Cerita Perubahan

Harapan Din* Kembali Tumbuh Pascabencana Banjir Aceh

“Ma.. Ma.., kok basah ini tilamnya (kasur)?”

Din* terbangun dari tidurnya di tengah malam. Kejadian ini menjadi awal dari pengalaman yang mengubah hidup keluarganya. Air yang awalnya mereka kira hanya rembesan hujan, ternyata terus naik dengan cepat hingga memenuhi rumah mereka di Aceh.

Saat air mencapai lutut dan terus meninggi, ibu Din*, Yanti (42), segera membawa keempat anaknya keluar dari rumah untuk mencari tempat yang lebih aman. Tanpa sempat membawa barang apa pun, mereka berjalan menuju sebuah pom bensin di dataran yang lebih tinggi.

“Semakin lama air semakin naik. Biasanya di banjir 2006, SPBU itu tidak kena (banjir). ‘Ayolah nak jalan ke sana kita’. Berjalanlah kami ke sana,” kata Yanti.

Di tempat pengungsian darurat itu, air bahkan sempat mencapai pinggang orang dewasa dan arusnya cukup kuat. Dengan hanya pakaian yang melekat di tubuh, keluarga ini bertahan bersama banyak orang lain yang juga mencari perlindungan.

“Saya menenangkan mereka. Saya bilang, yang penting kan ada Mama di sini,” ujar Yanti.

Beberapa hari kemudian, ayah mereka berhasil menemukan keluarga tersebut dan membawa makanan pertama bagi anak-anaknya setelah berhari-hari bertahan tanpa persediaan.

Namun ketika air surut dan mereka kembali melihat rumahnya, kenyataan pahit menanti: rumah mereka sudah hilang tersapu banjir.

“Cuma anak-anak inilah yang saya angkat waktu banjir, harta tak ada yang sempat kami selamatkan,” kenang Yanti.

Saling Menguatkan dan Memulai Semuanya dari Nol

Yanti menceritakan ayahnya anak-anak merasa bersyukur anak-anak dan istrinya berkumpul dan dalam keadaan sehat, meskipun rumah dan harta mereka sudah tidak tersisa.

Kini keluarga beranggotakan enam orang itu tinggal di sebuah tenda pengungsian. Mereka hanya memiliki satu tikar untuk tidur tanpa kasur.

“Anak-anak ingin tempat tidur yang nyaman. Mereka bilang, ‘Bu, tidak ada tilamnya?,’” kata Yanti.

Meski kebutuhan dasar masih terbatas, Yanti tetap memegang satu hal yang menurutnya sangat penting: pendidikan anak-anaknya.

“Sekolah itu yang penting, supaya ke depannya anak-anak kami maju. Tidak boleh putus sekolah ‘Keinginan mamak tu kalian tinggi sekolahnya, ya nak’”

Bagi Din* sendiri, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Di sana ia bisa bertemu teman-teman dan mengejar cita-citanya.

“Cita-cita kami ingin menjadi dokter untuk bisa mengobati seluruh masyarakat,” katanya.

Namun banjir telah menyapu hampir semua yang mereka miliki, termasuk buku dan perlengkapan sekolah.

Kembali Tersenyum Melalui Ruang Aman Anak

Untuk membantu anak-anak yang terdampak banjir pulih secara emosional dan kembali belajar, Save the Children menghadirkan Ruang Ramah Anak di area pengungsian.

Di tempat ini, anak-anak dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti menggambar, bermain, hingga menonton pertunjukan boneka.

“Menurut kami kegiatan ini penting untuk mengisi waktu luang untuk anak-anak agar tidak bosan,” ucap Din*.

Kegiatan sederhana itu ternyata membawa perubahan besar bagi anak-anak.

Selain kegiatan psikososial, Save the Children juga memberikan back-to-school kit kepada anak-anak yang kehilangan perlengkapan belajar mereka akibat banjir. Paket tersebut berisi buku tulis, pensil, penghapus, penggaris, hingga tas sekolah.

Keluarga ini juga menerima hygiene kit berisi sabun, pasta gigi, handuk, dan perlengkapan kebersihan lainnya yang membantu mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari di pengungsian.

Harapan Yanti untuk Pemulihan Pascabencana

Bagi Yanti, melihat anak-anaknya kembali ceria adalah hal yang sangat berarti setelah masa-masa sulit yang mereka lalui.

“Alhamdulillah sekarang anak-anak ceria, senang, gembira mereka,” katanya. “’Mak di sana lucu lho mak, ada boneka bisa ngomong. Kakak juga dapat tas sekolah mak, kakak bisa sekolah lagi,” kenang Yanti menceritakan Din* sepulang dari kegiatan di Ruang Ramah Anak.

Meski masih tinggal di tenda dan belum tahu kapan mereka bisa memiliki rumah kembali, keluarga ini tetap menyimpan harapan.

“Kami berharap hunian nanti lokasinya dekat dengan sekolah anak-anak,” kata Yanti.

Sementara bagi Yanti, satu hal yang paling penting tetap sama seperti sejak awal bencana terjadi: memastikan anak-anaknya bisa terus belajar dan mengejar mimpi mereka.

Scroll to Top