Angki (15) memiliki awal yang sangat baik dalam hidupnya. Ia tumbuh di lingkungan yang mendukung penuh tumbuh kembangnya: rumah, sekolah, dan desa. Semua saling mendukung mengupayakan yang terbaik baginya dan anak-anak lain.
Di rumah berdinding kayu jati di salah satu desa di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, Angki kecil mendengar dongeng dari sang ibu hampir setiap malam. Di sekolah, ia menjadi bagian dari berbagai aktivitas yang membentuk kepercayaan diri dan tanggung jawab. lalu di desa, ia bergabung dalam kegiatan Pos Baca, tempatnya dan teman-teman lain bisa belajar membaca sambil bermain. Perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik dimulai dari situ.
Belajar Metode Pengajaran dan Pengasuhan

Paulina (46 tahun), ibu Angki, awalnya adalah seorang lulusan SMA. Peluang membawanya untuk direkrut dan bekerja menjadi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pada tahun 2014, ia bertemu dengan program Save the Children dan mendapatkan serangkaian pelatihan terkait pengajaran dan pengasuhan. Saat itu, Save the Children baru saja memulai Program Sponsorship, program pemberdayaan yang kelak dilaksanakan bersama Perkumpulan Stimulant Institute di Sumba Barat dan Yayasan Wahana Komunikasi Wanita di Sumba Tengah.
Sebagai peserta Program Sponsorship, dia diberi pelatihan soal pengembangan kapasitas guru PAUD, pengasuhan dengan disiplin positif, membangun, komitmen dengan anak, serta membuat Alat Permainan Edukatif (APE) dari bahan bekas. Bagi Paulina, ini menjadi titik penting untuk menata diri dan hidupnya menjadi lebih baik.
“Bersyukur dengan adanya kegiatan program, banyak pelatihan untuk menambah wawasan bagaimana mendidik anak-anak PAUD. Jadi pada tahun 2014, saya juga bisa kuliah. Pada tahun 2018, saya wisuda,” ungkapnya.
Baginya, ilmu dari pelatihan adalah aset untuk mengembangkan diri menjadi orangtua dan guru yang lebih baik.
Di rumah, Paulina mulai menerapkan komitmen dengan ketiga anaknya. Misalnya, pembagian tugas dalam rumah tangga agar mereka terbiasa bertanggung jawab sejak kecil. Dia pun mulai membacakan dongeng bagi Angki sejak sebelum anak laki-lakinya itu masuk PAUD. Dari sinilah kemampuan kognitif dan empati Angki dibentuk.
”Kendati (cerita) ulang-ulang, tapi dalam mendongeng ada pesan moral, nilai-nilai kebaikan, dan mungkin dari situ, Angki ini jadi gemar membaca,” cerita Paulina.
Ilmu dari pelatihan itu juga membuatnya lebih sabar menghadapi anak-anak didiknya di PAUD.
”Kalau langsung pukul ketika buat salah itu bukan solusi. Sudah dapat pelatihan bagaimana cara menghadapi anak-anak, jadi saya tahan diri. Baru kita kasih dia pengertian,” jelas Paulina.
Menjadi Teladan
Perubahan perilaku juga terlihat pada suaminya. Paulina mengatakan, “Awal-awal kalau dia antar saya ke sekolah kata tolong atau terima kasih itu macam lucu. Tapi saya mulai duluan. Lama-lama dia sendiri kalau minta sesuatu dia bilang tolong,” ceritanya sambil tertawa.
Atas konsistennya menerapkan ilmu pengasuhan, Paulina dipercaya menjadi fasilitator sesi pengasuhan bagi para orang tua lain di desa. Ilmu pola asuh tanpa kekerasan dan lebih menekankan komunikasi dengan anak, ia bagikan kepada para orang tua.
“Ketika kami diskusi, ada orang tua sampai menangis. Saya bilang, memang tujuan kita orang tua baik, tapi mungkin caranya yang salah,” jelas Paulina.
