Memastikan setiap anak mendapatkan hak atas akses pendidikan berkualitas di lingkungan aman masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Hal itu diungkapkan oleh para Child Campaigner Save Our Education wilayah Yogyakarta berdasarkan survei yang mereka lakukan tentang bantuan kuota paket internet dari pemerintah. Menurut hasil survei tersebut, 44 dari 105 responden anak menyampaikan bahwa mereka belum pernah mendapatkan kuota gratis, baik dari pemerintah maupun sekolah.
“Hasil survei kami menemukan bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan kuota gratis ini, salah satu alasannya, karena tidak terdata, padahal secara faktor ekonomi mereka sangat membutuhkan. Banyak anak yang merasa sedih, kecewa, bahkan merasa ini tidak adil,” ungkap Gya (17), koordinator Child Campaigner Save our Education di Yogyakarta.
Memperingati Hari Literasi Internasional pada 8 September 2021, Save the Children Indonesia bersama Child Campaigner Save Our Education dan beberapa komunitas penggiat pendidikan anak di Yogyakarta, seperti Komunitas Anak Lentera, Komunitas Lereng Merapi, Komunitas Sekolah Marjinal, Komunitas Indriyanati, dan Forum Anak DIY, menyuarakan hak pendidikan anak melalui gerakan Save Our Education. Gerakan ini bertujuan untuk memastikan setiap anak mendapatkan akses terhadap pendidikan berkualitas dalam lingkungan yang aman.
Child Campaigner dan komunitas-komunitas ini menyelenggarakan lokakarya konsultasi anak untuk merumuskan masalah yang dihadapi anak-anak Yogyakarta yang tinggal di wilayah urban dan rural. Dari hasil konsultasi tersebut, diketahui bagaimana anak-anak yang tinggal di wilayah rural, tepatnya di lereng Merapi, tidak hanya terkendala jaringan internet, tetapi juga komunikasi dengan guru mereka jika mereka menemui pertanyaan-pertanyaan sulit terkait mata pelajaran.

(Foto: Purba Wirastama / Save the Children)
Perwakilan anak dari daerah urban menemukan hal yang juga lebih penting, yaitu akses anak-anak marjinal dalam mendapatkan pendidikan formal. Salah satu peserta konsultasi anak mengaku dirinya dan beberapa teman belum memiliki kartu identitas seperti kartu keluarga, sehingga kesulitan mengakses pendidikan formal.
Berikutnya, para anggota Child Campaigner bersama perwakilan komunitas yang terlibat bertemu Dinas Pendidikan Provinsi DI Yogyakarta untuk menyampaikan secara langsung hasil survei dan konsultasi anak. Tidak hanya itu, agenda Save Our Education juga dilanjutkan dengan menyuarakan hak pendidikan anak melalui dua stasiun radio siaran besar di Yogyakarta, Swaragama FM & Geronimo FM, serta kanal televisi lokal Jogja TV.
“Setiap anak pasti berharap mendapat pendidikan yang berkualitas, mulai dari mutu pembelajaran yang lebih baik, mudah dipahami, dan tentunya kuota internet yang cukup untuk belajar. Kami berharap pemerintah dan sekolah dapat mendata dan mengecek kembali anak-anak yang selama satu tahun ini tidak mendapat kuota gratis karena semua anak tanpa terkecuali berhak untuk bisa belajar,” tegas Gya.
Dalam kampanye Save Our Education di Yogyakarta, kita bersama-sama melihat bahwa persoalan akses pendidikan masih dapat ditemui di kota-kota besar, bahkan di sebuah kota yang dijuluki sebagai Kota Pelajar. •