Cerita Perubahan

Bijak Berselancar di Dunia Maya: Kisah Alya*

Alya* tahu cara membuat video iklan dari tutorial di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Ia juga fasih bermain gim daring populer seperti Free Fire, Zepeto, dan Roblox. Namun di usia 14 tahun, ia belum tahu bahwa akun media sosialnya, yang terbuka untuk publik dan sering memuat informasi pribadi, bisa menjadi celah serius dalam perlindungan digitalnya.

Alya bukanlah pengecualian. Ia adalah gambaran jutaan remaja Indonesia yang tumbuh bersama gawai dan internet, tetapi belum tentu paham cara melindungi diri dalam interaksi di dunia digital sehari-hari.

Save the Children menjawab tantangan ini melalui Program First Click yang dikembangkan bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Program dua tahun ini dirancang untuk membekali anak-anak dengan kompetensi digital yang aman dan bertanggung jawab. Modulnya mencakup perlindungan digital, pengasuhan di era digital, hingga kebijakan keselamatan anak. Anak-anak juga dilibatkan langsung dalam penyusunannya, termasuk melalui Digital Youth Council (DYC). DYC adalah kelompok remaja dan orang muda bentukan Save the Children untuk advokasi perlindungan digital.

Jebakan Tak Terlihat di Dunia Digital

Sebelum mengenal Program First Click, Alya kerap menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar ponsel atau tablet tanpa batasan waktu maupun pemahaman kompetensi digital yang memadai. Keterbatasan pengetahuan ini membuatnya melakukan beberapa kekeliruan yang umum terjadi di kalangan remaja.

Alya dulu terbiasa membagikan berbagai informasi pribadi secara bebas tanpa menyadari risiko besar yang mengintai di balik media sosial. Ia juga mengabaikan keamanan mendasar, seperti penggunaan kata sandi yang lemah dan membiarkan akun media sosialnya terbuka untuk publik.

“Sebelumnya Alya menggunakan media sosial secara kurang tepat. Ia membuat akun palsu dan terlalu banyak membagikan konten pribadi,” ungkap Dahlia, salah seorang fasilitator Program First Click.

Langkah Baru bersama Program First Click

Titik balik bagi Alya tiba saat ia mengikuti sesi kompetensi digital dalam Program First Click. Melalui pendekatan yang interaktif, menyenangkan, dan relevan, ia dan kawan-kawannya belajar bagaimana menjadi lebih sigap dalam menghadapi dunia digital beserta segala kebaikan dan ancamannya

Bagi Alya, materi perlindungan digital menjadi bagian paling berkesan dan bermakna. Sesi dikemas melalui permainan, simulasi peran (role-playing), dan diskusi kelompok. Pendekatan itu membuka matanya mengenai dampak jangka panjang dari setiap jejak digital yang ditinggalkan. Dari sana, kesadaran Alya untuk menjaga privasi sebagai bentuk proteksi diri mulai tumbuh kokoh.

“Materi perlindungan digital adalah yang paling berkesan bagi saya karena isinya sangat relevan dengan situasi dan risiko digital saat ini,” ungkap Alya.

Menjadi Agen Perubahan untuk Sesama

Perubahan yang dialami Alya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Kini, ia telah mengambil peran sebagai pelindung dalam lingkaran pertemanan. Ia mengingatkan teman-temannya untuk menggunakan media sosial secara bijak, penuh empati, serta selalu menjaga kerahasiaan identitas pribadi. Ia merasa bangga karena ilmu yang didapatnya bisa bermanfaat bagi orang lain.

Dampak positif juga dirasakan langsung di lingkungan sekolahnya. Remaja-remaja di sekitarnya mulai menunjukkan kepekaan sosial yang lebih tinggi di dunia maya.

Rani, seorang fasilitator lain untuk Program First Click, menceritakan perubahan paradigma dan perilaku anak-anak setelah pelatihan.

“Mereka kini menjadi lebih sensitif dan mampu membedakan candaan dan perundungan siber (cyberbullying),” ungkap Rani. “Contohnya, membagikan foto memalukan sebagai lelucon mungkin tidak diterima dengan baik. Mereka sekarang paham bahwa teman mereka mungkin tidak menyukai perilaku seperti itu.”

Perubahan perilaku Alya juga dirasakan di rumah. Sekarang, setiap kali keluarganya hendak mengunggah foto ke media sosial, Alya yang mengingatkan untuk berhati-hati. Bagi ibunya, ini adalah tanda bahwa sesuatu yang nyata sudah berubah. Alya tidak hanya menjadi lebih percaya diri, tetapi juga siap melangkah sebagai generasi digital yang cerdas dan bijak.

“Program pelatihan kompetensi digital ini harus diimplementasikan pada skala yang lebih luas agar lebih banyak anak yang dapat merasakan manfaatnya,” harap Alya.

*Identitas anak disamarkan untuk melindungi data pribadi anak.

Scroll to Top