Dari Kegiatan Sukarela, Deddy Loaloka Berkelana di Lembaga Non-Pemerintah

Cerita Penggerak

Kegiatan sukarela bersama teman-teman gereja menjadi awal kepedulian Deddy Loaloka terhadap dunia sosial. Kala itu, daerah tempat tinggal Deddy masih ramai konflik sehingga banyak aktivitas dari organisasi sosial yang membutuhkan uluran tangan. Komunitas yang Deddy ikuti di gereja turut membantu para warga penyintas untuk kembali ke daerah asal mereka.

Usai kegiatan sukarela tersebut, cakrawala Deddy tentang lembaga sosial mulai terbuka. Ia bertemu dengan banyak pekerja sosial selama menjadi relawan. Tidak sulit bagi Deddy untuk mengakrabkan diri karena ia ramah dan mudah bergaul.

Siapa sangka, koneksi yang ia dapatkan membawanya masuk ke dunia penyiaran yang dulu pernah ia impikan. Deddy mendapatkan tawaran untuk menjadi penyiar di salah satu radio komunitas.

“Dulu, aku pernah masuk ke kantor radio. Aku suka sekali dengan kantor itu dan masih ingat betul. Di depan kantor itu, aku bertekad, suatu saat aku akan kembali lagi ke sini,” kenang Deddy.

Satu Hari, Empat Pekerjaan Berbeda

Nyatanya, ia betul-betul kembali ke kantor stasiun radio itu. Deddy menerima tawaran tersebut dan mengikuti pelatihan siaran off air. Ia belajar menulis naskah, melakukan siaran dengan rekaman dan swakoreksi. Setelah pelatihan usai, pihak radio meminta Deddy menunggu kabar selanjutnya.

Namun sayang, kabar itu tidak kunjung datang sampai Deddy mendapatkan tawaran baru di stasiun radio komunitas lain. Ia langsung mengiyakan ajakan tersebut dan secara resmi memulai peran di dunia penyiaran.

Selama tiga tahun, suara Deddy mengudara lewat radio komunitas. Selain menjadi penyiar, ia juga menjalani tiga pekerjaan lain sekaligus.

“Aku sempat dulu ada empat pekerjaan sekaligus. Pagi di kantor asuransi, sore ke radio, malam jaga warnet dan mengurus bengkel kalau ada yang butuh,” ungkap Deddy.

Berbekal pengalaman di radio komunitas, Deddy mendapatkan tawaran untuk menjadi penyiar di sebuah stasiun radio yang baru dibangun oleh salah satu organisasi non-pemerintah lokal untuk sebuah program kerja sama dengan organisasi internasional. Ia menjadi technical officer untuk penyiaran dan bekerja dari Malaka, perbatasan Indonesia – Timor-Leste.

Sejak mendapatkan pekerjaan baru ini, koneksi Deddy dengan organisasi sosial semakin besar. Tidak hanya dekat lembaga lokal, Deddy juga bersahabat dengan kawan barunya di organisasi internasional, salah satunya Save the Children. Kala itu, tim Save the Children sedang menjalankan sebuah program di daerah tersebut dan Deddy kerap bertandang ke kantor mereka untuk sekadar mengobrol bersama kawan-kawan.

Bergabung dengan  Save the Children

Setelah sekian obrolan, Deddy merasa cocok dengan visi Save the Children. Deddy pun turut mengikuti seleksi lowongan pekerjaan ketika ada lowongan. Sayangnya, Deddy belum beruntung saat itu. Selepas kontrak penyiar selesai, ia kembali menjadi pekerja lepas dan melakukan kegiatan sukarela di sejumlah kegiatan sosial.

Sempat ada kejadian unik. Ketika ia akhirnya mendapatkan pekerjaan dari sebuah organisasi lain, tawaran pekerjaan lain dari Save the Children datang. Sayang seribu sayang, Deddy harus menolak tawaran tersebut.

Mungkin memang sudah jodoh. Ketika kontrak pekerjaan Deddy berakhir, tawaran dari Save the Children kembali datang. Akhirnya, Deddy berkunjung kembali ke kantor Save the Children sebagai staf, bukan lagi tamu harian. Dia bergabung dengan tim supply chain untuk mendukung pelaksanaan program dalam hal pengelolaan serta pengadaan barang dan jasa.

Kini, sudah delapan tahun sejak Deddy pertama kali bergabung dengan Save the Children untuk membentu pemenuhan hak-hak anak. Perjalanan karier dalam bidang supply chain berjalan bak arung jeram. Dari satu program ke program berikutnya, berpindah lokasi demi lokasi, beradaptasi dengan situasi baru. Selama periode itu di luar pekerjaan, dia juga mempelajari seluk beluk kopi.

“Mungkin, aku memang sudah mencintai pekerjaan ini dan kebetulan juga sudah dipercaya oleh beberapa manajer untuk meng-handle procurement. Jadi, sudah dalam benakku, bahwa proses procurement dan logistik supply chain ini sudah di luar kepala, karena aku juga sudah lama berkecimpung di bidang ini,” ungkap Deddy.

Ikut Belajar Hal Baru

Dari sekian program di Save the Children, ada satu yang menjadi kebanggaannya selama bertugas. Salah satu program membuat dia harus melakukan proses pengadaan barang secara impor. Bertahun-tahun melakukan proses pengadaan barang, baru kali ini ia bersinggungan dengan pihak bea dan cukai. Tidak hanya itu, barang-barang lain dari program ini juga membuat Deddy belajar lebih dalam tentang barang-barang terkait kesehatan dan laboratorium.

“Baru kali ini pengadaan barang rasanya kayak mulai belajar dari awal lagi. Proses impornya di bea dan cukai. Ada barang yang harus dikirim, tapi suhu di dalamnya harus terjaga. Jadi ikut belajar lagi, apalagi di bidang kesehatan dan sains kayak gini,” ujar Deddy sambil sesekali tertawa.

Sosok ayahnya adalah salah satu alasan yang membuat Deddy menyukai pekerjaan di bidang pengelolaan dan pengadaan barang. Ayahnya dulu bekerja sebagai salah satu staf pengadaan barang di institusi pemerintahan. Ia kerap mengajak Deddy yang masih kecil untuk ke kantor dan membantunya.

“Orang yang saya idolakan yaitu Papa saya. Saya belajar banyak dari beliau. Saya contoh perilaku beliau di keseharian saya,” pungkas Deddy. •

Teks: Justicia Maulida
Skip to content scroll to top button