Fahma, seorang remaja 15 tahun di Jakarta, adalah peserta Program Coaching for Life yang dijalankan oleh Save the Children dengan dukungan Arsenal Foundation. Dia bergabung dengan program ini pada awal tahun 2021 saat situasi pandemi COVID-19 belum membaik. Jadi, hampir seluruh kegiatan program dilakukan secara daring (online). Fahma menceritakan bagaimana kegiatan program daring ini bermanfaat baginya. Salah satunya adalah soal mengelola stres.
“Sangat bermanfaat buatku karena sekarang aku merasa lebih rileks menghadapi tugas-tugas sekolah,” ungkapnya.
Sedikit cerita tentang Fahma. Fahma adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saat ini, dia bersekolah di sebuah SMK jurusan akuntansi. Dia menyukai ilmu hitung sejak SMP dan sudah sejak lama ingin belajar akuntansi. Selain itu, dia juga suka bermain sepak bola.
Sejak usia 5 tahun, ketika teman-temannya bermain dengan boneka, Fahma memilih bermain sepak bola. Sampai saat ini, dia masih sering bermain sepak bola dengan teman-teman di lingkungan sekitar. Sebelum pandemi, dia juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) sepak bola di sekolah. Selain itu, dia juga suka menari. Saat SMP, Fahma suka mengikuti kompetisi tari Betawi.
Fahma pertama kali mengetahui Program Coaching for Life dari ibunya. Ibunya, seorang kader Posyandu, mendapatkan informasi tentang program ini dari kader lain. Sang ibu mendorong Fahma untuk ikut kegiatan ini karena dapat menjadi kesempatan baginya mengembangkan kemampuan dalam sepak bola.
Dia lantas mendengar lebih lanjut tentang Coaching for Life dari seorang kawan yang adalah lulusan program ini dari periode sebelumnya. Kawannya bercerita bahwa program sepak bola ini berbeda dengan program sepak bola lain. Dia diberitahu bahwa mereka tidak hanya belajar tentang sepak bola, tetapi juga membahas berbagai materi menarik bersama para pelatih yang keren dan menyenangkan. Setelah mengetahui lebih lanjut tentang program, Fahma tertarik untuk bergabung.

Fahma benar-benar ingin mengembangkan ketrampilan dia dalam sepak bola melalui program ini. Sayangnya, ketika dia mendaftarkan diri, situasi pandemi masih belum membaik dan kegiatan-kegiatan harus dilakukan secara daring.
Awalnya, Fahma sedih karena dia berharap dapat bermain di lapangan RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak – komplek terbuka di area pemukiman Jakarta tempat kegiatan Coaching for Life biasanya dilakukan). Dia berharap dapat bertemu tatap muka dengan kawan-kawan dan para pelatih. Namun, untuk sementara semua kegiatan hanya dilakukan di rumah saja. Anak-anak peserta mendengarkan materi dari para pelatih melalui pertemuan daring di laptop atau gawai.
Dia berusaha menerima situasi ini dan masih ingin mengikuti kegiatan, meskipun itu dilakukan daring. Dia berharap mendapatkan pengetahuan dan menemukan banyak pengalaman baru yang belum pernah dia temukan.
Pelajaran untuk kehidupan sehari-hari
Fahma bercerita bahwa setelah mengikuti kegiatan daring, dia menyukai materi-materi dari para pelatih karena mudah dipahami. Baginya, cara Coach Lingga dan Coach Putri memberi materi keren dan menyenangkan. Selain itu, ada juga kuis dan permainan menyenangkan. Jadi, meskipun sesinya diadakan daring, masih asyik untuk diikuti, katanya.
Sesi-sesi yang paling dia sukai adalah tentang pengambilan keputusan, mengelola emosi, dan empati. Dia berkata bahwa materi-materi ini berguna untuk hidupnya sehari-hari. Fahma teringat salah satu materi tentang metode pengambilan keputusan. Pertama, mereka harus menentukan masalah, kemudian mencari jalan alternatif.
Fahma membagikan satu pengalaman saat dia menggunakan metode ini. Suatu ketika di sekolah, dia bingung mana ekstrakurikuler yang harus dipilih, menari atau basket. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil kegiatan menari. Alasannya, jadwal kegiatan ekskul menari tidak bertabrakan dengan jadwal kelas utamanya. Dia juga sudah suka menari sejak SMP.
Materi lain yang dia suka adalah relaksasi. Materi relaksasi sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari, katanya. Sebagai contoh, ketika dia merasa pusing dan capek saat mengerjakan tugas-tugas sulit, dia mengambil waktu untuk rileks terlebih dulu sehingga dia tidak merasa tertekan untuk mengerjakan tugas-tugas.
Fahma berkata bahwa dia mengalami perubahan positif setelah bergabung dengan program ini.
“Sebelumnya, aku tak tahu cara mengelola emosi dan menghadapi stres. Meski begitu, setelah menerima materi dari pelatih tentang mengatasi stres, aku tahu cara menghadapi stres, terutama ketika aku harus mengerjakan tugas sekolah yang sulit. Ini sangat berguna buatku karena sekarang aku merasa lebih rileks menghadapi tugas-tugas sekolah,” ungkap Fahma.
Fahma memberi masukan tentang materi. Menurutnya, jika memungkinkan, sesi pelatihan daring ini bisa ditambahkan dengan video-video menarik yang berhubungan dengan materi sehingga sesinya semakin bervariasi dan semakin mudah dipahami oleh peserta.
Setelah menyelesaikan kegiatan ini, Fahma ingin mengajak kawan-kawannya yang belum ikut untuk bergabung. Dia akan menjelaskan kepada mereka bahwa kegiatan-kegiatan program ini akan berguna.
Fahma punya pesan untuk para peserta baru dalam periode berikutnya. Dia berharap para peserta baru bisa tetap antusias walaupun sesinya diadakan secara daring karena materi-materinya mudah dipahami. Baginya, para pelatih juga menyenangkan karena memberi banyak contoh dari kehidupan sehari-hari.
“Menurutku, program ini juga dapat membantu mencegah tindakan kekerasan terhadap anak-anak karena kita diajari untuk berempati satu sama lain, mengelola emosi, dan berkomunikasi dengan baik,” tutur Fahma.