Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di sejumlah wilayah Indonesia menurunkan kualitas udara dan menghasilkan kabut asap. Kabut asap terbawa hingga jauh dari lokasi kebakaran dan berdampak pada kesehatan mahkluk hidup, termasuk manusia dan terutama anak-anak. Apa saja dampak buruknya dan bagaimana kita bisa melindungi diri dan anak-anak?
Dampak Buruk Kabut Asap Karhutla
Asap karhutla mengandung partikel halus (PM2,5), karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun yang dapat menyebabkan batuk, iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, sesak nafas, serta memperburuk asma atau penyakit pernapasan lain. Anak-anak lebih rentan terhadap dampak polusi udara karena paru-parunya masih berkembang dan mereka menghirup lebih banyak udara dibandingkan orang dewasa jika dihitung berdasarkan berat badan.
Dampaknya tidak terbatas pada kesehatan fisik, tetapi juga pada pembatasan aktivitas anak di luar ruangan. Anak-anak kehilangan ruang aman untuk bermain, berinteraksi, dan belajar. Sebagian anak juga merasa takut, cemas, atau tidak nyaman.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dalam Konferensi Pers Perkembangan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia pada 14 Oktober 2026, tercatat 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di tujuh provinsi terdampak sepanjang 18 Agustus hingga13 Oktober 2026. Pada 13 Oktober 2026 saja, dilaporkan 3.897 kasus ISPA. Dari jumlah kumulatif tersebut, sebanyak 63.711 kasus (sekitar 22,5%) terjadi pada anak usia 0-5 tahun. Hingga 12 Oktober 2026, kebakaran telah melanda sekitar 130 ribu hektare di enam provinsi prioritas penanganan karhutla.
Luasnya wilayah yang terbakar dan tingginya jumlah kasus ISPA menunjukkan pentingnya upaya perlindungan kesehatan, terutama bagi anak-anak yang termasuk kelompok rentan terhadap dampak paparan asap.
5 Langkah Melindungi Anak dari Paparan Kabut Asap Karhutla
Saat kabut asap memburuk, orang tua dapat melakukan lima langkah berikut untuk mengurangi paparan asap pada anak, berdasarkan Fact Sheet: Wildfires yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO) pada 31 Juli 2026.Â
- 1. Ikuti arahan dari otoritas setempat
- 2. Batasi dan pindahkan aktivitas di luar ruanganÂ
- 3. Lindungi kualitas udara di dalam rumah
- 4. Gunakan masker yang pas jika anak harus keluar rumah
- 5. Kenali tanda bahaya dan siapkan rencana evakuasi
Pantau informasi dan imbauan dari pemerintah daerah serta otoritas terkait, termasuk Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD), dinas kesehatan, sekolah, dan aparat desa atau kelurahan mengenai langkah perlindungan yang perlu dilakukan. Pantau kualitas udara melalui situs atau aplikasi resmi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di https://ispu.kemenlh.go.id/app/#/.
Perhatikan: Jika kualitas udara masuk kategori Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, atau Berbahaya, kurangi kegiatan anak di luar rumah. Bayi, anak-anak, ibu hamil, serta orang dengan asma atau penyakit kronis perlu mendapat perlindungan lebih ketat.
Usahakan anak-anak berada di dalam ruangan sebanyak mungkin untuk meminimalkan paparan asap. Batasi olahraga atau permainan yang menguras tenaga saat kualitas udara sedang buruk. Ketika anak banyak bergerak, napasnya menjadi lebih cepat dan dalam. Akibatnya semakin banyak polutan yang terhirup.
Untuk mengurangi paparan asap di dalam rumah, orang tua dapat melakukan beberapa langkah sederhana:
- Tutup pintu dan jendela saat asap di luar memburuk dan pastikan lubang udara tertutup rapat dengan plastik
- Gunakan AC dalam mode resirkulasi jika tersedia.
- Hindari membakar obat nyamuk, lilin atau dupa, merokok serta aktivitas lain yang menambah partikel di udara, termasuk membakar makanan atau menggoreng.
- Bersihkan lantai dan permukaan dengan kain atau pel lembap agar debu tidak beterbangan.
- Jika udara di dalam rumah tetap buruk atau suhu terlalu panas, cari tempat yang lebih nyaman dengan kualitas udara lebih baik.
- Gunakan alat pembersih udara dengan filter HEPA, bila tersedia, untuk membantu mengurangi debu, alergen, dan partikel halus dari asap di dalam ruangan.
Sebisa mungkin, anak tetap berada di dalam ruangan ketika udara berasap. Jika anak usia 2 tahun atau lebih harus keluar rumah, gunakan masker N95 atau respirator sejenis dengan ukuran yang pas menutupi mulut serta hidung dan menempel rapat di wajah. Jangan gunakan masker pada anak di bawah usia 2 tahun. Masker kain, masker bedah, masker debu, masker yang longgar, bandana dan kain basah tidak memberikan perlindungan yang maksimal terhadap partikel halus asap.
Perhatikan: Segera lepaskan masker dan cari bantuan jika anak kesulitan bernafas, merasa pusing, atau tidak mampu memakai masker dengan aman.
Segera cari bantuan medis bila anak menunjukkan gejala seperti batuk terus-menerus, sesak nafas, nyeri dada, pusing, sangat mengantuk, lemas, bingung, atau sulit dibangunkan, tidak mau atau tidak mampu makan dan minum, memiliki gejala yang memburuk atau tidak membaik setelah dijauhkan dari asap. Jika memiliki anak dengan asma atau gangguan pernafasan kronis, pertimbangkan untuk membawa mereka ke tempat dengan kualitas udara yang lebih baik, apabila memungkinkan dan aman.
Bantu Anak Merasa Aman
Kabut asap, kebakaran, atau proses mengungsi dapat membuat anak merasa takut atau cemas. Dengarkan cerita dan pertanyaan anak, lalu jelaskan keadaan dengan bahasa sederhana sesuai usianya. Yakinkan bahwa orang dewasa sedang berusaha menjaga mereka tetap aman. Pertahankan rutinitas makan dan tidur, serta sediakan kegiatan bermain dan belajar yang aman di dalam ruangan. Cari bantuan tenaga kesehatan jika kecemasan, kesulitan tidur, atau perubahan perilaku anak tidak kunjung membaik dan mengganggu kegiatan sehari-hari.
Melindungi Kesehatan Anak adalah Prioritas Bersama
Perlindungan anak dari dampak kabut asap membutuhkan upaya bersama dari keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan berbagai pihak terkait. Selain memastikan akses terhadap informasi dan layanan kesehatan, diperlukan dukungan yang memadai bagi keluarga di wilayah terdampak agar anak-anak tetap terlindungi di tengah kondisi yang memburuk.
Di tengah situasi karhutla, keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas. Memastikan anak tetap aman, sehat, dan dapat memenuhi kebutuhan dasarnya merupakan tanggung jawab bersama.
Mari bersama bantu anak-anak terdampak karhutla melalui halaman penggalangan dana ini.Â
