk anak pada layanan sosial ataupun kesehatan jika dibutuhkan. Selain itu, tim respons Save the Children juga memberikan pesan edukasi tentang pentingnya kesehatan dan kebersihan, termasuk dalam situasi bencana.

Selama beberapa waktu, Rohmilah dan anak-anaknya belum menempati rumah mereka. Ia berharap pemerintah dapat melakukan mitigasi bencana dengan membangun beronjong pencegah banjir berikutnya. Meski begitu, ia masih berharap mereka mampu membangun rumah di area yang lebih aman dari banjir.

Scroll to Top