Fajar perlahan menyingsing. Kumandang azan dari masjid-masjid memecah sunyi, menyatu dengan udara pagi yang masih dingin. Deru mesin kembali terdengar, menandai dimulainya aktivitas harian. Sepeda motor yang setia menemani Nasir selama belasan tahun menyala perlahan. Bagi Nasir, motor itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan saksi perjalanan pengabdian. Setiap goresan dan bunyi mesinnya menyimpan cerita tentang keteguhan, kesabaran, dan pilihan hidup yang ia jalani.
Sepeda motor itulah yang setiap hari membawanya melintasi batas kabupaten dan kota. Perjalanan sejauh 71 kilometer yang ditempuh sekitar satu setengah jam bukanlah jarak yang singkat. Namun, jarak itu tak pernah menjadi beban. Di ujung perjalanan, anak-anak madrasah telah menunggu. Di sanalah, Nasir menjalani perannya. Bukan hanya sebagai kepala madrasah, tetapi sebagai pendidik yang memilih untuk hadir, setia, dan terus berjalan bersama murid-muridnya.
Perjalanan Nasir di dunia pendidikan berawal dari mimpi sederhana. Sejak masih bersekolah, ia bercita-cita menjadi guru. Keinginan itu tumbuh bukan karena ambisi, melainkan karena keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah kehidupan. Nilai keterbukaan dan kejujuran ia pegang teguh, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Nilai-nilai itulah yang mengantarkannya dipercaya menjadi salah satu kepala madrasah di Nias Utara, Sumatera Utara.
Menjadi kepala madrasah tak pernah masuk dalam daftar rencana Nasir. Ia memulai segalanya sebagai guru, dengan satu keyakinan sederhana: anak-anak harus diperlakukan sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar objek pembelajaran atau angka dalam laporan. Di balik perjalanan itu, ada sosok yang tak pernah berhenti memberi keyakinan, yakni istrinya. Dengan doa dan dukungan penuh, ia meyakini Nasir untuk berani mengambil peran sebagai pemimpin jika ingin membawa perubahan.
Doa, kesabaran, dan keberanian berbuah kesempatan. Nasir diberi amanah untuk membantu membenahi sebuah Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN). Kepercayaan itu pun tumbuh, hingga akhirnya ia diminta memimpin madrasah tersebut. MIN itulah yang kemudian menjadi ruang pengabdian Nasir hingga kini. Bukan karena ia memilihnya, tetapi seolah madrasah itu yang memilih Nasir untuk menjadi bagian dari perjalanannya.
Setiap pagi di MIN tersebut, ia melihat wajah anak-anak yang datang membawa harapan orang tua dan masa depan mereka sendiri. Bagi Nasir, di sinilah pengabdian menemukan maknanya.
“Menjadi guru itu bukan hanya mengajar, tetapi membersamai anak-anak menemukan makna belajar,” ujarnya.
Tahun 2024 menjadi titik refleksi penting. Rapor Pendidikan menunjukkan capaian literasi MIN masih berada pada kategori kurang. Pada Kompetensi Sains Madrasah, madrasah yang ia pimpin juga belum mampu meraih prestasi.
“Saya sadar, ada yang perlu kami benahi bersama. Bukan hanya cara mengajar, tetapi cara membangun budaya belajar,” tambahnya.
Ia melihat satu akar persoalan: rendahnya minat membaca siswa. Namun ia juga meyakini bahwa literasi tanpa karakter tidak akan kokoh.
Nasir kemudian menjadi salah satu master teacher (MT) dari program KREASI Nias Utara sejak 2025. Ia mengikuti berbagai pelatihan dan pembekalan kepemimpinan dan cara mengajar yang menarik serta mendalaman.
Kepemimpinan Nasir melahirkan praktik baik bertajuk “Literasi Berkarakter Menuju Prestasi.” Ia mengajak guru dan tenaga kependidikan duduk bersama, memetakan solusi, lalu melibatkan orang tua dan Komite Madrasah. Karena menurutnya, sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Pendidikan anak adalah kerja bersama antara guru, orang tua, dan lingkungan.
Program literasi dirancang sederhana namun konsisten. Ada “Jam Literasi” setiap pagi pukul 08.10–08.30, siswa mengikuti kegiatan literasi di luar jam pelajaran. Pojok baca hadir di setiap kelas. Literasi dijalankan bertahap dengan membiasakan membaca, menceritakan kembali, memahami dan menyimpulkan, hingga mengaitkannya dengan pembentukan karakter melalui salat duha dan Jumat berbagi.
Perubahan tentu tidak selalu mulus. Evaluasi menunjukkan masih ada siswa yang belum lancar membaca dan memahami bacaan. Pengawasan guru belum maksimal, keterlibatan orang tua belum merata, dan sebagian siswa belum sepenuhnya sungguh-sungguh. Namun, alih-alih mundur, Nasir memilih berbenah dari dalam. Guru dikuatkan kembali, orang tua diajak berdialog, dan siswa didekati dengan empati.
“Perubahan tidak lahir dari menyalahkan, tetapi dari keberanian untuk memperbaiki,” katanya.
Perlahan, suasana madrasah berubah. Buku tidak lagi terasa asing. Anak-anak mulai berani bercerita, menyampaikan gagasan, dan memahami bacaan. Literasi bukan lagi beban, melainkan kebiasaan.

Hasilnya pun mulai terlihat. Pada Oktober 2025, empat siswa sekolah itu meraih empat kejuaraan dalam Olimpiade Madrasah Indonesia tingkat Kabupaten Nias Utara dan
melaju ke tingkat Provinsi Sumatera Utara. Prestasi di bidang Matematika dan IPAS menjadi bukti bahwa literasi yang berkarakter mampu melahirkan capaian akademik.
Namun, capaian terbesar bukanlah piala.
“Prestasi itu bonus. Yang utama adalah ketika anak-anak tumbuh percaya diri, berakhlak, dan mau belajar sepanjang hayat,” ujarnya.
Dari perjalanan panjangnya sebagai guru hingga kepala madrasah, ia merangkum satu prinsip kepemimpinan yang selalu ia pegang: Memanusiakan manusia untuk menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara adalah tugas kita sebagai guru.
Di MIN itu, praktik baik itu terus hidup. Bukan sebagai program sesaat, melainkan sebagai budaya. Sebuah bukti bahwa kepemimpinan yang berangkat dari nilai, keberanian, dan kebersamaan mampu mengubah tantangan menjadi harapan.