Pondasi Literasi Angki
Angki berusia empat tahun saat mengikuti Pos Baca, kegiatan literasi di desa yang diinisiasi Save the Children. Anak-anak yang belum bisa membaca dikumpulkan di luar jam sekolah untuk bermain sambil belajar.
“Di pos baca itu, kita bisa belajar membaca, menggambar, mewarnai,” kata Angki.
Saat masuk sekolah dasar, Angki sudah bisa membaca. Saat ia naik ke kelas besar (4-6 SD), ia juga menjadi tutor sebaya di pos baca untuk mengajari anak-anak membaca dan memahami bacaan, termasuk Mentari (13 tahun), teman masa kecilnya.
”Kalau Angki, kasih ajar titik, koma. Dia juga kasih ajar menggambar, menghitung. Dia sabar,” ungkap Mentari.
Di sekolah, Angki juga dipilih menjadi“duta baca” dan dokter kecil. Ia mengajak teman-temannya ke perpustakaan serta mengajarkan cara mencuci tangan, menyikat gigi, dan menjaga kebersihan. Mentalnya ditempa, membuatnya lebih berani berbicara di depan umum.
“Dulu, guru kasih pertanyaan, walaupun saya tahu, saya tidak menjawab karena malu. Tapi setelah dengan Save the Children, diajar untuk percaya diri. Jadi jika ditanya, saya akan menjawab. Berbicara depan banyak orang sudah berani dan tidak gugup,” ceritanya.
Solibeko (61 tahun), eks kepala SD tempat Angki bersekolah, menyebut bahwa Program Sponsorship telah membantu anak-anak belajar lebih baik. Selain kegiatan bagi anak-anak, sekolah juga mendapat fasilitas seperti perpustakaan, buku-buku, toilet, dan akses air bersih. Angki adalah salah satu anak yang jadi rajin meminjam buku.
Guru-guru juga dilatih soal kurikulum, sekolah ramah anak, metode pengajaran, mengontrol emosi saat mengajar, serta isu kekerasan pada anak. Dampaknya terasa, bahkan disebarkan Solibeko ke sekolah lain.
”Saat saya pindah ke sekolah lain, di sana guru pegang kayu, tempeleng (tampar) anak. Saya bilang, hentikan itu. Guru-guru ini belum dapat pelatihan. Jadi saat itu, mereka juga berubah, tidak lagi tempeleng anak,” cerita Solibeko.
Saat SMP, Angki juga mengikuti kelas menulis di Komunitas Anak Penulis Sumba yang juga menjadi bagian dari Program Sponsorship.
Belajar Bersama, Berkembang Bersama
Kini Riko sudah kelas 1 SMA. Sejak SD-SMP dia selalu mendapat juara 1 umum. Ia ikut berbagai lomba pidato Bahasa Inggris, debat, dan berpidato. Dia tahu kemampuannya melebihi yang lain. Namun satu yang ia petik selama mengikuti program Save the Children adalah berbagi. Baginya, tak ada guna jika kemampuan diri tak dibagikan kepada yang lain.
“Jangan kita lihat, teman yang tidak bisa, kita tinggalkan. Seharusnya kita mengajak mereka untuk belajar sama-sama agar kita semua bisa,” ujar Angki.
Angki hanya ingin keberadaan mereka bisa membuat Sumba, daerah kelahirannya tak lagi dipandang sebelah mata.
Kisah Angki jadi refleksi mendalam bahwa anak dapat tumbuh optimal dalam lingkungan yang berpihak pada anak. Kehadiran program dari Save the Children dan Perkumpulan Stimulant Institute membantu meningkatkan kualitas tumbuh kembang dengan menciptakan pendidikan yang ramah, aman, dan jauh dari kekerasan pada anak.
“Contoh pohon kayu. Dari kecil, kalau dia bengkok, kalau kita berusaha kasih lurus, pelan-pelan pasti dia akan lurus. Sama juga kayak anak, kalau dari kecil kita tanamkan yang baik, otomatis akan tertanam sejak kecil hal-hal baik juga,” ucap Paulina.