Cerita Perubahan

Menyembuhkan Luka yang Tak Terlihat: Kisah Anak-Anak Ruteng Pascagempa Flores

Marco* dan Didi* adalah dua dari sekian banyak anak yang harus menghadapi dampak gempa bumi di Flores. Saat guncangan terjadi, Marco yang terbangun dari tidurnya sempat lari ke luar rumah, namun ia memilih kembali ke dalam untuk menyelamatkan adiknya hingga terjatuh dan sempat mengalami luka memar di bagian dada serta pinggang.

Sementara di tempat lain, Didi sedang sarapan bersama ayahnya ketika gempa menghantam. Ia lantas segera berlari membangunkan ibu dan adiknya yang masih terlelap lalu sama-sama bergegas menyelamatkan diri ke luar rumah.

Gempa yang terjadi secara tiba-tiba tersebut menyisakan guncangan psikologis bagi Marco, Didi, dan keluarganya. Hingga hari ini, Marco dan keluarganya memilih tidur di halaman meski rumahnya masih berdiri kokoh. Sementara Didi dan keluarganya memilih tidur di ruang tamu. Mereka masih sama-sama takut akan gempa susulan yang masih sering terjadi.

Rasa takut yang membayangi anak-anak seperti Marco dan Didi ini perlahan terurai melalui kegiatan Dukungan Psikososial yang diinisiasi oleh Save the Children Indonesia di Ruteng. Kegiatan ini dirancang secara inklusif dengan menggabungkan anak-anak non-disabilitas dengan disabilitas dalam satu wadah interaksi. Tujuannya adalah untuk membangun empati dan memastikan kelompok rentan mendapat pendampingan pemulihan psikologis yang setara.

Proses pemulihan ini terasa makin hangat berkat hadirnya Roby* dan Nana* sebagai fasilitator. Sama seperti Marco dan Didi, mereka juga merupakan penyintas gempa Flores. Lewat permainan dan dialog interaktif, kehadiran Roby dan Nana berhasil menghadirkan rasa aman hingga perlahan memulihkan keberanian Marco.

“Pas pertama ketemu om Roby dan kak Nana, rasa nyamannya langsung keluar. Rasa takut berubah jadi berani… tidak takut lagi sama gempa dan sudah berani masuk ke rumah. Om Roby dan kak Nana selalu kasih dukungan buat anak-anak yang masih takut karena gempa ini,” ungkap Marco.

Proses pemulihan psikologis setiap anak memiliki dinamika dan kecepatannya masing-masing. Berbeda dengan Marco yang sudah mulai berani masuk ke dalam rumah, Didi masih belum bisa benar-benar beranjak dari ketakutannya akan gempa susulan. Ketika ditanya mengenai perasaannya saat ini, Didi secara jujur mengaku bahwa ia masih takut. “Masih tetap khawatir,” ungkap Didi singkat.

Meski rasa cemas belum sepenuhnya reda, ruang interaksi inklusif yang dihadirkan dalam kegiatan Dukungan Psikososial ini diharapkan dapat menjadi wadah yang aman bagi anak-anak seperti Didi untuk dapat memulihkan kondisi psikologisnya. Di akhir sesi Dukungan Psikososial, Didi menyampaikan harapan sederhananya. “Semoga jangan ada gempa lagi dan kita bisa beraktivitas seperti biasa lagi tanpa rasa takut,” ungkap Didi.

*Nama disamarkan untuk perlindungan.

Scroll to Top